alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

TERLALU, Oknum Dispar Markup Harga Pulsa dari Rp100 Rb Jadi Rp150 Rb

SINGARAJA– Kasus dugaan korupsi Program Buleleng Explore dan Bimbingan Teknis Penerapan Protokol Kesehatan yang bersumber dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sektor Pariwisata Buleleng masih berlanjut.

Terbaru, setelah sebelumnya sejumlah rekanan dan staf mengembalikan sejumlah uang hasil dumduman uang hasil korupsi oleh oknum ke kantor Kejari Buleleng, pengembalian uang kerugian Negara masih terus terjadi.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, Jumat (19/2), ada dua pihak yang mengembalikan kerugian negara ke Kejari Buleleng.

Mereka yakni pihak penyedia layanan pulsa dengan nilai uang yang dikembalikan sebesar Rp 7,9 juta, serta pihak di internal Dinas Pariwisata Buleleng yang mengembalikan dana sebesar Rp 2 juta.

Juru Bicara Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng A.A. Jayalantara mengatakan, modus yang dilakukan oleh para tersangka pada penyedia jasa juga sama dengan penyedia jasa lainnya. Yakni melakukan mark up harga dalam proses pengadaan.

Baca Juga:  Tertangkap Basah Jebol Plafon, Warga Lombok Timur Digebuki Massa

“Modusnya sama dengan yang lain. Jadi misalnya harga pulsa itu Rp 100 ribu, di SPJ dia pasang harga Rp 150 ribu. Kelebihan dananya masih belum diambil sama Dispar, masih dipegang penyedia jasa,” kata Jayalantara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Buleleng menetapkan 8 orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana PEN Pariwisata di Kabupaten Buleleng. Mereka adalah Made SD, Ni Nyoman AW, Putu S, Nyoman S, IGA MA, Kadek W, I Nyoman GG, dan Putu B. Seluruhnya adalah pejabat pada Dispar Buleleng.

Dari delapan tersangka itu, sebanyak tujuh orang diantaranya telah ditahan. Mereka ditahan di dua lokasi berbeda. Tersangka Made SD, Kadek W, Nyoman S, dan Putu S ditahan di Mapolres Buleleng. Sementara tersangka Putu B, Nyoman AW, dan IGA MA ditahan di Mapolsek Sawan. Hanya Nyoman GG yang belum menjalani pemeriksaan karena dalam kondisi sakit.

Baca Juga:  Cairkan Dana Hibah, Dispar Kebut Verifikasi Akomodasi Pariwisata

Dari hasil penelusuran jaksa, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 656 juta. Kerugian itu berasal dari program Buleleng Explore dan program bimbingan teknis penerapan protokol kesehatan.



SINGARAJA– Kasus dugaan korupsi Program Buleleng Explore dan Bimbingan Teknis Penerapan Protokol Kesehatan yang bersumber dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sektor Pariwisata Buleleng masih berlanjut.

Terbaru, setelah sebelumnya sejumlah rekanan dan staf mengembalikan sejumlah uang hasil dumduman uang hasil korupsi oleh oknum ke kantor Kejari Buleleng, pengembalian uang kerugian Negara masih terus terjadi.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, Jumat (19/2), ada dua pihak yang mengembalikan kerugian negara ke Kejari Buleleng.

Mereka yakni pihak penyedia layanan pulsa dengan nilai uang yang dikembalikan sebesar Rp 7,9 juta, serta pihak di internal Dinas Pariwisata Buleleng yang mengembalikan dana sebesar Rp 2 juta.

Juru Bicara Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng A.A. Jayalantara mengatakan, modus yang dilakukan oleh para tersangka pada penyedia jasa juga sama dengan penyedia jasa lainnya. Yakni melakukan mark up harga dalam proses pengadaan.

Baca Juga:  Kejar Bukti Kepemilikan, Jaksa: Janggal Simpan Airgun di Ruang Rapat

“Modusnya sama dengan yang lain. Jadi misalnya harga pulsa itu Rp 100 ribu, di SPJ dia pasang harga Rp 150 ribu. Kelebihan dananya masih belum diambil sama Dispar, masih dipegang penyedia jasa,” kata Jayalantara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Buleleng menetapkan 8 orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana PEN Pariwisata di Kabupaten Buleleng. Mereka adalah Made SD, Ni Nyoman AW, Putu S, Nyoman S, IGA MA, Kadek W, I Nyoman GG, dan Putu B. Seluruhnya adalah pejabat pada Dispar Buleleng.

Dari delapan tersangka itu, sebanyak tujuh orang diantaranya telah ditahan. Mereka ditahan di dua lokasi berbeda. Tersangka Made SD, Kadek W, Nyoman S, dan Putu S ditahan di Mapolres Buleleng. Sementara tersangka Putu B, Nyoman AW, dan IGA MA ditahan di Mapolsek Sawan. Hanya Nyoman GG yang belum menjalani pemeriksaan karena dalam kondisi sakit.

Baca Juga:  Korupsi Tirtayatra DPRD Buleleng Diungkit Lagi, Jaksa Ancam Sita Aset

Dari hasil penelusuran jaksa, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 656 juta. Kerugian itu berasal dari program Buleleng Explore dan program bimbingan teknis penerapan protokol kesehatan.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/