alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Korban Penipuan Investasi Bodong Rp1 M Setor Uang dari Pinjaman LPD

DENPASAR – Harapan Ni Putu Dian Okviani mendapat keuntungan dari modal yang ditanam pada sebuah program investasi berujung buntung. Bukannya mendapat keuntungan, uangnya amblas.

 

Hal itu terungkap saa Putu Dian didampingi kuasa hukumnya dari Kantor Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI) Bali melapor ke SPKT Polda Bali pada Senin (18/10/2021).

 

Salah satu kuasa hukum korban, I Made “Ariel” Suardana menjelaskan, kliennya itu diduga menjadi korban investasi bodong bernama Ice Mango atau dengan sebutan lainnya One Pay Receh yang dikelola Yulia Nur Fitria, dan Fransiska Antari Virnadonita.

 

Para membernya hanya menyetorkan sejumlah uang dengan slot yang sudah ditentukan oleh pelaku dan dijanjikan akan mendapatkan keuntungan besar. 

- Advertisement -

 

Dijelaskan, pelaku menyatakan bahwa uang yang diterimanya akan dikelola lagi dalam usaha pertanian, properti, dan peleburan emas.

 

Modusnya adalah korban menanam modal, kemudian mendapatkan keuntungan dalam waktu tertentu. Pada awalnya, seperti sebuah pancingan, dana yang disetor terbukti mendapat keuntungan.

Baca Juga:  Ngurah Tirta Bantah Rusak Gedung Pancasila saat Memburu Arya Wedakarna

 

Seperti dialamai Putu Dian yang menyetor uang Rp800.000, belum sampai waktu 19 hari yang dijanjikan pelaku, korban sudah mendapat pengembalian sebesar Rp1.200.000.

 

Merasa mendapat keuntungan yang lebih besar, Putu Dian pun menaruh modal lagi lebih besar. Yakni Rp1.000.000. Dalam waktu 60 hari, korban mendapatkan hasil sebesar Rp2.000.000 dari pelaku.

 

Mendapat keuntungaan hingga dua kali modal yang ditanam dalam waktu singkat membuat Putu Dian semakin yakin. Dia pun disuruh pelaku menyebarluaskan informasi ini sehingga banyak orang yang tertarik.

 

“Akhirnya pelaku berhasil memperdayai setidaknya 110 orang,” jelas Suardana, Selasa (19/10).

 

Singkat cerita, para pelaku lalu membuka 6 investasi yang total seluruh slotnya adalah 962 slot dengan jumlah uang sebesar Rp962 juta. Korban pun mengikuti semua slot tersebut.

 

Namun, untuk penanaman modal yang kali ketiga ini tak seperti penanaman modal sebelumnya. Nahasnya enam investasi tersebut gagal dicairkan.

 

Pelaku pun berdalih tidak sanggup membayar get sebesar Rp2.746.050.000 dan berjanji dalam kurun waktu 7 hari akan mengembalikan modal korban.

Baca Juga:  Proses Hukum Stop, Koster: Sudah Titik dan Tidak Ada Lagi Coba Kompori

 

“Namun uang pun tidak dibayarkan dan pelaku mengakui telah menggunakan uang tersebut untuk keperluan lainnya. Sehingga pelaku tidak bisa mempertanggungjawabkan dalam jangka waktu yang dijanjikan,” terang Ariel.

 

Akibat kejadian ini, korban Ni Putu Dian Oktaviani pun sangat rugi. Pasalnya dia meminjam uang di LPD (Lembaga Perkreditan Desa) untuk disertakan ke dalam investasi tersebut.

 

Yang lebih mengejutkan, salah satu terlapornya, yakni bernama Yulia Nur Fitria merupakan teman sekolah korban Putu Dian dulu. 

 

“Pelaporan ini bertujuan untuk menghentikan sepak terjang pelaku yang dapat menimpa korban-korban lainya maka dari itu penting bagi polisi untuk mengungkap kasus ini dan menyelamatkan uang korban lainnya,” tandasnya.

 

Suardana pun menegaskan bahwa korban sesungguhnya ada ratusan orang. Namun, karena pertimbangan menghindari kerumunan di masa pandemi Covid-19 ini maka yang melaporkan 1 orang saja.

