alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Ribut Kuburan Antar Dua Desa Adat di Buleleng Bergulir ke Polda Bali

SINGARAJA– Usai berlarut-larut dan upaya damai buntu, kasus sengketa setra atau kuburan antara dua desa adat di Desa Bakti Seraga, Buleleng akhirnya bergulir ke Polda Bali.

Bahkan atas bergulirnya kasus kuburan ini ke Polda Bali, pihak Majelis Desa Adat (MDA) memutuskan untuk menghentikan proses mediasi antara kedua pihak yang bersengketa (Desa Adat Tista dan Desa Adat Bangkang).

Seperti dibenarkan Bendesa Madya MDA Buleleng Dewa Putu Budarsa.

Saat dikonfirmasi, Rabu (24/2), ia menjelaskan, bahwa sebelum mediasi diputuskan untuk dihentikan karena sudah masuk ke ranah hukum positif, pihak MDA sudah menyurati kedua belah pihak.

Selain itu, MDA juga mengudang Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Buleleng dan Dinas Kebudayaan Buleleng guna menyaksikan proses mediasi.

Namun pada Selasa (23/2), Desa Adat Bangkang melayangkan surat pada MDA Buleleng.

“Mereka menyatakan tidak hadir, karena permasalahannya sudah dibawa ke Polda Bali. karena salah satu pihak tidak hadir, tidak mungkin kami lanjutkan. Namanya mediasi, kedua belah pihak harus bertemu dan kami di tengah-tengah mendamaikan. Jadi terpaksa kami batalkan rapatnya,” kata Budarsa.

Baca Juga:  Ibu Pembunuh Bayi Kembar di Toilet Segera Disidang

Sebenarnya untuk proses mediasi hari ini, MDA Buleleng sudah menyusun draf kesepakatan bersama.

Kesepakatan itu berisi hak dan kewajiban kedua belah pihak dalam memanfaatkan setra secara bersama-sama. Terutama dalam hal komunikasi.

“Kalau Tista mau melakukan perbaikan, harus komunikasi ke Bangkang. Begitu juga sebaliknya. Biar kesepakatan bersama ini diwariskan pada anak cucu mereka. Kalau kesepakatan ini tidak ada, bisa saja besok-besok akan terjadi saling klaim soal kuburan ini,” jelasnya.

Apakah mediasi akan berlanjut? Budarsa mengaku mediasi itu mungkin saja dilaksanakan.

Selama ada itikad baik dari kedua belah pihak. Namun melihat surat dari Desa Adat Bangkang, sengketa tersebut sudah masuk dalam ranah hukum pidana.

“Karena sudah dilaporkan ke Polda, itu artinya kan sudah masuk hukum pidana. Kami tidak punya kewenangan dan tidka bisa intervensi di sana. Kalau memang masih dalam ranah adat, saya akan berusaha mendamaikan, biar tidak ada seteru berkepanjangan,” jelasnya.

Baca Juga:  Keroyok Korban Sampai Mati, Dituntut Ringan Masih Minta Keringanan

Bahkan sebelum dibawa ke Polda, pihaknya juga mengaku bahwa MDA pernah menyampaikan permasalahan tersebut secara lisan pada Petajuh Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) MDA Bali, I Made Wena.

“Kalau toh proses mediasi diambil alih oleh MDA Bali, Budarsa mengaku siap mendelegasikannya pada MDA Bali,”tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Selasa (9/2) pagi sempat terjadi ketegangan antara krama Desa Adat Bangkang dan Desa Adat Tista. Ketegangan itu bermula dari rencana renovasi setra yang dilakukan oleh Desa Adat Tista.

Krama dari Bangkang mengklaim belum menerima pemberitahuan dan sosialisasi dari Desa Adat Tista.

Kondisi itu makin diperparah dengan munculnya informasi di media sosial bahwa akan dibangun krematorium di areal Setra Bakti Seraga. Hal itu pun memicu keberatan krama. 



