alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

TERBARU! Sebelum Disekap, Sopir Sempat Lihat Ciri Pelaku Perampokan

DENPASAR-Rasa trauma masih dirasakan I Ketut Waridana.

 

Sopir sekaligus penjaga rumah mewah yang sempat menjadi korban penyekapan saat aksi perampokan itu juga mengaku masih merasakan sakit di leher dan mulutnya.

 

Meski begitu, saat ditemui Jawa Pos Radar Bali di rumah majikannya, Waridana dengan perlahan mau menjelaskan tentang kronologi perampokan yang nyaris mencelakakan nyawanya itu.

 

 

Menurutnya, bebera jam sebelum dirinya disekap, sekitar jam 9.30, dia keluar dari rumah milik majikannya  untuk membeli lauk ke Kreneng, Denpasar.

 

Usai membeli lauk, dua jam kemudian atau sekitar pukul 11.30, dia balik ke rumah majikanya di Jalan Badak Agung Nomor 3A Denpasar.

 

Namun sebelum masuk, tepatnya di depan rumah, Waridana melihat ada mobil Fortuner putih parkir di depan.

“Saya pikir ada keluarga dari pemilik rumah yang datang. Atau dugaan awal saya, ibu tetangga yang punya mobil dan pinjam parkir,” ungkapnya.


Karena tidak merasa curiga dengan keberadaan mobil, Waridana pun mampir ke tetangga dan sempat mengobrol. “Karena merasa ibu itu (tetangga) yang punya, saya tak tanya lagi siapa yang punya fortuner tersebut,” jelasnya.


Setelah mengobrol sebentar, Waridana pun kemudian masuk ke rumah.

 

Setiba di rumah, dia melihat pintu pagar sudah dibuka. Penasaran, Waridana kemudian menuju ke dalam dan langsung membuka pintu utama.

 

Saat membuka pintu utama, Waridana juga melihat pintu  sudah dalam keadaan terbuka.


“Halo ada keluarga ya di dalam? Saya bilang begitu. Kemudian terdengar bunyi gebrak. Tapi saya pikir suara itu sebelah (tetangga),” jelasnya.

Meski mendengar suara gebrakan yang cukup keras, namun kata Waridana, dirinya belum curiga jika suara itu adalah suara dari perampok.

 

Baru setelah masuk ke dalam lagi, pelaku baru menarik lehernya dan

meminta dirinya tengkurap dengan  punggung diinjak serta kaki, dan tangan diikat.

 

Setelah diikat, perampok tersebut membekap mulut Waridana dan terakhir menutup wajah Waridana dengan baju supaya tidak melihat aksi perampok tersebut.


Menariknya, sebelum di bekap dan ditutup wajahnya, Waridana sempat melihat ciri-ciri dari pelaku.

 

Antaranya, menggunakan pakaian rapi, seragam biru muda atasnya dan baju tangan pendek dimasukan ke dalam celana.


Kejadian tersebut berlangsung cukup lama. Sekitar 25 menit. Namun, sebelum dibekap, Waridana mengaku sempat di interogasi dalam kondisi terikat.


Adapun isi interogasi dari pelaku kata Waridana, pelaku sempat bertanya kepada Waridana. Menurutnya, pelaku sempat bertanya,

“Siapa kamu?” Tanya pelaku yang langsung dijawab Waridana “Saya yang jaga rumah”, “Mana bos kamu?” (Bos saya di luar negeri, di Timor Leste),

Siapa lagi yang kamu ajak jaga? (Sendiri pak), Kapan bos mu datang? (Paling sebulan sekali pak) dan terakhir ditanya, di sini ada CCTV tidak? (Ndak ada pak).


Setelah itu, perampok ini kembali menggeledah empat kamar yang ada di rumah tersebut. Dalam kejadian tersebut, ada dua perampok.

 

 Satu masuk menggeledah kamar dan satunya berada di dalam mobil.

“Saya saat itu merasa bodoh sekali. Tidak terpikir bahwa itu perampokan.

Saya bilang, pak pak, saya mohon hidup saja. Silahkan bergerak pak. Kalau bisa. Pergikan saya jauh-jauh dari sini (rumah),” ujar dalam keadaan tercekik oleh perampok dan bernegosiasi dengan perampok.




