alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Ternyata, Korban Hanyut Terseret Air Bah Saat Hendak Belajar Kelompok

SEJUMLAH fakta menyedihkan terungkap dari  hilangnya Ni Luh Wardani, 48, dan Ni Kadek Restini, 9, warga Kelurahan Banyuning yang hilang terseret air bah di Tukad Buleleng.

Jasad korban yang berstatus ibu dan anak itu hingga kini belum juga ditemukan. Selama ini mereka tinggal di bantaran Tukad Buleleng. Tepatnya di wilayah Lingkungan Banyuning Barat, Kelurahan Banyuning.

 

EKA PRASETYA, Buleleng

TIDAK ada akses jalan kendaraan untuk menjangkau lokasi itu. Hanya ada jalan setapak dari arah Jalan Gempol Gang Pulau Batam, maupun dari Lingkungan Kebon, Kelurahan Kampung Baru.

Pasangan suami istri Ni Luh Wardani dan Putu Mertayasa, tinggal di sana sejak mereka baru menikah.

“Saya asli dari Alasangker. Tapi sejak menikah, saya tinggal di sini. Karena ini saja ada tapak untuk membuat rumah dari orang tua,” kata Mertayasa saat ditemui di Kelurahan Banjar Jawa, kemarin.

Menurut Mertayasa mereka keluarga mereka memang biasa menyeberangi Tukad Buleleng untuk beraktivitas sehari-hari. Sebab itu akses terdekat mereka untuk mengakses jalan raya. Biasanya air yang mengalir di Tukad Buleleng hanya setinggi lutut orang dewasa saja.

Baca Juga:  Tiga Hari Tim SAR Obok-obok Pantai, Bule Amerika Ditemukan Segar Bugar

Namun bila terjadi air bah, Mertayasa dan keluarganya harus menempuh jalan memutar. Mereka harus berjalan kaki dulu menuju Lingkungan Kebon.

Selanjutnya mereka menaiki sepeda motor menuju Banjar Jawa. Sepeda motor mereka dititip di salah satu rumah warga setempat.

Mertayasa menceritakan, putrinya Kadek Restini pada Sabtu (15/1) menyeberang sungai untuk belajar kelompok.

Sebab teman-teman sekelasnya lebih banyak tinggal di seberang sungai. Sementara istrinya Ni Luh Wardani hendak pergi mengangkut sampah. Kebetulan gerobak sampah mereka ada di wilayah Banjar Jawa. Mereka pun menyeberang bersama.

Tak disangka saat menyeberang tiba-tiba muncul air bah dari hulu. Hingga membuat keduanya hanyut dan hilang hingga kini.

“Saya ingin sekali menyekolahkan anak yang tinggi. Paling tidak lulus SMA. Sekarang ada kejadian begini. Dia itu mau belajar kelompok. Istri saya mau kerja,” ujar Mertayasa seraya menyeka air mata.

Sementara itu warga setempat, Gusti Putu Alit menuturkan, keluarga Mertayasa dan Luh Wardani terbilang ulet. Mereka memelihara berbagai ternak. Keluarga itu juga kerap bercengkerama dengan warga sekitar. Baik itu warga di Lingkungan Kalibaru Kelurahan Banjar Jawa, maupun di Lingkungan Buitan Kelurahan Banjar Bali.

Baca Juga:  Nihil Hasil, Tim SAR Hentikan Pencarian Pemancing Hilang

Menurutnya hampir tiap sore ia akan bertemu dengan Wardani. “Biasanya memang dia yang angkut sampah di lingkungan sekitar sini.

Orangnya rajin sekali pak. Sering dia mondar mandir nyeberang sungai, karena memang lebih dekat rumahnya kalau nyeberang sungai. Makanya tidak menyangka sekali ada kejadian begini,” kata Alit.

Seperti diberitakan sebelumnya, ibu dan anak hilang saat menyeberangi Tukad Buleleng, pada Sabtu (15/1) siang lalu. Mereka hilang sekitar pukul 14.30 siang.

Diduga saat menyeberang mereka dihantam air bah. Keduanya dilaporkan sempat terlihat di muara Tukad Buleleng, tepatnya di kawasan Eks Pelabuhan Buleleng.

Tim SAR pun melakukan pencarian. Hingga hari ketiga kemarin, hasilnya masih nihil. Rencananya tim akan melanjutkan pencarian hingga Jumat (21/1) mendatang. 