SINGARAJA– Usai berlarut-larut dan upaya damai buntu, kasus sengketa setra atau kuburan antara dua desa adat di Desa Bakti Seraga, Buleleng akhirnya bergulir ke Polda Bali.

Bahkan atas bergulirnya kasus kuburan ini ke Polda Bali, pihak Majelis Desa Adat (MDA) memutuskan untuk menghentikan proses mediasi antara kedua pihak yang bersengketa (Desa Adat Tista dan Desa Adat Bangkang).

Seperti dibenarkan Bendesa Madya MDA Buleleng Dewa Putu Budarsa.

Saat dikonfirmasi, Rabu (24/2), ia menjelaskan, bahwa sebelum mediasi diputuskan untuk dihentikan karena sudah masuk ke ranah hukum positif, pihak MDA sudah menyurati kedua belah pihak.

Selain itu, MDA juga mengudang Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Buleleng dan Dinas Kebudayaan Buleleng guna menyaksikan proses mediasi.

Namun pada Selasa (23/2), Desa Adat Bangkang melayangkan surat pada MDA Buleleng.

“Mereka menyatakan tidak hadir, karena permasalahannya sudah dibawa ke Polda Bali. karena salah satu pihak tidak hadir, tidak mungkin kami lanjutkan. Namanya mediasi, kedua belah pihak harus bertemu dan kami di tengah-tengah mendamaikan. Jadi terpaksa kami batalkan rapatnya,” kata Budarsa.

Baca Juga:  Adukan Sandos Cs, Kulik Biaya Rekomendasi DPRD Rp16 M, Gubernur Rp14 M

Sebenarnya untuk proses mediasi hari ini, MDA Buleleng sudah menyusun draf kesepakatan bersama.

Kesepakatan itu berisi hak dan kewajiban kedua belah pihak dalam memanfaatkan setra secara bersama-sama. Terutama dalam hal komunikasi.

“Kalau Tista mau melakukan perbaikan, harus komunikasi ke Bangkang. Begitu juga sebaliknya. Biar kesepakatan bersama ini diwariskan pada anak cucu mereka. Kalau kesepakatan ini tidak ada, bisa saja besok-besok akan terjadi saling klaim soal kuburan ini,” jelasnya.

Apakah mediasi akan berlanjut? Budarsa mengaku mediasi itu mungkin saja dilaksanakan.

Selama ada itikad baik dari kedua belah pihak. Namun melihat surat dari Desa Adat Bangkang, sengketa tersebut sudah masuk dalam ranah hukum pidana.

“Karena sudah dilaporkan ke Polda, itu artinya kan sudah masuk hukum pidana. Kami tidak punya kewenangan dan tidka bisa intervensi di sana. Kalau memang masih dalam ranah adat, saya akan berusaha mendamaikan, biar tidak ada seteru berkepanjangan,” jelasnya.

Baca Juga:  Serempak Semprot Disinfektan, Ini Cara Antisipasi Corona Versi Polisi

Bahkan sebelum dibawa ke Polda, pihaknya juga mengaku bahwa MDA pernah menyampaikan permasalahan tersebut secara lisan pada Petajuh Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) MDA Bali, I Made Wena.

“Kalau toh proses mediasi diambil alih oleh MDA Bali, Budarsa mengaku siap mendelegasikannya pada MDA Bali,”tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Selasa (9/2) pagi sempat terjadi ketegangan antara krama Desa Adat Bangkang dan Desa Adat Tista. Ketegangan itu bermula dari rencana renovasi setra yang dilakukan oleh Desa Adat Tista.

Krama dari Bangkang mengklaim belum menerima pemberitahuan dan sosialisasi dari Desa Adat Tista.

Kondisi itu makin diperparah dengan munculnya informasi di media sosial bahwa akan dibangun krematorium di areal Setra Bakti Seraga. Hal itu pun memicu keberatan krama. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/