alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Tiga Mantan Pengurus LPD Gerokgak Dijebloskan ke Tahanan

SINGARAJA– Kasus dugaan korupsi di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Gerokgak berlanjut.

Terbaru, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali menahan tiga orang mantan pengurus LPD Gerokgak, Rabu (23/6). Penahanan dilakukan setelah berkas perkara ketiganya dilimpahkan ke penuntut umum.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, tim dari Kejati Bali sejak pagi telah berada di Kejaksaan Negeri Buleleng. Keberadaan tim penyidik Kejati Bali, itu terkait persiapan pelimpahan perkara dari jaksa penyidik pada jaksa penuntut umum (JPU).

Pelimpahan perkara sengaja dilakukan di Buleleng, agar memudahkan para tersangka menjalani proses pemeriksaan.

Sejatinya proses pelimpahan direncanakan berlangsung pada pukul 10.00 pagi. Namun proses itu molor hingga pukul 14.30 siang. Penyebabnya, para tersangka terlambat datang ke kejaksaan.

Para tersangka baru datang ke Kejari Buleleng pada pukul 12.15 siang. Mereka mengendarai dua unit sepeda motor yang berbeda. Para tersangka itu adalah MS yang juga mantan sekretaris, mantan bendahara LPD berinisial NM, serta seorang debt collector berinisial KS.

Begitu datang di Kejari Buleleng, ketiganya langsung diarahkan menuju ruang pelimpahan di lantai dua Kejari Buleleng.

Baca Juga:  DUH, Viral Dua Pemuda NTT Dibegal Ternyata Hanya Korban Pengeroyokan
- Advertisement -

Tak lama kemudian pengacara para tersangka, yakni Gede Suryadilaga, juga terlihat datang dan langsung naik ke ruang penyidikan.

Sebelum ditahan, para tersangka sempat diminta menjalani rapid test antigen. Mereka juga menjalani proses pemeriksaan kesehatan di klinik kejaksaan.

Tepat pukul 14.30, ketiganya digiring ke mobil tahanan. Mereka telah mengenakan rompi oranye dengan tangan terborgol. Ketiganya langsung dititipkan di Rutan Mapolres Buleleng sambil menanti proses persidangan.

“Ditahan oleh JPU dari Kejati Bali. Jadi tadi proses pelimpahan perkaranya memang di sini. Tapi yang melakukan pelimpahan itu dari penyidik kejati pada JPU kejati,” ungkap Humas Kejari Buleleng Anak Agung Jayalantara.

Menurut Jayalantara, perkara itu merupakan pengembangan terhadap perkara dugaan korupsi LPD Gerokgak, dengan terpidana Komang Agus Putrajaya.

Agus sendiri telah dijatuhi pidana selama tiga tahun penjara.

Ia dianggap bertanggungjawab dalam pengelolaan LPD, hingga menyebabkan LPD tersebut limbung.

Belakangan dalam proses penyidikan, diketahui Agus Putrajaya tak beraksi sendirian.

Ada tiga orang pengurus lain yang turut bertanggungjawab. Mereka adalah MS yang diduga menilep dana Rp 120,5 juta, tersangka NM yang menggunakan dana sebesar Rp 143,96 juta, dan tersangka KS yang memanfaatkan dana Rp 230,52 juta.

Baca Juga:  Yakin Waras, Terdakwa yang Makan Kotoronnya Sendiri Dituntut 2,3 Tahun

“Modusnya serupa, kredit fiktif. Awalnya mereka kas bon. Kemudian dicatatkan dalam pembukuan, seolah-olah itu kredit yang dilakukan oleh nasabah,” jelas Jayalantara.

Menurutnya tim dari Kejati Bali terus mengembangkan fakta-fakta hukum yang ada. “Nanti dilihat dalam proses persidangan. Kalau memang ada fakta baru, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pengembangan,” ujarnya.

Ketiganya kini dititipkan di rutan Mapolres Buleleng untuk sementara waktu.

