alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Sejak Banding Hidup Nomaden, Dari Mulai Badung, Jakarta Hingga Bekasi

DUA tahun lebih menjadi buron, Sari Soraya Ruka akhirnya berhasil ditangkap tim tabor di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jalan Pantai Kuta, Badung.

Terpidana empat bulan penjara lantaran kasus pengerusakan sebuah vila di Seminyak, Kuta, Badung, itu hanya bisa pasrah saat tim tangkap buron (Tabur) Kejati Bali mencokoknya.

Lalu bagaimana hingga Sari Soraya baru tertangkap setelah dua tahun lebih menjadi buron?

MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

KEPALA seksi penerangan hukum Kejati Bali, A. Luga Harlianto kepada Jawa Pos Radar Bali, Senin (17/1) menjelaskan, terpidana tidak diketahui keberadaannya sejak melakukan upaya hukum banding.

Saat itu terpidana tidak pernah melakukan wajib lapor kepada JPU Kejari Denpasar.

Dalam proses pelacakan, Soraya terus pindah tempat tinggal. Di antaranya Jalan Drupadi Badung, pindah ke Jakarta Timur, hingga Bekasi.

Diduga Soraya sengaja hidup nomaden untuk menghindari JPU yang akan melakukan eksekusi.

Luga menambahkan, sejak tahap penyidikan hingga kasasi, Soraya tidak ditahan karena ancaman pidana dalam pasal yang disangkakan maupun pasal yang didakwaan ancaman hukumannya di bawah lima tahun.

Baca Juga:  Dipicu Konsleting Listik di Mesin ATM, Toko Alfamart Ludes Terbakar

“Soraya dijerat Pasal 406 KUHP dan Pasal 167 KUHP, dengan ancaman hukuman di bawah lima tahun dan tidak termasuk pasal pengecualian dalam Pasal 21 KUHAP,” tegas mantan Kacabjari Nusa Penida, Klungkung, itu.

Terpidana Soraya merupakan terpidana dalam perkara Pengerusakan yang pada tahun 2018 telah diputus bersalah oleh majelis hakim PN Denpasar dengan Putusan Nomor 543 /Pid.B/2018/PN Dps tanggal 22 Oktober 2018.

Tidak terima dengan putusan tersebut, Soraya mengajukan hukum Banding. Sayangnya upaya tersebut kandas. Majelis hakim Pengadilan Tinggi Denpasar menolak banding Soraya. Tidak mau menyerah, Soraya mengajukan kasasi Ke Mahkamah Agung (MA). Dan, untuk ketiga kalinya Soraya harus menelan pil pahit, upaya kasasinya ditolak hakim MA.

“Pengadilan menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama empat bulan,” tandasnya.

 Luga lantas menceritakan ikhwal kasus Soraya. Pada 6 November 2003, Soraya bersama suamninya menyewa vila yang berlokasi di Jalan Plawa, Seminyak Badung. Vila tersebut milik I Wayan Suwena. Sewa dilakukan dengan jangka waktu 25 tahun, terhitung sejak tanggal 6 November 2003 sampai 6 Nopember 2028.

Baca Juga:  Mobil Ngendon Sejak Tiga Bulan, Uji Balistik Pastikan SS1 Milik Brimob

“Harga sewa sebesar Rp23 juta yang akan dibayar setiap satu tahun sekali selama 25 tahun,” ungkap Luga.

Namun, sejak 2007 suami Soraya sudah tidak lagi membayar uang sewa kepada Suwena. Selanjutnya menemui saksi Suwena dan menghentikan penyewaan villa pada 1 Juli 2012.

Penghentian penyewaan tersebut dituangkan dalam surat penghentian perjanjian sewa menyewa. Suwena menyewakan vilanya tersebut kepada seseorang warga negara Jepang.

Pada April 2013, ketika penyewa vila tersebut berada di Jepang, terpidana masuk ke dalam vila tanpa seizin penyewa villa. Terpidana Soraya masuk ke dalam vila dengan cara merusak kunci pintu.

“Terpidana membongkar gagang kunci pintu, dan rumah kunci pintu diganti dengan gagang kunci pintu yang lain. Terpidana juga merusak dan mengganti keramik di lantai atas vila,” terangnya.

Akibat dari perbuatan terdakwa melakukan pengerusakan tersebut, penyewa vila mengalami kerugian sekitar Rp510 juta.

