alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Tak Perlu Tunggu Visum, Polisi Harus Tangkap Paman Cabul

DENPASAR – Kasus seorang anak berusia 12 tahun yang diduga diperkosa oleh pamannya sendiri di Jembrana, Bali kini menjadi perhatian banyak pihak. Tak terkecuali aktivis pemerhati anak di Denpasar.

Siti Sapura atau dikenal dengan panggilan Ipung ini melihat kinerja pihak kepolisian di Jembrana terkait kasus ini cenderung teknis. Salah satunya adalah dengan belum ditangkapnya pelaku karena menunggu hasil visum.

 

“Tolong bapak kepolisian di Jembrana segera amankan pelaku. Sebab pelaku bisa kabur dan atau mengulangi perbuatannya lagi. Keterangan saksi korban sudah cukup untuk mengamankan pelaku,” ujarnya pada Senin (25/10/2021).

 

Ipung sebagai pemerhati anak di Bali sudah mendampingi ratusan anak-anak baik secara litigasi maupun nonlitigasi ini melihat polisi seharusnya tidak perlu menunggu hasil visum. Cukup dari keterangan dokter saja sudah bisa menahan pelaku.

 

“Itu kan teknis banget. Saat anak ini divisum kan juga didampigi polisi. Nah polisi langsung nanya deh ke dokternya langsung, ada robekan atau tidak. Jadi tak perlu lama menunggu keluar sampai 7 hari,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kantongi Identitas Buron, Polisi Buru Penadah Sapi Curian

 

Lalu bagaimana bila tidak ada robekan (selaput dara)?

 

“Ada atau pun tidak ada robekan tetap pelaku harus ditahan. Karena bisa dilihat dari adakah dia meraba payudara atau bagian intim lainnya dari korbannya. Tak melulu soal ada robekan atau tidak,” jawabnya.

 

Pun, korban juga bisa dilakukan visum psikiatri dan sebagainya. Sebab, dalam kasus yang masuk dalam kategori kejahatan seksual luar biasa seperti ini, hanya ada dua aktor. Yakni pelaku dan korban saja. Artinya, dengan keterangan korban saja, sudah cukup untuk menahan pelaku.

 

“Tolong amankan pelaku. Ini demi keamanan korban dan demi kemanan anak-anak lainnya. Ini kasus kejahatan seksual anak luar biasa. Artinya, kasus ini tidak punya pri kemanusiaan. Menghancurkan masa depan bangsa,” ujar Ipung dengan nada kesal.

 

Ipung menjelaskan, dalam Perpu Nomor 1 tahun 2016 dan kemudian sudah menjadi UU Nomor 17 tahun 2016 ini khusus mengatur perbuatan cabul dan persetubuhan anak di bawah umur.

 

“Ancaman hukumannya itu minimal 10 tahun dan maksimal dua puluh tahun atau hukuman mati. Jadi sekali lagi, tolong amankan itu pelaku dahulu. Abaikan dulu robekan. Utamakan efek jera dan keselataman anak yang utama, apalagi terduga pelaku adalah orang tedekat,” pungkasnya.

Baca Juga:  HOT! Sebelum Tewas, Pacar Karyawan Bank Modifikasi Pagar Rumah Korban

 

Diketahui, gadis 12 tahun yang diperkosa pamannya di sebuah desa di Kecamatan Negara, Jembrana, Polisi belum menahan ZN, seorang paman yang memperkosa keponakannya itu. Pihak kepolisian beralasan, sampai kemarin masih menunggu hasil visum dan pemeriksaan saksi.

 

Terkait kasus perkosaan itu sendiri berlangsung Selasa (19/10) lalu. Kala itu, korban yang masih berusia 12 tahun sedang menonton TV sendirian di rumah.

 

Kemudian datang paman korban yang masuk dari pintu belakang rumah. Paman korban pun mendekati korban lalu menarik tangan korban masuk kamar.

 

Korban sempat melawan, mencoba melepaskan diri dari pelaku, tetapi tetap ditarik hingga korban disetubuhi dengan cara dipaksa. Pelaku kemudian pergi meninggalkan korban di kamar begitu saja. Sang Ayah yang mendengar hal ini pun kemudian melaporkannya ke polisi.