Mereka dikenakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 21 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara dan denda hingga Rp 1 miliar. 

- Advertisement -

SINGARAJA– Kasus dugaan korupsi di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Gerokgak berlanjut.

Terbaru, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali menahan tiga orang mantan pengurus LPD Gerokgak, Rabu (23/6). Penahanan dilakukan setelah berkas perkara ketiganya dilimpahkan ke penuntut umum.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, tim dari Kejati Bali sejak pagi telah berada di Kejaksaan Negeri Buleleng. Keberadaan tim penyidik Kejati Bali, itu terkait persiapan pelimpahan perkara dari jaksa penyidik pada jaksa penuntut umum (JPU).

Pelimpahan perkara sengaja dilakukan di Buleleng, agar memudahkan para tersangka menjalani proses pemeriksaan.

Sejatinya proses pelimpahan direncanakan berlangsung pada pukul 10.00 pagi. Namun proses itu molor hingga pukul 14.30 siang. Penyebabnya, para tersangka terlambat datang ke kejaksaan.

Para tersangka baru datang ke Kejari Buleleng pada pukul 12.15 siang. Mereka mengendarai dua unit sepeda motor yang berbeda. Para tersangka itu adalah MS yang juga mantan sekretaris, mantan bendahara LPD berinisial NM, serta seorang debt collector berinisial KS.

Begitu datang di Kejari Buleleng, ketiganya langsung diarahkan menuju ruang pelimpahan di lantai dua Kejari Buleleng.

Baca Juga:  Soal Ponsel Raib Sebelum Pemusnahan, Kejati Bakal Siapkan Sanksi

Tak lama kemudian pengacara para tersangka, yakni Gede Suryadilaga, juga terlihat datang dan langsung naik ke ruang penyidikan.

Sebelum ditahan, para tersangka sempat diminta menjalani rapid test antigen. Mereka juga menjalani proses pemeriksaan kesehatan di klinik kejaksaan.

Tepat pukul 14.30, ketiganya digiring ke mobil tahanan. Mereka telah mengenakan rompi oranye dengan tangan terborgol. Ketiganya langsung dititipkan di Rutan Mapolres Buleleng sambil menanti proses persidangan.

“Ditahan oleh JPU dari Kejati Bali. Jadi tadi proses pelimpahan perkaranya memang di sini. Tapi yang melakukan pelimpahan itu dari penyidik kejati pada JPU kejati,” ungkap Humas Kejari Buleleng Anak Agung Jayalantara.

Menurut Jayalantara, perkara itu merupakan pengembangan terhadap perkara dugaan korupsi LPD Gerokgak, dengan terpidana Komang Agus Putrajaya.

Agus sendiri telah dijatuhi pidana selama tiga tahun penjara.

Ia dianggap bertanggungjawab dalam pengelolaan LPD, hingga menyebabkan LPD tersebut limbung.

Belakangan dalam proses penyidikan, diketahui Agus Putrajaya tak beraksi sendirian.

Ada tiga orang pengurus lain yang turut bertanggungjawab. Mereka adalah MS yang diduga menilep dana Rp 120,5 juta, tersangka NM yang menggunakan dana sebesar Rp 143,96 juta, dan tersangka KS yang memanfaatkan dana Rp 230,52 juta.

Baca Juga:  DUH, Viral Dua Pemuda NTT Dibegal Ternyata Hanya Korban Pengeroyokan

“Modusnya serupa, kredit fiktif. Awalnya mereka kas bon. Kemudian dicatatkan dalam pembukuan, seolah-olah itu kredit yang dilakukan oleh nasabah,” jelas Jayalantara.

Menurutnya tim dari Kejati Bali terus mengembangkan fakta-fakta hukum yang ada. “Nanti dilihat dalam proses persidangan. Kalau memang ada fakta baru, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pengembangan,” ujarnya.

Ketiganya kini dititipkan di rutan Mapolres Buleleng untuk sementara waktu.

Mereka dikenakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 21 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara dan denda hingga Rp 1 miliar. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/