SEJUMLAH fakta menyedihkan terungkap dari  hilangnya Ni Luh Wardani, 48, dan Ni Kadek Restini, 9, warga Kelurahan Banyuning yang hilang terseret air bah di Tukad Buleleng.

Jasad korban yang berstatus ibu dan anak itu hingga kini belum juga ditemukan. Selama ini mereka tinggal di bantaran Tukad Buleleng. Tepatnya di wilayah Lingkungan Banyuning Barat, Kelurahan Banyuning.

 

EKA PRASETYA, Buleleng

TIDAK ada akses jalan kendaraan untuk menjangkau lokasi itu. Hanya ada jalan setapak dari arah Jalan Gempol Gang Pulau Batam, maupun dari Lingkungan Kebon, Kelurahan Kampung Baru.

Pasangan suami istri Ni Luh Wardani dan Putu Mertayasa, tinggal di sana sejak mereka baru menikah.

“Saya asli dari Alasangker. Tapi sejak menikah, saya tinggal di sini. Karena ini saja ada tapak untuk membuat rumah dari orang tua,” kata Mertayasa saat ditemui di Kelurahan Banjar Jawa, kemarin.

Menurut Mertayasa mereka keluarga mereka memang biasa menyeberangi Tukad Buleleng untuk beraktivitas sehari-hari. Sebab itu akses terdekat mereka untuk mengakses jalan raya. Biasanya air yang mengalir di Tukad Buleleng hanya setinggi lutut orang dewasa saja.

Baca Juga:  Nihil Hasil, Tim SAR Hentikan Pencarian Pemancing Hilang

Namun bila terjadi air bah, Mertayasa dan keluarganya harus menempuh jalan memutar. Mereka harus berjalan kaki dulu menuju Lingkungan Kebon.

Selanjutnya mereka menaiki sepeda motor menuju Banjar Jawa. Sepeda motor mereka dititip di salah satu rumah warga setempat.

Mertayasa menceritakan, putrinya Kadek Restini pada Sabtu (15/1) menyeberang sungai untuk belajar kelompok.

Sebab teman-teman sekelasnya lebih banyak tinggal di seberang sungai. Sementara istrinya Ni Luh Wardani hendak pergi mengangkut sampah. Kebetulan gerobak sampah mereka ada di wilayah Banjar Jawa. Mereka pun menyeberang bersama.

Tak disangka saat menyeberang tiba-tiba muncul air bah dari hulu. Hingga membuat keduanya hanyut dan hilang hingga kini.

“Saya ingin sekali menyekolahkan anak yang tinggi. Paling tidak lulus SMA. Sekarang ada kejadian begini. Dia itu mau belajar kelompok. Istri saya mau kerja,” ujar Mertayasa seraya menyeka air mata.

Sementara itu warga setempat, Gusti Putu Alit menuturkan, keluarga Mertayasa dan Luh Wardani terbilang ulet. Mereka memelihara berbagai ternak. Keluarga itu juga kerap bercengkerama dengan warga sekitar. Baik itu warga di Lingkungan Kalibaru Kelurahan Banjar Jawa, maupun di Lingkungan Buitan Kelurahan Banjar Bali.

Baca Juga:  Pura-pura Jadi Pemulung, Kuras Isi Vila di Kuta Utara, Sulhan Diciduk

Menurutnya hampir tiap sore ia akan bertemu dengan Wardani. “Biasanya memang dia yang angkut sampah di lingkungan sekitar sini.

Orangnya rajin sekali pak. Sering dia mondar mandir nyeberang sungai, karena memang lebih dekat rumahnya kalau nyeberang sungai. Makanya tidak menyangka sekali ada kejadian begini,” kata Alit.

Seperti diberitakan sebelumnya, ibu dan anak hilang saat menyeberangi Tukad Buleleng, pada Sabtu (15/1) siang lalu. Mereka hilang sekitar pukul 14.30 siang.

Diduga saat menyeberang mereka dihantam air bah. Keduanya dilaporkan sempat terlihat di muara Tukad Buleleng, tepatnya di kawasan Eks Pelabuhan Buleleng.

Tim SAR pun melakukan pencarian. Hingga hari ketiga kemarin, hasilnya masih nihil. Rencananya tim akan melanjutkan pencarian hingga Jumat (21/1) mendatang. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/