- Advertisement -

- Advertisement -

DENPASAR – Kasus seorang anak berusia 12 tahun yang diduga diperkosa oleh pamannya sendiri di Jembrana, Bali kini menjadi perhatian banyak pihak. Tak terkecuali aktivis pemerhati anak di Denpasar.

Siti Sapura atau dikenal dengan panggilan Ipung ini melihat kinerja pihak kepolisian di Jembrana terkait kasus ini cenderung teknis. Salah satunya adalah dengan belum ditangkapnya pelaku karena menunggu hasil visum.

 


“Tolong bapak kepolisian di Jembrana segera amankan pelaku. Sebab pelaku bisa kabur dan atau mengulangi perbuatannya lagi. Keterangan saksi korban sudah cukup untuk mengamankan pelaku,” ujarnya pada Senin (25/10/2021).

 

Ipung sebagai pemerhati anak di Bali sudah mendampingi ratusan anak-anak baik secara litigasi maupun nonlitigasi ini melihat polisi seharusnya tidak perlu menunggu hasil visum. Cukup dari keterangan dokter saja sudah bisa menahan pelaku.

 

“Itu kan teknis banget. Saat anak ini divisum kan juga didampigi polisi. Nah polisi langsung nanya deh ke dokternya langsung, ada robekan atau tidak. Jadi tak perlu lama menunggu keluar sampai 7 hari,” ungkapnya.

Baca Juga:  Selundupkan 1,1 Kg Ganja, Warga Deli Serdang Diganjar 14 Tahun di Bali

 

Lalu bagaimana bila tidak ada robekan (selaput dara)?

 

“Ada atau pun tidak ada robekan tetap pelaku harus ditahan. Karena bisa dilihat dari adakah dia meraba payudara atau bagian intim lainnya dari korbannya. Tak melulu soal ada robekan atau tidak,” jawabnya.

 

Pun, korban juga bisa dilakukan visum psikiatri dan sebagainya. Sebab, dalam kasus yang masuk dalam kategori kejahatan seksual luar biasa seperti ini, hanya ada dua aktor. Yakni pelaku dan korban saja. Artinya, dengan keterangan korban saja, sudah cukup untuk menahan pelaku.

 

“Tolong amankan pelaku. Ini demi keamanan korban dan demi kemanan anak-anak lainnya. Ini kasus kejahatan seksual anak luar biasa. Artinya, kasus ini tidak punya pri kemanusiaan. Menghancurkan masa depan bangsa,” ujar Ipung dengan nada kesal.

 

Ipung menjelaskan, dalam Perpu Nomor 1 tahun 2016 dan kemudian sudah menjadi UU Nomor 17 tahun 2016 ini khusus mengatur perbuatan cabul dan persetubuhan anak di bawah umur.

 

“Ancaman hukumannya itu minimal 10 tahun dan maksimal dua puluh tahun atau hukuman mati. Jadi sekali lagi, tolong amankan itu pelaku dahulu. Abaikan dulu robekan. Utamakan efek jera dan keselataman anak yang utama, apalagi terduga pelaku adalah orang tedekat,” pungkasnya.

Baca Juga:  Apes...Sibuk Layani Pembeli Bakso, Mobil Malah Dibawa Kabur Maling

 

Diketahui, gadis 12 tahun yang diperkosa pamannya di sebuah desa di Kecamatan Negara, Jembrana, Polisi belum menahan ZN, seorang paman yang memperkosa keponakannya itu. Pihak kepolisian beralasan, sampai kemarin masih menunggu hasil visum dan pemeriksaan saksi.

 

Terkait kasus perkosaan itu sendiri berlangsung Selasa (19/10) lalu. Kala itu, korban yang masih berusia 12 tahun sedang menonton TV sendirian di rumah.

 

Kemudian datang paman korban yang masuk dari pintu belakang rumah. Paman korban pun mendekati korban lalu menarik tangan korban masuk kamar.

 

Korban sempat melawan, mencoba melepaskan diri dari pelaku, tetapi tetap ditarik hingga korban disetubuhi dengan cara dipaksa. Pelaku kemudian pergi meninggalkan korban di kamar begitu saja. Sang Ayah yang mendengar hal ini pun kemudian melaporkannya ke polisi.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/