alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Dituntut 8 Tahun Penjara, Paman Setubuhi Ponakan Merengek Keringanan

NEGARA  –  ZA, 25, paman yang menyetubuhi keponakannya di Jembrana dituntut 8 tahun pidana penjara. Jauh lebih ringan dari ancaman hukuman selama 15 tahun. Meski demikian, pria dua anak yang merupakan nelayan itu masih merengek keringanan hukuman.

Hal itu diungkapkan ZA saat menjalani sidang dengan agenda tuntutan di PN Negara, Kamis (16/12). Dalam sidang yang digelar daring itu, jaksa penuntut umum Kejari Jembrana menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 81 ayat 2 dan 3 UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Terdakwa ZA juga dituntut membayar denda Rp10 juta, apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan kurungan selaa 3 bulan.

“Terdakwa sebagai paman, semestinya melindungi. Tetapi perbuatan terdakwa sudah merusak masa depan anak,” jelas Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono.

Baca Juga:  Turun Drastis, Sisa Kasus Aktif Covid-19 di Jembrana Tinggal 10 Orang

Meski tuntutan jaksa jauh lebih ringan dari ancaman hukuman maksimal 15 tahun, terdakwa masih merengek keringanan hukuman. Terdakwa yang sudah berterus terang mengakui perbuatanya, menyesal dan berjanji tidak mengulangi lagi.

Terdakwa meminta keringanan hukuman karena menjadi orang tua tunggal dari anaknya yang masih kecil dan istrinya sudah meninggal.

“Terdakwa meminta keringanan hukuman, karena menyesal dan belum pernah dihukum,” ungkapnya.

- Advertisement -

Sekadar diketahui, perkara persetubuhan anak di bawah umur yang dilakukan tersangka terungkap bulan Oktober 2021 lalu. Korban yang masih berusia 12 tahun berkali-kali disetubuhi pamannya itu.

Persetubuhan awal terjadi pada bulan Mei lalu pada pukul 02.00 WITA dini hari. Saat itu, tersangka masuk ke rumah korban yang dalam kondisi sepi melalui pintu belakang setelah sempat dihubungi korban melalui pesan pendek.

Baca Juga:  Tolak Limbah B3, Puluhan Warga Geruduk Kantor Bupati dan DPRD Jembrana

Korban sering dirayu tersangka, hingga mau disetubuhi. Hingga kasus terungkap, tersangka sudah delapan kali melakukan hubungan badan dengan korban.

Persetubuhan terakhir berlangsung pada Selasa, 19 Oktober 2021 malam sekitar pukul 23.00 WITA. Pada saat kejadian terakhir di rumah korban hanya bersama nenek korban yang dalam kondisi stroke.

Ayah korban akhirnya mengetahui karena merasa curiga dengan tingkah laku anaknya yang tidak biasa. Saat bersamaan, ayah korban melihat tersangka keluar dari rumah saat peristiwa terakhir.

Anak korban yang ditanya orang tuanya, mengaku telah disetubuhi tersangka. Padahal tersangka, merupakan paman dari korban karena istri tersangka adalah adik dari ibu korban.

Dari hasil pemeriksaan, tidak ada paksaan dari tersangka pada korban. Tersangka yang berstatus duda setelah ditinggal istrinya meninggal 2 tahun lalu, melakukan bujuk rayu pada korban hingga korban mau disetubuhi.

- Advertisement -

NEGARA  –  ZA, 25, paman yang menyetubuhi keponakannya di Jembrana dituntut 8 tahun pidana penjara. Jauh lebih ringan dari ancaman hukuman selama 15 tahun. Meski demikian, pria dua anak yang merupakan nelayan itu masih merengek keringanan hukuman.

Hal itu diungkapkan ZA saat menjalani sidang dengan agenda tuntutan di PN Negara, Kamis (16/12). Dalam sidang yang digelar daring itu, jaksa penuntut umum Kejari Jembrana menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 81 ayat 2 dan 3 UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Terdakwa ZA juga dituntut membayar denda Rp10 juta, apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan kurungan selaa 3 bulan.

“Terdakwa sebagai paman, semestinya melindungi. Tetapi perbuatan terdakwa sudah merusak masa depan anak,” jelas Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono.

Baca Juga:  Polisi Bekuk Residivis Kambuhan Spesialis Congkel Jok Motor

Meski tuntutan jaksa jauh lebih ringan dari ancaman hukuman maksimal 15 tahun, terdakwa masih merengek keringanan hukuman. Terdakwa yang sudah berterus terang mengakui perbuatanya, menyesal dan berjanji tidak mengulangi lagi.

Terdakwa meminta keringanan hukuman karena menjadi orang tua tunggal dari anaknya yang masih kecil dan istrinya sudah meninggal.

“Terdakwa meminta keringanan hukuman, karena menyesal dan belum pernah dihukum,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, perkara persetubuhan anak di bawah umur yang dilakukan tersangka terungkap bulan Oktober 2021 lalu. Korban yang masih berusia 12 tahun berkali-kali disetubuhi pamannya itu.

Persetubuhan awal terjadi pada bulan Mei lalu pada pukul 02.00 WITA dini hari. Saat itu, tersangka masuk ke rumah korban yang dalam kondisi sepi melalui pintu belakang setelah sempat dihubungi korban melalui pesan pendek.

Baca Juga:  Awasi Pintu Keluar Bali, Polisi Bentuk Tim Khusus Buru 2 Tahanan Kabur

Korban sering dirayu tersangka, hingga mau disetubuhi. Hingga kasus terungkap, tersangka sudah delapan kali melakukan hubungan badan dengan korban.

Persetubuhan terakhir berlangsung pada Selasa, 19 Oktober 2021 malam sekitar pukul 23.00 WITA. Pada saat kejadian terakhir di rumah korban hanya bersama nenek korban yang dalam kondisi stroke.

Ayah korban akhirnya mengetahui karena merasa curiga dengan tingkah laku anaknya yang tidak biasa. Saat bersamaan, ayah korban melihat tersangka keluar dari rumah saat peristiwa terakhir.

Anak korban yang ditanya orang tuanya, mengaku telah disetubuhi tersangka. Padahal tersangka, merupakan paman dari korban karena istri tersangka adalah adik dari ibu korban.

Dari hasil pemeriksaan, tidak ada paksaan dari tersangka pada korban. Tersangka yang berstatus duda setelah ditinggal istrinya meninggal 2 tahun lalu, melakukan bujuk rayu pada korban hingga korban mau disetubuhi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/