alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Kejati Bali Jebloskan 9 TSK Korupsi Asal Tabanan dan Buleleng ke Bui

DENPASAR- Selama Februari 2021, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali telah menetapkan dan menjebloskan sembilan orang tersangka (TSK) ke penjara dari dua kasus korupsi di dua kabupaten di Bali.

 

Dua kasus ini dimulai dari perkara dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pemberian kredit yang dilakukan oleh pengurus Lembaga Perkreditan Desa Gerogak, Buleleng tahun 2008 sampai tahun 2015.

 

Penyidikan kasus ini merupakan pengembangan dari Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Denpasar tahun 2020 dalam perkara Tindak Pidana Korupsi pengelolaan keuangan LPD Desa Pekraman Gerogak dengan terpidana atas nama Komang Agus Putrajaya, S.E. 

 

Dari Putusan perkara tersebut, Tim Jaksa Penyidik menemukan peranan 5 (Lima) orang lainnya yang merupakan pengurus dan karyawan LPD Desa Pekraman Gerogak.

 

Kelima orang itu, yakni masing-masing berinisial MS sebagai Sekertaris, DKM selaku Bendahara, NM selaku Bendahara, KS selaku karyawan kredit, dan GG selaku karyawan debitur.

 

“Mereka secara bersama-sama dengan Komang Agus Putrajaya (Ketua LPD) melakukan tindak pidana korupsi dengan modus membuat kas bon secara bertahap sejak tahun 2008 yang kemudian setelah kas bon tersebut terkumpul dalam jumlah yang cukup besar dialihkan menjadi kredit atas nama pengurus, maupun atas nama keluarganya,” terang Kasi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Bali, A.Luga Harlinato, Kamis (25/2).

 

 

Akibat perbuatan keenam tersangka (TSK), LPD Desa Pekraman Gerogak mengalami kerugian sejumlah Rp. 1.264.686.000.

 

Lebih lanjut, Luga menambahkan, berdasarkan hasil ekspose, tersangka atas nama MS, NM dan KS ditingkatkan statusnya menjadi tersangka dugaan tindak pidana korupsi kredit fiktif pada LPD Desa Pekraman Gerogak.

Baca Juga:  Tragis, Rumah Warga Rendang Ludes Terbakar, Korban Rugi Ratusan Juta

 

Mereka disangkakan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1. 

 

Pelaku atas nama GG telah meninggal dunia pada tahun 2018.

 

Sedangkan pelaku DKM telah mengembalikan uang LPD Desa Pekraman Gerogak yang digunakan sebagai dana pribadi pada Oktober 2019.

 

Lalu, kasus korupsi kedua yang ditangani Kejati Bali yakni tindak pidana korupsi terhadap aset negara berupa tanah kantor Kejaksaan Negeri Tabanan. 

 

Dimana, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan memiliki aset berupa tanah kantor yang perolehannya dengan status hak pakai dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia Cq. Kejaksaan Tinggi Bali untuk digunakan sebagai kantor dan rumah dinas Kejaksaan Negeri Tabanan sejak tahun 1974.

 

Adapun tanah tersebut merupakan tanah negara sejak Desember 1968.

 

Pada tanah tersebut telah dibangun kantor dan rumah dinas.

Sejak tahun 1997, yaitu pada saat berpindahnya kantor Kejari Tabanan ke lokasi saat ini, keluarga dari tersangka IKG, PM dan MK mengklaim bahwa tanah tersebut adalah miliknya.

 

Mereka pun mendirikan bangunan secara bertahap berupa kos-kosan yang saat ini dikelola oleh IKG, PM dan MK. 

Baca Juga:  Waspada! Narkoba Palsu Marak Beredar, dari Kenikir Hingga Cat Tembok

 

“Ketiga orang ini kemudian telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Bali,” beber Luga.

 

Selanjutnya, pada tahun 1999, keluarga WS, NM dan NS yang membangun rumah tinggal sementara diatas tanah aset Kejari Tabanan tersebut tanpa ada alas hak yang sah bedasarkan peraturan perundang-undangan.

 

WS, NM dan NS membangun toko dan mendapatkan hasil sewa dari pemanfaatan aset tanah milik Kejari Tabanan. Perbuatan WS, NM, NS, IKG, PM dan MK mengakibatkan Kejaksaan Negeri Tabanan tidak bisa memanfaatkan tanah asetnya sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp. 14.394.600.000 (empat belas miliar tiga ratus sembilan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah), sebagaimana nilai aset dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. 

 

“Perbuatan keenam tersangka melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1,” bebernya lagi. 

  

Penyidikan kasus ini sendiri dimulai dari tahap penyelidikan sejak akhir tahun 2020 terhadap tanah aset kantor Kejaksaan Negeri Tabanan.

 

“Langkah-langkah persuasif telah dilakukan sebelumnya agar para pelaku menyerahkan tanah tersebut ke Kejari Tabanan namun upaya tersebut tidak diindahkan dan justru tetap menguasai dan membuat bangunan-bangunan toko dan kos-kosan di tanah tersebut,” tukasnya.



