alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Kasus Bug*l Live, Psikolog Minta Warga Jangan Nilai Tanpa Dasar

TERUNGKAPNYA kasus bug*l live di aplikasi Mango yang dilakukan Selebgram cantik asal Cianjur, Jawa Barat masih terus viral.

 

Bahkan meski sudah ditangkap dan resmi ditetapkan tersangka, gunjingan tak henti ditujukan bagi perempuan cantik pemilik nama lengkap Rani Rahmawati alias Kuda Poni alias Bintang Live.

 

Lalu apa pendapat psikolog dengan aksi erotis dengan umbar aurat secara berbayar dengan ditonton ribuan orang ini?

 

WAYAN WIDYANTARA, Denpasar

 

MENYIKAPI kasus ini, Psikolog Caecilia Nirlaksita Rini, S.Psi, M.Si, meminta agar publik atau masyarakat tak mudah menilai tanpa dasar.

 

“Dari kasus ini tentang mengumbar aurat, kita sebaiknya tidak selayaknya melakukan penilaian yang tanpa dasar,” ujar Psikolog Rini_sapaan akrab Caecilia Nirlaksita Rini saat dimintai pendapat oleh radarbali.id pada Selasa (21/9/2021) kemarin.

Baca Juga:  Polisi Tangkap WN Prancis Pengedar Narkoba di Kawasan Sanur

 

Psikolog klinis dengan pendidikan Cultural Studies (Kajian Budaya) di Universiras Udayana ini meminta agar masyarakat sepenuhnya menyerahkan pada proses penyidikan di kepolisian.

 

“Menelaah kasus ini, kompetensi psikolog dan atau psikiater bisa membantu untuk melakukan profiling pada subjek,” sarannya.

 

Fungsi profiling kata Rini, yakni dengan memberikan assesment psikologi dan mental yang diperlakukan pada subjek. Sehingga dakwaan bisa terbantu dengan diagnosis yang detail.

 

“Apakah si subjek mengumbar aurat karena benar-benar karena motivasi adanya kebutuhan ekonomi atau kebutuhan penghargaan (ada gangguan kepribadian, gangguan perilaku seksual yang sering disebut sebagai gangguan exhibitionism)

Mari kita lebih kritis juga melihat produk yang menyediakan plesure( kepuasan seksual),” tuturnya.

Baca Juga:  Banyak Penasaran, Ini Sosok De Budi Korban Penebasan di Monang-Maning

 

Selain itu, ditambahkan Rini, aplikasi yang dipilih secara khusus mengakomodir kebutuhan konsumen yang ternyata memiliki pasar atau demand yang banyak dalam kebutuhan pemuasan seksual online, maka aplikasi ini menawarkan produk pelayanan kepuasan seksual juga harus menjadi pertimbangan lain sebelum menilai subjek.

 

“Diagnosis yang ditegakkan dalam profiling psikologis, bisa ada kemungkinan ditemukan bukti yang mengarahkan pada adanya gangguan perilaku seksual atau mungkin hanya murni karena motivasi ekonomi, artinya sebagai cara menyelesaikan masalah himpitan ekonomi,”jelasnya.

 

Selain itu, kata Rini, bisa jadi aksi ini terjadi karena kurangnya kemampuan mengontrol emosi. Sehingga ego atau diri tidak mampu mengontrol kebutuhan yang berlebihan pada kenyamanan ketergantungan pada materi.


TERUNGKAPNYA kasus bug*l live di aplikasi Mango yang dilakukan Selebgram cantik asal Cianjur, Jawa Barat masih terus viral.

 

Bahkan meski sudah ditangkap dan resmi ditetapkan tersangka, gunjingan tak henti ditujukan bagi perempuan cantik pemilik nama lengkap Rani Rahmawati alias Kuda Poni alias Bintang Live.

 

Lalu apa pendapat psikolog dengan aksi erotis dengan umbar aurat secara berbayar dengan ditonton ribuan orang ini?

 

WAYAN WIDYANTARA, Denpasar

 

MENYIKAPI kasus ini, Psikolog Caecilia Nirlaksita Rini, S.Psi, M.Si, meminta agar publik atau masyarakat tak mudah menilai tanpa dasar.

 

“Dari kasus ini tentang mengumbar aurat, kita sebaiknya tidak selayaknya melakukan penilaian yang tanpa dasar,” ujar Psikolog Rini_sapaan akrab Caecilia Nirlaksita Rini saat dimintai pendapat oleh radarbali.id pada Selasa (21/9/2021) kemarin.

Baca Juga:  Dituding Langgar SOP Kirim Uang Malam-malam, Begini Respons PT Andalan

 

Psikolog klinis dengan pendidikan Cultural Studies (Kajian Budaya) di Universiras Udayana ini meminta agar masyarakat sepenuhnya menyerahkan pada proses penyidikan di kepolisian.

 

“Menelaah kasus ini, kompetensi psikolog dan atau psikiater bisa membantu untuk melakukan profiling pada subjek,” sarannya.

 

Fungsi profiling kata Rini, yakni dengan memberikan assesment psikologi dan mental yang diperlakukan pada subjek. Sehingga dakwaan bisa terbantu dengan diagnosis yang detail.

 

“Apakah si subjek mengumbar aurat karena benar-benar karena motivasi adanya kebutuhan ekonomi atau kebutuhan penghargaan (ada gangguan kepribadian, gangguan perilaku seksual yang sering disebut sebagai gangguan exhibitionism)

Mari kita lebih kritis juga melihat produk yang menyediakan plesure( kepuasan seksual),” tuturnya.

Baca Juga:  Korupsi APBDes Tak Kunjung Ada Tersangka, Warga Dauh Puri Klod Gusar

 

Selain itu, ditambahkan Rini, aplikasi yang dipilih secara khusus mengakomodir kebutuhan konsumen yang ternyata memiliki pasar atau demand yang banyak dalam kebutuhan pemuasan seksual online, maka aplikasi ini menawarkan produk pelayanan kepuasan seksual juga harus menjadi pertimbangan lain sebelum menilai subjek.

 

“Diagnosis yang ditegakkan dalam profiling psikologis, bisa ada kemungkinan ditemukan bukti yang mengarahkan pada adanya gangguan perilaku seksual atau mungkin hanya murni karena motivasi ekonomi, artinya sebagai cara menyelesaikan masalah himpitan ekonomi,”jelasnya.

 

Selain itu, kata Rini, bisa jadi aksi ini terjadi karena kurangnya kemampuan mengontrol emosi. Sehingga ego atau diri tidak mampu mengontrol kebutuhan yang berlebihan pada kenyamanan ketergantungan pada materi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/