alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Ikut Tren di Medsos, Sekelompok Remaja Terlibat Perang Sarung

 

NEGARA- Diduga karena mengikuti tren perang sarung di medsos, sejumlah remaja di Kelurahan Loloan Timur melakukan perang sarung pada Selasa (19/4) dini hari.

 

Kenakalan remaja tersebut sempat direkam warga dan viral di media sosial, sehingga kejadian itu membuat warga resah.

 

Dalam video berdurasi 12 detik yang beredar di media sosial, itu dengan narasi terjadi tawuran di simpang empat Ijogading. Tepatnya di timur Pasar Ijogading, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.

 

Menurut informasi, sebelum terjadi perang sarung di simpang empat Ijogading, kelompok remaja itu sempat akan melakukan perang sarung di atas jembatan Syarif yang menjadi perbatasan Loloan Timur dan Loloan Barat.

 

Karena perang sarung batal, kelompok remaja  usia 13 -16 tahun itu pindah tempat. “Kami sudah atensi. Karena aksi anak-anak ini meresahkan masyarakat dan membahayakan diri mereka sendiri,” ujar Kepala lingkungan Loloan Timur Muztahidin.

 

Menurutnya, mengenai perang sarung di wilayah Kelurahan Loloan Timur, sudah menjadi perhatian aparat lingkungan se Kelurahan Loloan Timur, Lurah, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. “Diduga diawali hanya ingin ikutan konten -konten di media sosial. Konten itu meluas hingga ke kelompok remaja di desa dan titik pertemuan kelompok. Lokasinya juga berpindah – pindah,” ujarnya.

 

Terkait dengan video yang beredar di media sosial, tidak sepenuhnya benar. Hal tersebut dibenarkan Lurah Loloan Timur Ida Bagus Komang Wibawa Manuaba.

 

Menurutnya, kejadian yang ada dalam video bukan tawuran. Kenakalan remaja dipicu oleh tren perang sarung yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia dan tersebar di media sosial. Para remaja tersebut kemudian mengikuti. “Bukan tawuran antar kelompok. Kenakalan remaja yang mengikuti video – video yang beredar di sosmed,” jelasnya.

 

Kapolres Jembrana AKBP I Dewa Gde Juliana mengatakan, setelah video beredar pihaknya langsung mencari informasi ke lapangan. Menurut Kapolres, kejadian bukan tawuran seperti narasi yang beredar di media sosial. “Info di lapangan bahwa tidak ada tawuran,” tegasnya.

 

Dari informasi, lanjutnya, seperti sedang membuat konten. “Infonya mereka seperti membuat konten di tiktok mengikuti tren di tiktok,” ujarnya.

 

Kapolres menegaskan, apabila ditemukan adanya kegiatan seperti dalam video atau kegiatan yang berpotensi menganggu Kamtibmas, akan dilakukan tindakan tegas sehingga tidak ada akibat fatal dari aktivitas anak muda tersebut.

 

 

 



 

NEGARA- Diduga karena mengikuti tren perang sarung di medsos, sejumlah remaja di Kelurahan Loloan Timur melakukan perang sarung pada Selasa (19/4) dini hari.

 

Kenakalan remaja tersebut sempat direkam warga dan viral di media sosial, sehingga kejadian itu membuat warga resah.

 

Dalam video berdurasi 12 detik yang beredar di media sosial, itu dengan narasi terjadi tawuran di simpang empat Ijogading. Tepatnya di timur Pasar Ijogading, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.

 

Menurut informasi, sebelum terjadi perang sarung di simpang empat Ijogading, kelompok remaja itu sempat akan melakukan perang sarung di atas jembatan Syarif yang menjadi perbatasan Loloan Timur dan Loloan Barat.

 

Karena perang sarung batal, kelompok remaja  usia 13 -16 tahun itu pindah tempat. “Kami sudah atensi. Karena aksi anak-anak ini meresahkan masyarakat dan membahayakan diri mereka sendiri,” ujar Kepala lingkungan Loloan Timur Muztahidin.

 

Menurutnya, mengenai perang sarung di wilayah Kelurahan Loloan Timur, sudah menjadi perhatian aparat lingkungan se Kelurahan Loloan Timur, Lurah, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. “Diduga diawali hanya ingin ikutan konten -konten di media sosial. Konten itu meluas hingga ke kelompok remaja di desa dan titik pertemuan kelompok. Lokasinya juga berpindah – pindah,” ujarnya.

 

Terkait dengan video yang beredar di media sosial, tidak sepenuhnya benar. Hal tersebut dibenarkan Lurah Loloan Timur Ida Bagus Komang Wibawa Manuaba.

 

Menurutnya, kejadian yang ada dalam video bukan tawuran. Kenakalan remaja dipicu oleh tren perang sarung yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia dan tersebar di media sosial. Para remaja tersebut kemudian mengikuti. “Bukan tawuran antar kelompok. Kenakalan remaja yang mengikuti video – video yang beredar di sosmed,” jelasnya.

 

Kapolres Jembrana AKBP I Dewa Gde Juliana mengatakan, setelah video beredar pihaknya langsung mencari informasi ke lapangan. Menurut Kapolres, kejadian bukan tawuran seperti narasi yang beredar di media sosial. “Info di lapangan bahwa tidak ada tawuran,” tegasnya.

 

Dari informasi, lanjutnya, seperti sedang membuat konten. “Infonya mereka seperti membuat konten di tiktok mengikuti tren di tiktok,” ujarnya.

 

Kapolres menegaskan, apabila ditemukan adanya kegiatan seperti dalam video atau kegiatan yang berpotensi menganggu Kamtibmas, akan dilakukan tindakan tegas sehingga tidak ada akibat fatal dari aktivitas anak muda tersebut.

 

 

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/