alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Berakhir Happy Ending, Bendesa dan 70 Warga Jro Kuta Sepakat Berdamai

GIANYAR – Setelah bergulir cukup lama dan berlarut, permasalahan pensertifikatan tanah melalui program PTSL di Desa Adat Jero Kuta, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar berakhir happy ending.

 

Atas konflik yang menyebabkan dua orang menerima sanksi kanorayang alias pengucilan dan mengakibatkan bendesa setempat berstatus sebagai tersangka itu, akhirnya menemukan titik damai.

 

Kedua belah pihak, yakni kubu Bendesa yang jadi tersangka dan kubu Krama yang kena kanorayang (dikucilkan) menandatangani kesepakatan perdamaian di taman halaman belakang kantor Bupati Gianyar, Jumat (22/10).

 

Total ada delapan poin kesepakatan perdamaian.

- Advertisement -

 

Penandatanganan kesepakatan itu disaksikan oleh Bupati Gianyar, Ketua DPRD, Kapolres dan Dandim.

Baca Juga:  Sekda Gus Gaga Dipecat, Bupati Segera Tunjuk Sekda Baru

 

Usai penandatanganan, Bupati Made Mahayastra menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya khususnya kepada warga Desa Adat Jero Kuta, Desa Pejeng. Karena telah berkorban untuk Gianyar dan khususnya untuk Desa Pejeng.

 

“Hari ini adalah kemenangan kita semua. Hari yang sangat luar biasa. Semua disini berkorban untuk Gianyar,” ujar Mahayastra.

 

Kata dia, semua pihak mengalah secara pikiran, material, waktu, tenaga, emosi. “Semua hanya satu kata untuk Gianyar dan untuk Pejeng,” imbuhnya.

 

Mahayastra menambahkan, dalam hal ini tak perlu mencari pembenaran. Karena hukum dibuat adalah untuk mensejahterakan rakyatnya, untuk melindungi rakyatnya. Penyelesaian masalah dengan cara damai, merupakan cara-cara terhormat dan merupakan bukti kedewasaan.

Baca Juga:  Duh, Remaja Putri Pengendara Scoopy Jadi Korban Tabrak Lari

 

“Dengan ditandatangani kesepakatan tadi, itu adalah hati kita. Disanalah tumpahan hati kita, keseriusan kita untuk berkomitmen,” ujarnya.

 

Mahayastra menambahkan, penyelesaian masalah ini dengan cara damai ini akan menjadi percontohan. Karena tak menutup kemungkinan, permasalahan serupa juga akan terjadi di desa-desa lain di Gianyar maupun luar Gianyar.

 

“Ciri orang besar adalah orang yang bisa memaafkan orang. Orang yang besar bisa mengoreksi dirinya dan itu sudah kita lakukan. Kita semua ini adalah orang besar,” pungkasnya.

- Advertisement -

GIANYAR – Setelah bergulir cukup lama dan berlarut, permasalahan pensertifikatan tanah melalui program PTSL di Desa Adat Jero Kuta, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar berakhir happy ending.

 

Atas konflik yang menyebabkan dua orang menerima sanksi kanorayang alias pengucilan dan mengakibatkan bendesa setempat berstatus sebagai tersangka itu, akhirnya menemukan titik damai.

 

Kedua belah pihak, yakni kubu Bendesa yang jadi tersangka dan kubu Krama yang kena kanorayang (dikucilkan) menandatangani kesepakatan perdamaian di taman halaman belakang kantor Bupati Gianyar, Jumat (22/10).

 

Total ada delapan poin kesepakatan perdamaian.

 

Penandatanganan kesepakatan itu disaksikan oleh Bupati Gianyar, Ketua DPRD, Kapolres dan Dandim.

Baca Juga:  Dua Penyelundup Sabu dalam Sandal Kena 14 Tahun Penjara

 

Usai penandatanganan, Bupati Made Mahayastra menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya khususnya kepada warga Desa Adat Jero Kuta, Desa Pejeng. Karena telah berkorban untuk Gianyar dan khususnya untuk Desa Pejeng.

 

“Hari ini adalah kemenangan kita semua. Hari yang sangat luar biasa. Semua disini berkorban untuk Gianyar,” ujar Mahayastra.

 

Kata dia, semua pihak mengalah secara pikiran, material, waktu, tenaga, emosi. “Semua hanya satu kata untuk Gianyar dan untuk Pejeng,” imbuhnya.

 

Mahayastra menambahkan, dalam hal ini tak perlu mencari pembenaran. Karena hukum dibuat adalah untuk mensejahterakan rakyatnya, untuk melindungi rakyatnya. Penyelesaian masalah dengan cara damai, merupakan cara-cara terhormat dan merupakan bukti kedewasaan.

Baca Juga:  Tusuk Pemuda Desa Bila Hingga Sekarat, Tersangka Ungkap Fakta Bak Hero

 

“Dengan ditandatangani kesepakatan tadi, itu adalah hati kita. Disanalah tumpahan hati kita, keseriusan kita untuk berkomitmen,” ujarnya.

 

Mahayastra menambahkan, penyelesaian masalah ini dengan cara damai ini akan menjadi percontohan. Karena tak menutup kemungkinan, permasalahan serupa juga akan terjadi di desa-desa lain di Gianyar maupun luar Gianyar.

 

“Ciri orang besar adalah orang yang bisa memaafkan orang. Orang yang besar bisa mengoreksi dirinya dan itu sudah kita lakukan. Kita semua ini adalah orang besar,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/