alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Terus Diguyur Hujan, Petani Garam pun Mulai Kuras Tabungan

SEMARAPURA – Hujan yang terus mengguyur wilayah Klungkung, Bali, beberapa bulan terakhir membuat petani garam tradisional meringis. Seperti dialami petani garam Kusamba di Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali yang tidak dapat memproduksi garam secara maksimal. Akibatnya, ada petani garam yang terpaksa menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tidak dapat memproduksi garam.

 

Ketua Kelompok Garam Sari Ning Segara Kusamba, Mangku Rena, Senin (17/1) menuturkan produksi garam tradisional di Pantai Karangdadi tidak maksimal akibat guyuran hujan sejak November 2021 lalu. Bahkan karena tingginya curah hujan, produksi garam sama sekali tidak dapat dilakukan sejak Desember 2021-Januari 2022.

 

“Bila malam hujan, kami tidak bisa produksi garam walau pada siang hari panas. Desember – Januari total tidak dapat produksi garam,” katanya.

Baca Juga:  Bisnis 5 Kardus Ganja, Diganjar 18 Tahun Penjara Plus Denda Rp 5 M

 

- Advertisement -

Akibatnya, ia hanya bisa mengandalkan stok garam yang tidak terlalu banyak untuk dijual agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

“Kalau cuaca normal, bisa produksi 20 kg per hari. Tetapi tergantung luasan lahan produksi,” tandasnya.

 

Sementara itu salah seorang petani garam di Pantai Karangdadi, Ketut Kaping menambahkan, ia tidak dapat memproduksi garam sama sekali akibat curah hujan yang tinggi sejak seminggu terakhir.

 

Sementara, ia tidak memiliki stok garam sama sekali. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa menggunakan uang tabungan yang tidak terlalu banyak.

 

“Petani yang lain mungkin masih punya stok karena lahannya luas sehingga produksi garam per hari lebih banyak. Kalau lahan saya terus menyusut akibat abrasi. Maksimal hanya bisa produksi 10 kg garam per hari,” bebernya.

Baca Juga:  Tiga Pelaku Diamankan di Polsek, Satpol PP Monitor soal Izin Kafe

Meski produksi garam sedang tidak maksimal, ia mengaku tidak berani menaikan harga garam produksinya terlalu tinggi. Itu agar para pelanggannya yang merupakan pedagang kecil tidak kabur. Mengingat saat pandemi Covid-19 seperti itu, tidak ada lagi pengiriman garam tradisional Kusamba ke luar negeri. Sehingga ia hanya mengandalkan pelanggan lokal.

 

“Kalau cuaca normal, harga garam sekitar Rp 10 ribu per kg. Kalau sekarang naik, tetapi tidak banyak agar pelanggan tidak pergi. Sekarang harganya sekitar Rp 11 ribu – Rp 12 ribu per kg. Semoga cuaca kembali membaik,” tandasnya.

- Advertisement -

SEMARAPURA – Hujan yang terus mengguyur wilayah Klungkung, Bali, beberapa bulan terakhir membuat petani garam tradisional meringis. Seperti dialami petani garam Kusamba di Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali yang tidak dapat memproduksi garam secara maksimal. Akibatnya, ada petani garam yang terpaksa menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tidak dapat memproduksi garam.

 

Ketua Kelompok Garam Sari Ning Segara Kusamba, Mangku Rena, Senin (17/1) menuturkan produksi garam tradisional di Pantai Karangdadi tidak maksimal akibat guyuran hujan sejak November 2021 lalu. Bahkan karena tingginya curah hujan, produksi garam sama sekali tidak dapat dilakukan sejak Desember 2021-Januari 2022.

 

“Bila malam hujan, kami tidak bisa produksi garam walau pada siang hari panas. Desember – Januari total tidak dapat produksi garam,” katanya.

Baca Juga:  Tiga Pelaku Diamankan di Polsek, Satpol PP Monitor soal Izin Kafe

 

Akibatnya, ia hanya bisa mengandalkan stok garam yang tidak terlalu banyak untuk dijual agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

“Kalau cuaca normal, bisa produksi 20 kg per hari. Tetapi tergantung luasan lahan produksi,” tandasnya.

 

Sementara itu salah seorang petani garam di Pantai Karangdadi, Ketut Kaping menambahkan, ia tidak dapat memproduksi garam sama sekali akibat curah hujan yang tinggi sejak seminggu terakhir.

 

Sementara, ia tidak memiliki stok garam sama sekali. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa menggunakan uang tabungan yang tidak terlalu banyak.

 

“Petani yang lain mungkin masih punya stok karena lahannya luas sehingga produksi garam per hari lebih banyak. Kalau lahan saya terus menyusut akibat abrasi. Maksimal hanya bisa produksi 10 kg garam per hari,” bebernya.

Baca Juga:  Lihat Kunci Nyantol, Suardika Langsung Bawa Kabur Scoopy dari Parkiran

Meski produksi garam sedang tidak maksimal, ia mengaku tidak berani menaikan harga garam produksinya terlalu tinggi. Itu agar para pelanggannya yang merupakan pedagang kecil tidak kabur. Mengingat saat pandemi Covid-19 seperti itu, tidak ada lagi pengiriman garam tradisional Kusamba ke luar negeri. Sehingga ia hanya mengandalkan pelanggan lokal.

 

“Kalau cuaca normal, harga garam sekitar Rp 10 ribu per kg. Kalau sekarang naik, tetapi tidak banyak agar pelanggan tidak pergi. Sekarang harganya sekitar Rp 11 ribu – Rp 12 ribu per kg. Semoga cuaca kembali membaik,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/