30.4 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

Kasat Reskrim Polres Gianyar Beber Perusak Penjor, Bendesa Taro Kelod Tersangka

GIANYAR – Kasus perusakan penjor di rumah Ketut Warka kembali bergulir. Setelah menetapkan enam prajuru sebagai tersangka, terbaru, Bendesa Taro Kelod, Ketut Subawa menyusul menjadi tersangka.

Penetapan tersangka bendesa itu ditegaskan oleh Kasat Reskrim Polres Gianyar AKP Ario Seno Wimoko, pada Kamis siang (24/11). “Kami menetapkan tujuh tersangka. Prajuru ditambah Bendesa. Peran Bendesa menyuruh. Jadi dikenakan Pasal 170 ayat (1) KUHP atau pasal 156a huruf (a) KUHP Jo. pasal 55 ayat (1) Ke-1e KUHP. Pasal 55 itu turut serta,” ujarnya.

Dalam bunyi pasal tersebut, barangsiapa yang dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang dihukum selama-lamanya lima tahun enam bulan penjara atau barangsiapa dengan sengaja dimuka umum melakukan perbuatan penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, dihukum lima tahun penjara.

Lanjut Ario, penetapan Bendesa dan prajuru, sudah berdasarkan prosedur ditambah keterangan para ahli. “Kami sudah minta keterangan ahli agama, ahli pidana, PHDI. Penjor tidak ada kaitan dengan adat. Ini penistaan,” ujarnya.

Baca Juga:  Sadis! Rabu Bunuh Pria Sumba, Jumat Geng Motor ABG Rampok Rohman
ADEGAN REKA ULANG : Rekonstruksi pencabutan penjor di halaman Polres Gianyar, beberapa waktu lalu. Bendesa paling kanan baju hijau tua (terlapor ). (foto-foto:istimewa)

Dari keterangan ahli, penjor merupakan sarana beragama. “Sarana beribadah, ada nilai kesakralan ketika didoakan jelang malam Galungan. Saat Penjor dirusak, disitu masuk penistaan,” imbuhnya.

Ario mengakui, Mangku Ketut Warka dan putranya Wayan Gede Kartika beserta keluarga Kasepekang atau dihukum adat dengan cara dikucilkan. “Walaupun ada Kasepekang, namun adat berjalan sesuai ranah Majelis Adat. Semestinya tidak merusak dan melakukan hal lainnya,” ujarnya.

Dengan penetapan tersangka, maka berkas perkara mereka dinyatakan P21, telah lengkap. Selanjutnya berkas dan tersangka segera dilimpahkan tahap dua ke Kejaksaan Negeri Gianyar. “Sebelum pelimpahan, kami akan tahan mereka. Itu ketegasan kami. Sekarang memang belum ditahan karena menurut penyidik mereka taat wajib lapor,” ungkapnya.

Ario mengaku tidak tebang pilih dalam menegakkan hukum. “Kami tidak pandang bulu, menetapkan tersangka,” ujarnya.

Mantan Kasat Reskrim Klungkung itu menambahkan, kasus ini menjadi pembelajaran bagi bendesa dan pemangku adat. “Untuk menghindari perbuatan melawan hukum. Jangan dzolim.  Kami membela warga yang butuh bantuan hukum,” pintanya.

Baca Juga:  Naik Status Penyidikan, Pimpinan Panti Pelaku Pencabulan Segera TSK?

Terpisah, Kasi Intel Kejari Gianyar Gede Ancana mengakui berkas kasus Penjor telah lengkap. Namun untuk jadwal pelimpahan akan dilakukan secepatnya. “Secepatnya, nanti saya info,” ujarnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, kasus Warka ini panjang dan berliku. Berawal dari sengketa tanah. Lalu Warka dikucilkan. Rumah Warka pun diklaim milik adat. Bersamaan dengan itu, Warka menang atas tanah di pengadilan.

Lalu pada Selasa, 7 Juni 2022 pukul 20.00, penjor yang dipasang di depan rumahnya dicabut oleh prajuru atas arahan bendesa.

Enam prajuru yang lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka di antaranya, I Wayan Nangun sebagai Kelihan Adat, I Made Arsa Nata sebagai Bendahara, I Ketut Gede Adnyana Wakil Kelihan Adat Tempek Kelod Sema, I Ketut Wardana Wakil Kelihan adat Tempek Kauh, I Ketut Suardana Pekaseh Subak Taro Kelod, I Made Wardana Sekretaris Kelian Adat Adat Taro Kelod. (ib indra prasetia/radar bali)

 



GIANYAR – Kasus perusakan penjor di rumah Ketut Warka kembali bergulir. Setelah menetapkan enam prajuru sebagai tersangka, terbaru, Bendesa Taro Kelod, Ketut Subawa menyusul menjadi tersangka.