- Advertisement -
- Advertisement -

DUA tahun lebih menjadi buron, Sari Soraya Ruka akhirnya berhasil ditangkap tim tabor di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jalan Pantai Kuta, Badung.

Terpidana empat bulan penjara lantaran kasus pengerusakan sebuah vila di Seminyak, Kuta, Badung, itu hanya bisa pasrah saat tim tangkap buron (Tabur) Kejati Bali mencokoknya.

Lalu bagaimana hingga Sari Soraya baru tertangkap setelah dua tahun lebih menjadi buron?


MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

KEPALA seksi penerangan hukum Kejati Bali, A. Luga Harlianto kepada Jawa Pos Radar Bali, Senin (17/1) menjelaskan, terpidana tidak diketahui keberadaannya sejak melakukan upaya hukum banding.

Saat itu terpidana tidak pernah melakukan wajib lapor kepada JPU Kejari Denpasar.

Dalam proses pelacakan, Soraya terus pindah tempat tinggal. Di antaranya Jalan Drupadi Badung, pindah ke Jakarta Timur, hingga Bekasi.

Diduga Soraya sengaja hidup nomaden untuk menghindari JPU yang akan melakukan eksekusi.

Luga menambahkan, sejak tahap penyidikan hingga kasasi, Soraya tidak ditahan karena ancaman pidana dalam pasal yang disangkakan maupun pasal yang didakwaan ancaman hukumannya di bawah lima tahun.

Baca Juga:  Mobil Ngendon Sejak Tiga Bulan, Uji Balistik Pastikan SS1 Milik Brimob

“Soraya dijerat Pasal 406 KUHP dan Pasal 167 KUHP, dengan ancaman hukuman di bawah lima tahun dan tidak termasuk pasal pengecualian dalam Pasal 21 KUHAP,” tegas mantan Kacabjari Nusa Penida, Klungkung, itu.

Terpidana Soraya merupakan terpidana dalam perkara Pengerusakan yang pada tahun 2018 telah diputus bersalah oleh majelis hakim PN Denpasar dengan Putusan Nomor 543 /Pid.B/2018/PN Dps tanggal 22 Oktober 2018.

Tidak terima dengan putusan tersebut, Soraya mengajukan hukum Banding. Sayangnya upaya tersebut kandas. Majelis hakim Pengadilan Tinggi Denpasar menolak banding Soraya. Tidak mau menyerah, Soraya mengajukan kasasi Ke Mahkamah Agung (MA). Dan, untuk ketiga kalinya Soraya harus menelan pil pahit, upaya kasasinya ditolak hakim MA.

“Pengadilan menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama empat bulan,” tandasnya.

 Luga lantas menceritakan ikhwal kasus Soraya. Pada 6 November 2003, Soraya bersama suamninya menyewa vila yang berlokasi di Jalan Plawa, Seminyak Badung. Vila tersebut milik I Wayan Suwena. Sewa dilakukan dengan jangka waktu 25 tahun, terhitung sejak tanggal 6 November 2003 sampai 6 Nopember 2028.

Baca Juga:  Curi Uang Petani Saat Bajak Sawah, Pria Berusia 46 Tahun Dibekuk

“Harga sewa sebesar Rp23 juta yang akan dibayar setiap satu tahun sekali selama 25 tahun,” ungkap Luga.

Namun, sejak 2007 suami Soraya sudah tidak lagi membayar uang sewa kepada Suwena. Selanjutnya menemui saksi Suwena dan menghentikan penyewaan villa pada 1 Juli 2012.

Penghentian penyewaan tersebut dituangkan dalam surat penghentian perjanjian sewa menyewa. Suwena menyewakan vilanya tersebut kepada seseorang warga negara Jepang.

Pada April 2013, ketika penyewa vila tersebut berada di Jepang, terpidana masuk ke dalam vila tanpa seizin penyewa villa. Terpidana Soraya masuk ke dalam vila dengan cara merusak kunci pintu.

“Terpidana membongkar gagang kunci pintu, dan rumah kunci pintu diganti dengan gagang kunci pintu yang lain. Terpidana juga merusak dan mengganti keramik di lantai atas vila,” terangnya.

Akibat dari perbuatan terdakwa melakukan pengerusakan tersebut, penyewa vila mengalami kerugian sekitar Rp510 juta.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/