DENPASAR-Rasa trauma masih dirasakan I Ketut Waridana.

 

Sopir sekaligus penjaga rumah mewah yang sempat menjadi korban penyekapan saat aksi perampokan itu juga mengaku masih merasakan sakit di leher dan mulutnya.

 

Meski begitu, saat ditemui Jawa Pos Radar Bali di rumah majikannya, Waridana dengan perlahan mau menjelaskan tentang kronologi perampokan yang nyaris mencelakakan nyawanya itu.

 

 

Menurutnya, bebera jam sebelum dirinya disekap, sekitar jam 9.30, dia keluar dari rumah milik majikannya  untuk membeli lauk ke Kreneng, Denpasar.

 

Usai membeli lauk, dua jam kemudian atau sekitar pukul 11.30, dia balik ke rumah majikanya di Jalan Badak Agung Nomor 3A Denpasar.

 

Namun sebelum masuk, tepatnya di depan rumah, Waridana melihat ada mobil Fortuner putih parkir di depan.

“Saya pikir ada keluarga dari pemilik rumah yang datang. Atau dugaan awal saya, ibu tetangga yang punya mobil dan pinjam parkir,” ungkapnya.


Karena tidak merasa curiga dengan keberadaan mobil, Waridana pun mampir ke tetangga dan sempat mengobrol. “Karena merasa ibu itu (tetangga) yang punya, saya tak tanya lagi siapa yang punya fortuner tersebut,” jelasnya.


Setelah mengobrol sebentar, Waridana pun kemudian masuk ke rumah.

 

Setiba di rumah, dia melihat pintu pagar sudah dibuka. Penasaran, Waridana kemudian menuju ke dalam dan langsung membuka pintu utama.

 

Saat membuka pintu utama, Waridana juga melihat pintu  sudah dalam keadaan terbuka.


“Halo ada keluarga ya di dalam? Saya bilang begitu. Kemudian terdengar bunyi gebrak. Tapi saya pikir suara itu sebelah (tetangga),” jelasnya.

Meski mendengar suara gebrakan yang cukup keras, namun kata Waridana, dirinya belum curiga jika suara itu adalah suara dari perampok.

 

Baru setelah masuk ke dalam lagi, pelaku baru menarik lehernya dan

meminta dirinya tengkurap dengan  punggung diinjak serta kaki, dan tangan diikat.

 

Setelah diikat, perampok tersebut membekap mulut Waridana dan terakhir menutup wajah Waridana dengan baju supaya tidak melihat aksi perampok tersebut.


Menariknya, sebelum di bekap dan ditutup wajahnya, Waridana sempat melihat ciri-ciri dari pelaku.

 

Antaranya, menggunakan pakaian rapi, seragam biru muda atasnya dan baju tangan pendek dimasukan ke dalam celana.


Kejadian tersebut berlangsung cukup lama. Sekitar 25 menit. Namun, sebelum dibekap, Waridana mengaku sempat di interogasi dalam kondisi terikat.


Adapun isi interogasi dari pelaku kata Waridana, pelaku sempat bertanya kepada Waridana. Menurutnya, pelaku sempat bertanya,

“Siapa kamu?” Tanya pelaku yang langsung dijawab Waridana “Saya yang jaga rumah”, “Mana bos kamu?” (Bos saya di luar negeri, di Timor Leste),

Siapa lagi yang kamu ajak jaga? (Sendiri pak), Kapan bos mu datang? (Paling sebulan sekali pak) dan terakhir ditanya, di sini ada CCTV tidak? (Ndak ada pak).


Setelah itu, perampok ini kembali menggeledah empat kamar yang ada di rumah tersebut. Dalam kejadian tersebut, ada dua perampok.

 

 Satu masuk menggeledah kamar dan satunya berada di dalam mobil.

“Saya saat itu merasa bodoh sekali. Tidak terpikir bahwa itu perampokan.

Saya bilang, pak pak, saya mohon hidup saja. Silahkan bergerak pak. Kalau bisa. Pergikan saya jauh-jauh dari sini (rumah),” ujar dalam keadaan tercekik oleh perampok dan bernegosiasi dengan perampok.




Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/