Penetapan tersangka bendesa itu ditegaskan oleh Kasat Reskrim Polres Gianyar AKP Ario Seno Wimoko, pada Kamis siang (24/11). “Kami menetapkan tujuh tersangka. Prajuru ditambah Bendesa. Peran Bendesa menyuruh. Jadi dikenakan Pasal 170 ayat (1) KUHP atau pasal 156a huruf (a) KUHP Jo. pasal 55 ayat (1) Ke-1e KUHP. Pasal 55 itu turut serta,” ujarnya.

Dalam bunyi pasal tersebut, barangsiapa yang dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang dihukum selama-lamanya lima tahun enam bulan penjara atau barangsiapa dengan sengaja dimuka umum melakukan perbuatan penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, dihukum lima tahun penjara.

Lanjut Ario, penetapan Bendesa dan prajuru, sudah berdasarkan prosedur ditambah keterangan para ahli. “Kami sudah minta keterangan ahli agama, ahli pidana, PHDI. Penjor tidak ada kaitan dengan adat. Ini penistaan,” ujarnya.

Baca Juga:  Pelaku Masih Misterius, Polisi Tunggu Hasil Labfor dan Lacak HP Korban
ADEGAN REKA ULANG : Rekonstruksi pencabutan penjor di halaman Polres Gianyar, beberapa waktu lalu. Bendesa paling kanan baju hijau tua (terlapor ). (foto-foto:istimewa)

Dari keterangan ahli, penjor merupakan sarana beragama. “Sarana beribadah, ada nilai kesakralan ketika didoakan jelang malam Galungan. Saat Penjor dirusak, disitu masuk penistaan,” imbuhnya.

Ario mengakui, Mangku Ketut Warka dan putranya Wayan Gede Kartika beserta keluarga Kasepekang atau dihukum adat dengan cara dikucilkan. “Walaupun ada Kasepekang, namun adat berjalan sesuai ranah Majelis Adat. Semestinya tidak merusak dan melakukan hal lainnya,” ujarnya.

Dengan penetapan tersangka, maka berkas perkara mereka dinyatakan P21, telah lengkap. Selanjutnya berkas dan tersangka segera dilimpahkan tahap dua ke Kejaksaan Negeri Gianyar. “Sebelum pelimpahan, kami akan tahan mereka. Itu ketegasan kami. Sekarang memang belum ditahan karena menurut penyidik mereka taat wajib lapor,” ungkapnya.

Ario mengaku tidak tebang pilih dalam menegakkan hukum. “Kami tidak pandang bulu, menetapkan tersangka,” ujarnya.

Mantan Kasat Reskrim Klungkung itu menambahkan, kasus ini menjadi pembelajaran bagi bendesa dan pemangku adat. “Untuk menghindari perbuatan melawan hukum. Jangan dzolim.  Kami membela warga yang butuh bantuan hukum,” pintanya.

Baca Juga:  Bisnis 5 Kardus Ganja, Diganjar 18 Tahun Penjara Plus Denda Rp 5 M

Terpisah, Kasi Intel Kejari Gianyar Gede Ancana mengakui berkas kasus Penjor telah lengkap. Namun untuk jadwal pelimpahan akan dilakukan secepatnya. “Secepatnya, nanti saya info,” ujarnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, kasus Warka ini panjang dan berliku. Berawal dari sengketa tanah. Lalu Warka dikucilkan. Rumah Warka pun diklaim milik adat. Bersamaan dengan itu, Warka menang atas tanah di pengadilan.

Lalu pada Selasa, 7 Juni 2022 pukul 20.00, penjor yang dipasang di depan rumahnya dicabut oleh prajuru atas arahan bendesa.

Enam prajuru yang lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka di antaranya, I Wayan Nangun sebagai Kelihan Adat, I Made Arsa Nata sebagai Bendahara, I Ketut Gede Adnyana Wakil Kelihan Adat Tempek Kelod Sema, I Ketut Wardana Wakil Kelihan adat Tempek Kauh, I Ketut Suardana Pekaseh Subak Taro Kelod, I Made Wardana Sekretaris Kelian Adat Adat Taro Kelod. (ib indra prasetia/radar bali)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/