alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Curhat Calon Pekerja Kapal Pesiar di Bali yang Kena Tipu PT DIM

DENPASAR – Ada belasan calon pekerja migran yang menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh Dee Ratu Zhaqira alias IRA, 38 sebagai Direktur Utama PT Dunia Insani Mandiri (DIM). Salah satunya Putu Ribu. Pemuda berusia 23 tahun asal Gerokgak, Buleleng itu menyampaikan curhat.

Putu Ribu mengaku telah membayarkan uang Rp32 juta kepada PT Dunia Insan Mandiri sejak tahun 2020. Setelah menyetor sejumlah uang itu, hingga kini dirinya belum juga diberangkatkan untuk bekerja di kapal pesiar.

Nahasnya lagi, keberadaan oknum yang harus bertanggungjawab atas kejadian itu kini sudah tak jelas. 

 

“Sangat besar harapan saya kasus ini supaya lekas diproses, apalagi ini sudah lama sekali, ada yang berkasus dengan kasus dari 2019 akhir dan 2020 awal. Sampai pihak IRA tersebut benar-benar tidak bisa dihubungi, terakhir kami ketemu beliau di Disnaker Provinsi untuk musyawarah. Benar disebutkan mereka tidak memiliki izin, kecuali izin NIB itu,” katanya di Denpasar, Senin (21/3/2022).

 

Dijelaskannya, bahwa tak sedikit dari para korban selain dirinya yang rela meminjam uang kerabat untuk menyetor. Hal itu didasari keinginan mereka untuk bekerja sebagai pekerja migran demi merubah nasib ekonomi keluarganya. Namun kini, uang yang telah mereka pinjam dari pihak lain telah disetor dan mereka tak kunjung diberangkatkan. 

 

“Saya tahu info PT DIM dari Instagram pada Januari 2020, lowongannya pada April 2020 untuk keberangkatannya, saya tertarik, tetapi hasilnya saya mengalami kerugian Rp 32 Juta,” tambahnya. 

Semenyara itu, setelah sempat membuat laporan ke Ditreskrimum Polda Bali pada 18 Mei 2021 lalu, hingga kini laporan dari belasan calon pekerja kapal pesiar yang mengaku ditipu oleh Dee Ratu Zhaqira alias IRA, 38 sebagai Direktur Utama PT Dunia Insani Mandiri (DIM), selaku penyalur tenaga kerja belum membuahkan titik terang. 

 

IRA dilaporkan atas dugaan Pasal 378 terkait dengan dugaan penipuan dan tindak pidana perdagangan orang sebagaimana UU Nomor 21 Tahun 2007.

Kuasa hukum para korban, Nengah Yasa Adi Susanto mengatakan, bahwa pihaknya meminta kepolisian Polda Bali agar secepatnya melakukan penyelidikan dan segera mengungkap dan menangkap Dee Ratu Zhaqira alias IRA, 38 sebagai Direktur Utama PT Dunia Insani Mandiri (DIM).

Selain karena banyak merugikan korban, dikhawatirkan modus yang sama Alma dilakukan kembali dan menimbulkan makin banyak korban. 

 

“Sudah 10 bulan laporannya diam dalam bentuk Pengaduan Masyarakat (Dumas). Sudah  ada 2 alat bukti, tetapi masih diam di Ditreskrimum Polda Bali,” terang Adi Susanto kepada awak media di Denpasar, Senin (21/3/2022). Dijelaskannya, saat ini pihaknya bertindak sebagai kuasa hukum dari 15 orang calon pekerja migran. Namun, di luar sana, disinyalir korban dari dugaan penipuan itu masih banyak bahkan masih ada piluhan lagi.

 

“Korbannya diduga masih banyak. Karena sudah banyak yang chat ke saya ini. Tapi saya bilang nanti setelah Dumas naik ke LP baru kita akomodir semuanya,” tambahnya. Pria yang akrab disapa Jro Ong itu menjelaskan lebih jauh, bahwa dugaan penipuan dan perdagangan manusia ini tidak hanya dilaporkan ke Mapolda Bali. Pihaknya juga Melakukan mediasi ke Disnaker Provinsi Bali pada 27 April 2021.

 

 Di sana diketahui ternyata diduga PT DIM hanya memiliki surat Nomor Induk Berusaha (NIB) dan belum ada memiliki Surat Izin Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (SIP3MI) sebagaimana UU 18 Tahun 2017, atau Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 84 Tahun 2013 terkait dengan penempatan awak kapal. Meski tak punya ijin untuk penempatan pekerja migran, perusahaan itu katanya berani merekrut para calon pekerja. 

