alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Ngaku Interpol & Peras WNA Uzbekistan, Kapten Kapal Rusia Diadili

DENPASAR– Terdakwa Evgenii Bagriantsev, warga Rusia yang mengaku sebagai mata-mata interpol mulai diadili. Pria 56 tahun itu didakwa melakukan pemerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

“Terdakwa menerima dakwaan dan tidak mengajukan eksepsi,” ujar JPU I Made Dipa Umbara diwawancarai usai sidang daring Selasa kemarin (23/11).

 

Karena terdakwa menerima, sidang yang dipimpin hakim I Putu Suyoga itu akan dilanjutkan dengan pembuktian.

 

Dalam dakwaan JPU terungkap bahwa terdakwa merupakan kapten kapal laut.  Terdakwa mulai melakukan pemerasan pada 17 Februari 2021. Saat itu terdakwa bersama temannya Maxim Zhilitisov (masuk DPO) mendatangi tempat rental motor milik Nikolay Romanov sal Uzbekistan, di Jalan Batu Bolong, Banjar Canggu, Nomor 10, Kuta Utara, Badung.

 

Sebagian sepeda motor tersebut milik saksi Dimitri Babaev. “Kepada korban terdakwa mengaku sebagai informan atau mata-mata interpol. Terdakwa menyebut tempat usaha korban sedang dicari pihak kepolisian,” beber JPU Dipa.

 

JPU Kejati Bali itu melanjutkan, terdakwa juga menyebut Dimitri sedang tersangkut masalah hukum. Terdakwa pun mengancam korban Nikolay Romanov, jika tidak mau bekerja sama maka korban akan mendapat masalah karena bersokongkol dengan Dimitri Babaev.

 

Setelah itu terdakwa menyuruh korban menyusun daftar jumlah sepeda motor sebanyak 21 unit milik Dimitri Babaev untuk diserahkan pada terdakwa dan temannya. “Korban yang ketakutan menuruti permintaan terdakwa,” bebernya.

 

Keesokan harinya secara bertahap sepeda motor tersebut diambil oleh terdakwa sampai tanggal 26 Maret 2021.

 

Dua bulan kemudian, tepatnya pada 22 Mei 2021 terdakwa kembali mengancam korban dengan mengatakan bahwa tempat usahanya bermasalah dan bisa di pidana penjara empat tahun serta denda Rp 400Juta. 

 

Terdakwa lantas meminta uang sebesar Rp 230 juta kepada korban. Korban menolak dengan mengatakan tidak mempunyai uang. Namun, karena diancam terus akhirnya korban mentransfer uang secara bertahap hingga total Rp 121 juta. Korban juga menyerahkan satu buah sepeda motor XMAX seharga 50 juta. Total kerugian yang dialami korban Nikolay sebesar Rp 171 juta.



DENPASAR– Terdakwa Evgenii Bagriantsev, warga Rusia yang mengaku sebagai mata-mata interpol mulai diadili. Pria 56 tahun itu didakwa melakukan pemerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

“Terdakwa menerima dakwaan dan tidak mengajukan eksepsi,” ujar JPU I Made Dipa Umbara diwawancarai usai sidang daring Selasa kemarin (23/11).

 

Karena terdakwa menerima, sidang yang dipimpin hakim I Putu Suyoga itu akan dilanjutkan dengan pembuktian.

 

Dalam dakwaan JPU terungkap bahwa terdakwa merupakan kapten kapal laut.  Terdakwa mulai melakukan pemerasan pada 17 Februari 2021. Saat itu terdakwa bersama temannya Maxim Zhilitisov (masuk DPO) mendatangi tempat rental motor milik Nikolay Romanov sal Uzbekistan, di Jalan Batu Bolong, Banjar Canggu, Nomor 10, Kuta Utara, Badung.

 

Sebagian sepeda motor tersebut milik saksi Dimitri Babaev. “Kepada korban terdakwa mengaku sebagai informan atau mata-mata interpol. Terdakwa menyebut tempat usaha korban sedang dicari pihak kepolisian,” beber JPU Dipa.

 

JPU Kejati Bali itu melanjutkan, terdakwa juga menyebut Dimitri sedang tersangkut masalah hukum. Terdakwa pun mengancam korban Nikolay Romanov, jika tidak mau bekerja sama maka korban akan mendapat masalah karena bersokongkol dengan Dimitri Babaev.

 

Setelah itu terdakwa menyuruh korban menyusun daftar jumlah sepeda motor sebanyak 21 unit milik Dimitri Babaev untuk diserahkan pada terdakwa dan temannya. “Korban yang ketakutan menuruti permintaan terdakwa,” bebernya.

 

Keesokan harinya secara bertahap sepeda motor tersebut diambil oleh terdakwa sampai tanggal 26 Maret 2021.

 

Dua bulan kemudian, tepatnya pada 22 Mei 2021 terdakwa kembali mengancam korban dengan mengatakan bahwa tempat usahanya bermasalah dan bisa di pidana penjara empat tahun serta denda Rp 400Juta. 

 

Terdakwa lantas meminta uang sebesar Rp 230 juta kepada korban. Korban menolak dengan mengatakan tidak mempunyai uang. Namun, karena diancam terus akhirnya korban mentransfer uang secara bertahap hingga total Rp 121 juta. Korban juga menyerahkan satu buah sepeda motor XMAX seharga 50 juta. Total kerugian yang dialami korban Nikolay sebesar Rp 171 juta.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/