alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Seruni: Dari 29 Dugaan Kekerasan Seksual di Unud, 5 Berupa Perkosaan

DENPASAR – Dugaan kekerasan seksual di Universitas Udayana (Unud) sebagaimana aduan yang diterima organisasi perempuan bernama Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) sebanyak 29 kasus. Dari jumlah itu, lima di antaranya berupa perkosaan.

 

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Komite Persiapan SERUNI Bali, Ufiya Amirah pada Senin (22/11/2021). Amirah menjelaskan, 29 kasus dugaan kekeran seksual di Unud yang diterima Seruni merupakan data sampai Oktober 2021.

 

Dijelaskan, 29 aduan dugaan kekerasan seksual itu korbannya Mahasiswa UNUD dan 1 Non-mahasiswa Unud.

 

Korbannya tersebar di sejumlah fakultas. Setidaknya ada di 13 fakultas. Rinciannya, 13 di Fakultas Ilmu Fakultas Ilmu Budaya (FIB), 2 orang di Fakultas Hukum, 1 orang dari Fakultas Pertanian (FP).

 

Berikutnya, 1 orang di Fakultas Peternakan (FAPET), 2 orang di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), 2 orang di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 1 orang di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).

 

Dan ada 1 orang dari FISIP dan 5 orang dari Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) serta 1 korban non-mahasiswa Unud.

 

Amirah menjelaskan, dari 29 kasus dugaan kekerasan seksual yang diadulan kepada Seruni Bali, terduga pelakunya merupakan 4 orang bersatus dosen atau akademisi/ staf, 14 orang mahasiswa, 1 orang alumnus, 1 buruh, dan 9 orang masyarakat umum.

 

Amirah melanjutkan, untuk bentuk kekerasan seksual yang dialami korban berbeda-beda. Yang tercatat Seruni Bali berdasar aduan yang diterima, yakni 5 kasus perkosaan, 19 kasus pelecehan seksual, 3 kasus intimidasi bernuansa seksual, 1 kasus eksploitasi seksual dan 2 kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO).

 

“Variasi jenis kekerasan seksual didasarkan pada pengalaman korban bisa lebih dari satu jenis kekerasan seksual,” kata Amirah.

 

Meski demikian, lanjut Amirah, seluruh korban kekerasan seksual di Unud yang mengadu ke Seruni minta adanya proses hukum. Dikatakan, dari 29 korban tersebut, 1 orang korban meminta pendampingan hukum, 2 korban meminta layanan konseling ke psikolog dan 27 korban hanya memberikan aduan tanpa meminta bantuan hukum dan atau layanan konseling.

 

“Perlu ketegasan dari pihak UNUD untuk melakukan penanganan pencegahan kekerasan seksual,” harapan Amirah.

 

Ketegasan tersebut dapat ditempuh oleh rektor Unud dengan instrumen Permendikbud Nomor 30 tahun 2021 tentang PPKS.



DENPASAR – Dugaan kekerasan seksual di Universitas Udayana (Unud) sebagaimana aduan yang diterima organisasi perempuan bernama Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) sebanyak 29 kasus. Dari jumlah itu, lima di antaranya berupa perkosaan.

 

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Komite Persiapan SERUNI Bali, Ufiya Amirah pada Senin (22/11/2021). Amirah menjelaskan, 29 kasus dugaan kekeran seksual di Unud yang diterima Seruni merupakan data sampai Oktober 2021.

 

Dijelaskan, 29 aduan dugaan kekerasan seksual itu korbannya Mahasiswa UNUD dan 1 Non-mahasiswa Unud.

 

Korbannya tersebar di sejumlah fakultas. Setidaknya ada di 13 fakultas. Rinciannya, 13 di Fakultas Ilmu Fakultas Ilmu Budaya (FIB), 2 orang di Fakultas Hukum, 1 orang dari Fakultas Pertanian (FP).

 

Berikutnya, 1 orang di Fakultas Peternakan (FAPET), 2 orang di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), 2 orang di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 1 orang di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).

 

Dan ada 1 orang dari FISIP dan 5 orang dari Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) serta 1 korban non-mahasiswa Unud.

 

Amirah menjelaskan, dari 29 kasus dugaan kekerasan seksual yang diadulan kepada Seruni Bali, terduga pelakunya merupakan 4 orang bersatus dosen atau akademisi/ staf, 14 orang mahasiswa, 1 orang alumnus, 1 buruh, dan 9 orang masyarakat umum.

 

Amirah melanjutkan, untuk bentuk kekerasan seksual yang dialami korban berbeda-beda. Yang tercatat Seruni Bali berdasar aduan yang diterima, yakni 5 kasus perkosaan, 19 kasus pelecehan seksual, 3 kasus intimidasi bernuansa seksual, 1 kasus eksploitasi seksual dan 2 kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO).

 

“Variasi jenis kekerasan seksual didasarkan pada pengalaman korban bisa lebih dari satu jenis kekerasan seksual,” kata Amirah.

 

Meski demikian, lanjut Amirah, seluruh korban kekerasan seksual di Unud yang mengadu ke Seruni minta adanya proses hukum. Dikatakan, dari 29 korban tersebut, 1 orang korban meminta pendampingan hukum, 2 korban meminta layanan konseling ke psikolog dan 27 korban hanya memberikan aduan tanpa meminta bantuan hukum dan atau layanan konseling.

 

“Perlu ketegasan dari pihak UNUD untuk melakukan penanganan pencegahan kekerasan seksual,” harapan Amirah.

 

Ketegasan tersebut dapat ditempuh oleh rektor Unud dengan instrumen Permendikbud Nomor 30 tahun 2021 tentang PPKS.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/