DENPASAR- Selama Februari 2021, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali telah menetapkan dan menjebloskan sembilan orang tersangka (TSK) ke penjara dari dua kasus korupsi di dua kabupaten di Bali.

 

Dua kasus ini dimulai dari perkara dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pemberian kredit yang dilakukan oleh pengurus Lembaga Perkreditan Desa Gerogak, Buleleng tahun 2008 sampai tahun 2015.

 

Penyidikan kasus ini merupakan pengembangan dari Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Denpasar tahun 2020 dalam perkara Tindak Pidana Korupsi pengelolaan keuangan LPD Desa Pekraman Gerogak dengan terpidana atas nama Komang Agus Putrajaya, S.E. 

 

Dari Putusan perkara tersebut, Tim Jaksa Penyidik menemukan peranan 5 (Lima) orang lainnya yang merupakan pengurus dan karyawan LPD Desa Pekraman Gerogak.

 

Kelima orang itu, yakni masing-masing berinisial MS sebagai Sekertaris, DKM selaku Bendahara, NM selaku Bendahara, KS selaku karyawan kredit, dan GG selaku karyawan debitur.

 

“Mereka secara bersama-sama dengan Komang Agus Putrajaya (Ketua LPD) melakukan tindak pidana korupsi dengan modus membuat kas bon secara bertahap sejak tahun 2008 yang kemudian setelah kas bon tersebut terkumpul dalam jumlah yang cukup besar dialihkan menjadi kredit atas nama pengurus, maupun atas nama keluarganya,” terang Kasi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Bali, A.Luga Harlinato, Kamis (25/2).

 

 

Akibat perbuatan keenam tersangka (TSK), LPD Desa Pekraman Gerogak mengalami kerugian sejumlah Rp. 1.264.686.000.

 

Lebih lanjut, Luga menambahkan, berdasarkan hasil ekspose, tersangka atas nama MS, NM dan KS ditingkatkan statusnya menjadi tersangka dugaan tindak pidana korupsi kredit fiktif pada LPD Desa Pekraman Gerogak.

Baca Juga:  Tak Cuma Ditendang, Korban Dicambuk dan Dipukuli Hingga Gigi Patah

 

Mereka disangkakan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1. 

 

Pelaku atas nama GG telah meninggal dunia pada tahun 2018.

 

Sedangkan pelaku DKM telah mengembalikan uang LPD Desa Pekraman Gerogak yang digunakan sebagai dana pribadi pada Oktober 2019.

 

Lalu, kasus korupsi kedua yang ditangani Kejati Bali yakni tindak pidana korupsi terhadap aset negara berupa tanah kantor Kejaksaan Negeri Tabanan. 

 

Dimana, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan memiliki aset berupa tanah kantor yang perolehannya dengan status hak pakai dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia Cq. Kejaksaan Tinggi Bali untuk digunakan sebagai kantor dan rumah dinas Kejaksaan Negeri Tabanan sejak tahun 1974.

 

Adapun tanah tersebut merupakan tanah negara sejak Desember 1968.

 

Pada tanah tersebut telah dibangun kantor dan rumah dinas.

Sejak tahun 1997, yaitu pada saat berpindahnya kantor Kejari Tabanan ke lokasi saat ini, keluarga dari tersangka IKG, PM dan MK mengklaim bahwa tanah tersebut adalah miliknya.

 

Mereka pun mendirikan bangunan secara bertahap berupa kos-kosan yang saat ini dikelola oleh IKG, PM dan MK. 

Baca Juga:  Potong Jalan, Pelajar SD Pengendara Onthel Patah Kaki Ditabrak Harley

 

“Ketiga orang ini kemudian telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Bali,” beber Luga.

 

Selanjutnya, pada tahun 1999, keluarga WS, NM dan NS yang membangun rumah tinggal sementara diatas tanah aset Kejari Tabanan tersebut tanpa ada alas hak yang sah bedasarkan peraturan perundang-undangan.

 

WS, NM dan NS membangun toko dan mendapatkan hasil sewa dari pemanfaatan aset tanah milik Kejari Tabanan. Perbuatan WS, NM, NS, IKG, PM dan MK mengakibatkan Kejaksaan Negeri Tabanan tidak bisa memanfaatkan tanah asetnya sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp. 14.394.600.000 (empat belas miliar tiga ratus sembilan puluh empat juta enam ratus ribu rupiah), sebagaimana nilai aset dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. 

 

“Perbuatan keenam tersangka melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1,” bebernya lagi. 

  

Penyidikan kasus ini sendiri dimulai dari tahap penyelidikan sejak akhir tahun 2020 terhadap tanah aset kantor Kejaksaan Negeri Tabanan.

 

“Langkah-langkah persuasif telah dilakukan sebelumnya agar para pelaku menyerahkan tanah tersebut ke Kejari Tabanan namun upaya tersebut tidak diindahkan dan justru tetap menguasai dan membuat bangunan-bangunan toko dan kos-kosan di tanah tersebut,” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/