alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Ternyata Uang Korupsi Juga Dibagi-Bagi Sampai ke Cleaning Service

SINGARAJA – Usai mendapat warning alias peringatan dari Kajari Buleleng.

 

Sejumlah pihak yang diduga menerima aliran dana korupsi program Buleleng Explore dan Sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan yang bersumber dari hibah dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sektor pariwisata, langsung beramai-ramai mengembalikan uang ke Kejaksaan.

 

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, hingga Kamis (18/2) ada 4 pihak yang mengembalikan dana ke kantor Kejari Buleleng.

 

Juru Bicara Kejari Buleleng A.A. Jayalantara mengatakan, ada pihak rekanan dan instansi pemerintahan yang mengembalikan dana tersebut.

 

Pihak rekanan yang dimaksud ialah Munduk Heaven yang mengembalikan dana Rp 6,9 juta, serta Mimpi Resort yang mengembalikan dana Rp 2,45 juta.

 

Sementara instansi pemerintahan yang mengembalikan uang, yakni Pejabat Pengadaan Barang/Jasa (P2BJ) pada Dinas Pariwisata Buleleng, dengan nilai uang yang dikembalikan sebanyak Rp 1,25 juta.

 

Selain P2BJ, juga ada staf dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPPTSP) Buleleng senilai Rp 2 juta.

 

Sehingga total uang yang telah disita Kejari Buleleng hingga kemarin mencapai Rp 502.960.900.

Baca Juga:  Alokasikan Rp 1,27 Miliar, Buleleng Dijatah 215 Titik Internet Gratis

 

“Hari ini mulai berdatangan yang mengembalikan uang. Kami masih menunggu itikad baik pihak-pihak yang merasa menerima aliran dana dari program Buleleng Explore ini,” kata Jayalantara saat ditemui kemairn (18/2).

 

Konon masih banyak pihak yang belum mengembalikan dana kerugian negara. Salah satunya dari tersangka Made SD yang menjadi pengguna anggaran dalam program-program pada Dispar Buleleng. Dana yang belum dikembalikan dari Made SD diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

 

Lebih lanjut Jayalantara mengatakan, aliran dana dari kedua program itu cukup banyak. Dana juga mengalir ke sejumlah staf hingga cleaning service yang bertugas di Dinas Pariwisata Buleleng.

 

Bahkan dari catatan, besaran dana yang telah terdistribusi di internal Dinas Pariwisata Buleleng saja disebut mencapai angka Rp 60 juta.

 

“Ada yang dapat Rp 500 ribu ada yang dapat Rp 100 ribu. Jumlahnya berbeda-beda. Jadi masing-masing PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Red) mendistribusikan ke sejumlah staf. Bahasa mereka uang lelah,” ungkap Jayalantara.

Apakah para staf itu berpotensi turut terlibat dalam perkara dugaan korupsi dana hibah PEN Pariwisata? Jayalantara tak menyebutkannya secara gamblang.

Baca Juga:  Jatuh ke Jurang, Sepeda Nyangkut di Pohon, Warga Cargo Tewas Tragis

 

“Kami menunggu itikad baiknya. Kami juga sedang dalam tahap pemberkasan, untuk memastikan siapa yang punya ide atau otak dalam tindak pidana ini,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Buleleng menetapkan delapan orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana PEN Pariwisata di Kabupaten Buleleng.

Mereka adalah Made SD, Ni Nyoman AW, Putu S, Nyoman S, IGA MA, Kadek W, I Nyoman GG, dan Putu B. Seluruhnya adalah pejabat pada Dispar Buleleng. 

Dari delapan tersangka itu, sebanyak tujuh orang diantaranya telah ditahan. Mereka ditahan di dua lokasi berbeda. Tersangka Made SD, Kadek W, Nyoman S, dan Putu S ditahan di Mapolres Buleleng. Sementara tersangka Putu B, Nyoman AW, dan IGA MA ditahan di Mapolsek Sawan. Hanya Nyoman GG yang belum menjalani pemeriksaan karena dalam kondisi sakit.