 

Karena tergiur dengan tawaran kerja ke luar negeri, para calon pekerja itu rela menyetor uang mereka hingga puluhan juta rupiah ke perusahaan tersebut. “Dia sempat janji untuk pengembalian milik klien kami tidak pernah diberikan, sehingga karena tidak ada itikad baik, kami lalu berikan somasi, tetapi somasi kami tidak juga pernah dibalas. Jadi, 18 Mei 2021 kami melapor ke Polda Bali ke Ditreskrimum Polda Bali,” tambahnya. 

            

Selain ke Disnaker, pada 14 Februari 2022 Jro Ong dan sejumlah korban sudah bersurat resmi ke tingkat DPRD Bali. Namun hingga kini, kata dia anggota dewan yang diharapkan melakukan fungsi-fungsi pengawasan, termasuk menampung aspirasi masyarakat, tidak menjawab atau tidak menindaklanjuti surat resmi tersebut. “Belum juga ada balasan suratnya dan suara masyarakat yang mencari kerja ini tidak didengar anggota dewan Bali, seharusnya mereka tahu dan bisa menerima kami,” ucapnya.

 

Padahal kata dia, kasus ini bukanlah kasus sepele. Sudah banyak memakan korban. Dia mencontohkan adanya beberapa pekerja migran yang beberapa waktu lalu sempat luntang Lantung di luar negeri karena berangkat melalui agen yang tidak resmi. Pada kesempatan yang sama, kuasa hukum Putu Suma Gita, menjelaskan laporan terkait calon PMI masih berstatus Pengaduan Masyarakat (Dumas) belum meningkatkan ke Laporan atau (LP). Padahal dua alat bukti, bahkan sudah memenuhi syarat dari penyelidikan ke penyidikan.

 

“Laporan kami dari 18 Mei 2021 di Polda Bali, sampai saat ini sudah memeriksa 15 orang sebagai pelapor, dan 2 orang dari perusahaan. Dari komunikasi dengan pihak penyidik, beberapa hal dari pihak penyidik yang belum dapat dilakukan seperti memanggil pihak terlapor. Sebenarnya pihak penyidik memiliki kewenangan untuk memanggil secara paksa, apalagi kami sudah menerima SP2HP sampai beberapa kali,” jelasnya. 

 

Sementara itu, media ini sudah sempat berupaya mengkonfirmasi kasus ini ke Ira melalui kontak WhatsApp yang didapat oleh media ini. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan. 



DENPASAR – Ada belasan calon pekerja migran yang menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh Dee Ratu Zhaqira alias IRA, 38 sebagai Direktur Utama PT Dunia Insani Mandiri (DIM). Salah satunya Putu Ribu. Pemuda berusia 23 tahun asal Gerokgak, Buleleng itu menyampaikan curhat.

Putu Ribu mengaku telah membayarkan uang Rp32 juta kepada PT Dunia Insan Mandiri sejak tahun 2020. Setelah menyetor sejumlah uang itu, hingga kini dirinya belum juga diberangkatkan untuk bekerja di kapal pesiar.

Nahasnya lagi, keberadaan oknum yang harus bertanggungjawab atas kejadian itu kini sudah tak jelas. 

 

“Sangat besar harapan saya kasus ini supaya lekas diproses, apalagi ini sudah lama sekali, ada yang berkasus dengan kasus dari 2019 akhir dan 2020 awal. Sampai pihak IRA tersebut benar-benar tidak bisa dihubungi, terakhir kami ketemu beliau di Disnaker Provinsi untuk musyawarah. Benar disebutkan mereka tidak memiliki izin, kecuali izin NIB itu,” katanya di Denpasar, Senin (21/3/2022).

 

Dijelaskannya, bahwa tak sedikit dari para korban selain dirinya yang rela meminjam uang kerabat untuk menyetor. Hal itu didasari keinginan mereka untuk bekerja sebagai pekerja migran demi merubah nasib ekonomi keluarganya. Namun kini, uang yang telah mereka pinjam dari pihak lain telah disetor dan mereka tak kunjung diberangkatkan. 

 

“Saya tahu info PT DIM dari Instagram pada Januari 2020, lowongannya pada April 2020 untuk keberangkatannya, saya tertarik, tetapi hasilnya saya mengalami kerugian Rp 32 Juta,” tambahnya. 

Semenyara itu, setelah sempat membuat laporan ke Ditreskrimum Polda Bali pada 18 Mei 2021 lalu, hingga kini laporan dari belasan calon pekerja kapal pesiar yang mengaku ditipu oleh Dee Ratu Zhaqira alias IRA, 38 sebagai Direktur Utama PT Dunia Insani Mandiri (DIM), selaku penyalur tenaga kerja belum membuahkan titik terang. 

