alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Fix! Laporan Kandas, Polisi Hentikan Kasus Anggota DPRD Bali Somvir

SINGARAJA– Kasus dugaan tindak pidana merekrut anak di bawah umur untuk kepentingan politik dengan terlapor anggota DPRD Bali Somvir akhirnya kandas.

Polisi memutuskan menerbitkan Surat Penetapan Penghentian Penyidikan (SP3).

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, penerbitan SP3 itu sudah dilakukan sejak sepekan lalu. Penyidik memutuskan melakukan SP3, karena laporan yang dilakukan oleh Made Sudiari selaku pelapor, tdinilai tidak memenuhi unsur-unsur pidana.

“Sudah SP-3 sekitar seminggu yang lalu,” ujar Kasubbag Humas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya saat ditemui di Mapolres Buleleng kemarin.

Menurut Sumarjaya, penyidik sudah melakukan pemeriksan secara intensif terhadap laporan yang dilayangkan.

Mulai dari bukti yang diajukan, saksi-saksi yang diduga mengetahui peristiwa tersebut, termasuk kesaksian dari pelapor. Namun dari hasil gelar perkara, kasus tersebut dianggap tidak memenuhi unsur pidana.

“Dari hasil penyelidikan kasus ini, tidak memenuhi unsur pidana. Sekitar seminggu lalu, sudah dilakukan gelar perkara yang dilakukan oleh penyidik dengan melibatkan pengawas penyidik, Subbag Hukum Polres Buleleng. Keputusannya proses penyidikan dihentikan,” jelasnya.

Apa saja unsur pidana yang tidak memenuhi? Sumarjaya menolak menjelaskannya. Sebab hal itu termasuk dalam materi penyidikan. Ia berpendapat hal itu termasuk dalam informasi yang dikecualikan.

“Yang pasti dalam kasus ini penyidik sudah melakukan secara prosedural sesuai ketentuan,” tegasnya.

Sementara itu pengacara dari Somvir, I Wayan Karta mengatakan, kasus tersebut sebenarnya bermula dari masalah sengketa pemilu.

Masalah itu semestinya diselesaikan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada masa Pemilu tahun 2019 lalu, bukan dilakukan pada kepolisian.

“Ini kasus lama, tahun 2019 sudah selesai. Awalnya, kasus ini sudah pernah dilaporkan ke Bawaslu Buleleng oleh LSM Forum Peduli Masyarakat Kecil (FMK) Buleleng.

Setelah digelar sidang, Somvir tidak terbukti melakukan pelanggaran tersebut. Bahkan sampai dilaporkan juga ke Bawaslu Provinsi Bali dan lagi-lagi tidak terbukti Dr.Somvir melakukan pelanggaran,” kata Karta yang juga Ketua Bantuan Hukum DPD Nasdem Bali itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Somvir diadukan ke polisi oleh Made Sudiari pada 10 Juli lalu. Ia menyebut anaknya yang berinisial Komang NS sempat diajak latihan yoga.

Namun saat kegiatan yoga itu, anaknya diminta mencoblos nama Somvir saat pemilihan. Selain itu anaknya sempat menjadi korban tabrak lari, setelah mengikuti kegiatan Somvir.

Sehingga anaknya mengalami depresi dan cemas. 



SINGARAJA– Kasus dugaan tindak pidana merekrut anak di bawah umur untuk kepentingan politik dengan terlapor anggota DPRD Bali Somvir akhirnya kandas.

Polisi memutuskan menerbitkan Surat Penetapan Penghentian Penyidikan (SP3).

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, penerbitan SP3 itu sudah dilakukan sejak sepekan lalu. Penyidik memutuskan melakukan SP3, karena laporan yang dilakukan oleh Made Sudiari selaku pelapor, tdinilai tidak memenuhi unsur-unsur pidana.

“Sudah SP-3 sekitar seminggu yang lalu,” ujar Kasubbag Humas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya saat ditemui di Mapolres Buleleng kemarin.

Menurut Sumarjaya, penyidik sudah melakukan pemeriksan secara intensif terhadap laporan yang dilayangkan.

Mulai dari bukti yang diajukan, saksi-saksi yang diduga mengetahui peristiwa tersebut, termasuk kesaksian dari pelapor. Namun dari hasil gelar perkara, kasus tersebut dianggap tidak memenuhi unsur pidana.

“Dari hasil penyelidikan kasus ini, tidak memenuhi unsur pidana. Sekitar seminggu lalu, sudah dilakukan gelar perkara yang dilakukan oleh penyidik dengan melibatkan pengawas penyidik, Subbag Hukum Polres Buleleng. Keputusannya proses penyidikan dihentikan,” jelasnya.

Apa saja unsur pidana yang tidak memenuhi? Sumarjaya menolak menjelaskannya. Sebab hal itu termasuk dalam materi penyidikan. Ia berpendapat hal itu termasuk dalam informasi yang dikecualikan.

“Yang pasti dalam kasus ini penyidik sudah melakukan secara prosedural sesuai ketentuan,” tegasnya.

Sementara itu pengacara dari Somvir, I Wayan Karta mengatakan, kasus tersebut sebenarnya bermula dari masalah sengketa pemilu.

Masalah itu semestinya diselesaikan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada masa Pemilu tahun 2019 lalu, bukan dilakukan pada kepolisian.

“Ini kasus lama, tahun 2019 sudah selesai. Awalnya, kasus ini sudah pernah dilaporkan ke Bawaslu Buleleng oleh LSM Forum Peduli Masyarakat Kecil (FMK) Buleleng.

Setelah digelar sidang, Somvir tidak terbukti melakukan pelanggaran tersebut. Bahkan sampai dilaporkan juga ke Bawaslu Provinsi Bali dan lagi-lagi tidak terbukti Dr.Somvir melakukan pelanggaran,” kata Karta yang juga Ketua Bantuan Hukum DPD Nasdem Bali itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Somvir diadukan ke polisi oleh Made Sudiari pada 10 Juli lalu. Ia menyebut anaknya yang berinisial Komang NS sempat diajak latihan yoga.

Namun saat kegiatan yoga itu, anaknya diminta mencoblos nama Somvir saat pemilihan. Selain itu anaknya sempat menjadi korban tabrak lari, setelah mengikuti kegiatan Somvir.

Sehingga anaknya mengalami depresi dan cemas. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/