Dari hasil penelusuran jaksa, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 656 juta. Kerugian itu berasal dari program Buleleng Explore dan program bimbingan teknis penerapan protokol kesehatan

 



SINGARAJA – Usai mendapat warning alias peringatan dari Kajari Buleleng.

 

Sejumlah pihak yang diduga menerima aliran dana korupsi program Buleleng Explore dan Sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan yang bersumber dari hibah dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sektor pariwisata, langsung beramai-ramai mengembalikan uang ke Kejaksaan.

 

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, hingga Kamis (18/2) ada 4 pihak yang mengembalikan dana ke kantor Kejari Buleleng.

 

Juru Bicara Kejari Buleleng A.A. Jayalantara mengatakan, ada pihak rekanan dan instansi pemerintahan yang mengembalikan dana tersebut.

 

Pihak rekanan yang dimaksud ialah Munduk Heaven yang mengembalikan dana Rp 6,9 juta, serta Mimpi Resort yang mengembalikan dana Rp 2,45 juta.

 

Sementara instansi pemerintahan yang mengembalikan uang, yakni Pejabat Pengadaan Barang/Jasa (P2BJ) pada Dinas Pariwisata Buleleng, dengan nilai uang yang dikembalikan sebanyak Rp 1,25 juta.

 

Selain P2BJ, juga ada staf dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPPTSP) Buleleng senilai Rp 2 juta.

 

Sehingga total uang yang telah disita Kejari Buleleng hingga kemarin mencapai Rp 502.960.900.

Baca Juga:  Jalani Rehabilitasi, 24 Narapidana Lapas Kerobokan Dilayar ke Bangli

 

“Hari ini mulai berdatangan yang mengembalikan uang. Kami masih menunggu itikad baik pihak-pihak yang merasa menerima aliran dana dari program Buleleng Explore ini,” kata Jayalantara saat ditemui kemairn (18/2).

 

Konon masih banyak pihak yang belum mengembalikan dana kerugian negara. Salah satunya dari tersangka Made SD yang menjadi pengguna anggaran dalam program-program pada Dispar Buleleng. Dana yang belum dikembalikan dari Made SD diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

 

Lebih lanjut Jayalantara mengatakan, aliran dana dari kedua program itu cukup banyak. Dana juga mengalir ke sejumlah staf hingga cleaning service yang bertugas di Dinas Pariwisata Buleleng.

 

Bahkan dari catatan, besaran dana yang telah terdistribusi di internal Dinas Pariwisata Buleleng saja disebut mencapai angka Rp 60 juta.

 

“Ada yang dapat Rp 500 ribu ada yang dapat Rp 100 ribu. Jumlahnya berbeda-beda. Jadi masing-masing PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Red) mendistribusikan ke sejumlah staf. Bahasa mereka uang lelah,” ungkap Jayalantara.

Apakah para staf itu berpotensi turut terlibat dalam perkara dugaan korupsi dana hibah PEN Pariwisata? Jayalantara tak menyebutkannya secara gamblang.

Baca Juga:  Rumah Warga Miskin Jadi Korban Longsor, Sekeluarga Nyaris Tertimbun

 

“Kami menunggu itikad baiknya. Kami juga sedang dalam tahap pemberkasan, untuk memastikan siapa yang punya ide atau otak dalam tindak pidana ini,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Buleleng menetapkan delapan orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana PEN Pariwisata di Kabupaten Buleleng.

Mereka adalah Made SD, Ni Nyoman AW, Putu S, Nyoman S, IGA MA, Kadek W, I Nyoman GG, dan Putu B. Seluruhnya adalah pejabat pada Dispar Buleleng. 

Dari delapan tersangka itu, sebanyak tujuh orang diantaranya telah ditahan. Mereka ditahan di dua lokasi berbeda. Tersangka Made SD, Kadek W, Nyoman S, dan Putu S ditahan di Mapolres Buleleng. Sementara tersangka Putu B, Nyoman AW, dan IGA MA ditahan di Mapolsek Sawan. Hanya Nyoman GG yang belum menjalani pemeriksaan karena dalam kondisi sakit.

Dari hasil penelusuran jaksa, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 656 juta. Kerugian itu berasal dari program Buleleng Explore dan program bimbingan teknis penerapan protokol kesehatan

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/