 

IRA dilaporkan atas dugaan Pasal 378 terkait dengan dugaan penipuan dan tindak pidana perdagangan orang sebagaimana UU Nomor 21 Tahun 2007.

Kuasa hukum para korban, Nengah Yasa Adi Susanto mengatakan, bahwa pihaknya meminta kepolisian Polda Bali agar secepatnya melakukan penyelidikan dan segera mengungkap dan menangkap Dee Ratu Zhaqira alias IRA, 38 sebagai Direktur Utama PT Dunia Insani Mandiri (DIM).

Selain karena banyak merugikan korban, dikhawatirkan modus yang sama Alma dilakukan kembali dan menimbulkan makin banyak korban. 

 

“Sudah 10 bulan laporannya diam dalam bentuk Pengaduan Masyarakat (Dumas). Sudah  ada 2 alat bukti, tetapi masih diam di Ditreskrimum Polda Bali,” terang Adi Susanto kepada awak media di Denpasar, Senin (21/3/2022). Dijelaskannya, saat ini pihaknya bertindak sebagai kuasa hukum dari 15 orang calon pekerja migran. Namun, di luar sana, disinyalir korban dari dugaan penipuan itu masih banyak bahkan masih ada piluhan lagi.

 

“Korbannya diduga masih banyak. Karena sudah banyak yang chat ke saya ini. Tapi saya bilang nanti setelah Dumas naik ke LP baru kita akomodir semuanya,” tambahnya. Pria yang akrab disapa Jro Ong itu menjelaskan lebih jauh, bahwa dugaan penipuan dan perdagangan manusia ini tidak hanya dilaporkan ke Mapolda Bali. Pihaknya juga Melakukan mediasi ke Disnaker Provinsi Bali pada 27 April 2021.

 

 Di sana diketahui ternyata diduga PT DIM hanya memiliki surat Nomor Induk Berusaha (NIB) dan belum ada memiliki Surat Izin Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (SIP3MI) sebagaimana UU 18 Tahun 2017, atau Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 84 Tahun 2013 terkait dengan penempatan awak kapal. Meski tak punya ijin untuk penempatan pekerja migran, perusahaan itu katanya berani merekrut para calon pekerja. 

 

Karena tergiur dengan tawaran kerja ke luar negeri, para calon pekerja itu rela menyetor uang mereka hingga puluhan juta rupiah ke perusahaan tersebut. “Dia sempat janji untuk pengembalian milik klien kami tidak pernah diberikan, sehingga karena tidak ada itikad baik, kami lalu berikan somasi, tetapi somasi kami tidak juga pernah dibalas. Jadi, 18 Mei 2021 kami melapor ke Polda Bali ke Ditreskrimum Polda Bali,” tambahnya. 

            

Selain ke Disnaker, pada 14 Februari 2022 Jro Ong dan sejumlah korban sudah bersurat resmi ke tingkat DPRD Bali. Namun hingga kini, kata dia anggota dewan yang diharapkan melakukan fungsi-fungsi pengawasan, termasuk menampung aspirasi masyarakat, tidak menjawab atau tidak menindaklanjuti surat resmi tersebut. “Belum juga ada balasan suratnya dan suara masyarakat yang mencari kerja ini tidak didengar anggota dewan Bali, seharusnya mereka tahu dan bisa menerima kami,” ucapnya.

 

Padahal kata dia, kasus ini bukanlah kasus sepele. Sudah banyak memakan korban. Dia mencontohkan adanya beberapa pekerja migran yang beberapa waktu lalu sempat luntang Lantung di luar negeri karena berangkat melalui agen yang tidak resmi. Pada kesempatan yang sama, kuasa hukum Putu Suma Gita, menjelaskan laporan terkait calon PMI masih berstatus Pengaduan Masyarakat (Dumas) belum meningkatkan ke Laporan atau (LP). Padahal dua alat bukti, bahkan sudah memenuhi syarat dari penyelidikan ke penyidikan.

 

“Laporan kami dari 18 Mei 2021 di Polda Bali, sampai saat ini sudah memeriksa 15 orang sebagai pelapor, dan 2 orang dari perusahaan. Dari komunikasi dengan pihak penyidik, beberapa hal dari pihak penyidik yang belum dapat dilakukan seperti memanggil pihak terlapor. Sebenarnya pihak penyidik memiliki kewenangan untuk memanggil secara paksa, apalagi kami sudah menerima SP2HP sampai beberapa kali,” jelasnya. 

 

Sementara itu, media ini sudah sempat berupaya mengkonfirmasi kasus ini ke Ira melalui kontak WhatsApp yang didapat oleh media ini. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/