 

“Dan para member lainnya akan menjadi saksi,” tukas Suardana.

- Advertisement -

- Advertisement -

DENPASAR – Harapan Ni Putu Dian Okviani mendapat keuntungan dari modal yang ditanam pada sebuah program investasi berujung buntung. Bukannya mendapat keuntungan, uangnya amblas.

 

Hal itu terungkap saa Putu Dian didampingi kuasa hukumnya dari Kantor Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI) Bali melapor ke SPKT Polda Bali pada Senin (18/10/2021).


 

Salah satu kuasa hukum korban, I Made “Ariel” Suardana menjelaskan, kliennya itu diduga menjadi korban investasi bodong bernama Ice Mango atau dengan sebutan lainnya One Pay Receh yang dikelola Yulia Nur Fitria, dan Fransiska Antari Virnadonita.

 

Para membernya hanya menyetorkan sejumlah uang dengan slot yang sudah ditentukan oleh pelaku dan dijanjikan akan mendapatkan keuntungan besar. 

 

Dijelaskan, pelaku menyatakan bahwa uang yang diterimanya akan dikelola lagi dalam usaha pertanian, properti, dan peleburan emas.

 

Modusnya adalah korban menanam modal, kemudian mendapatkan keuntungan dalam waktu tertentu. Pada awalnya, seperti sebuah pancingan, dana yang disetor terbukti mendapat keuntungan.

Baca Juga:  Ratusan Satpam di Denpasar Jadi Satgas Covid-19

 

Seperti dialamai Putu Dian yang menyetor uang Rp800.000, belum sampai waktu 19 hari yang dijanjikan pelaku, korban sudah mendapat pengembalian sebesar Rp1.200.000.

 

Merasa mendapat keuntungan yang lebih besar, Putu Dian pun menaruh modal lagi lebih besar. Yakni Rp1.000.000. Dalam waktu 60 hari, korban mendapatkan hasil sebesar Rp2.000.000 dari pelaku.

 

Mendapat keuntungaan hingga dua kali modal yang ditanam dalam waktu singkat membuat Putu Dian semakin yakin. Dia pun disuruh pelaku menyebarluaskan informasi ini sehingga banyak orang yang tertarik.

 

“Akhirnya pelaku berhasil memperdayai setidaknya 110 orang,” jelas Suardana, Selasa (19/10).

 

Singkat cerita, para pelaku lalu membuka 6 investasi yang total seluruh slotnya adalah 962 slot dengan jumlah uang sebesar Rp962 juta. Korban pun mengikuti semua slot tersebut.

 

Namun, untuk penanaman modal yang kali ketiga ini tak seperti penanaman modal sebelumnya. Nahasnya enam investasi tersebut gagal dicairkan.

 

Pelaku pun berdalih tidak sanggup membayar get sebesar Rp2.746.050.000 dan berjanji dalam kurun waktu 7 hari akan mengembalikan modal korban.

Baca Juga:  Proses Hukum Stop, Koster: Sudah Titik dan Tidak Ada Lagi Coba Kompori

 

“Namun uang pun tidak dibayarkan dan pelaku mengakui telah menggunakan uang tersebut untuk keperluan lainnya. Sehingga pelaku tidak bisa mempertanggungjawabkan dalam jangka waktu yang dijanjikan,” terang Ariel.

 

Akibat kejadian ini, korban Ni Putu Dian Oktaviani pun sangat rugi. Pasalnya dia meminjam uang di LPD (Lembaga Perkreditan Desa) untuk disertakan ke dalam investasi tersebut.

 

Yang lebih mengejutkan, salah satu terlapornya, yakni bernama Yulia Nur Fitria merupakan teman sekolah korban Putu Dian dulu. 

 

“Pelaporan ini bertujuan untuk menghentikan sepak terjang pelaku yang dapat menimpa korban-korban lainya maka dari itu penting bagi polisi untuk mengungkap kasus ini dan menyelamatkan uang korban lainnya,” tandasnya.

 

Suardana pun menegaskan bahwa korban sesungguhnya ada ratusan orang. Namun, karena pertimbangan menghindari kerumunan di masa pandemi Covid-19 ini maka yang melaporkan 1 orang saja.

 

“Dan para member lainnya akan menjadi saksi,” tukas Suardana.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/