alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Pelinggih Pura Endek Munduk Ludes Terbakar

SINGARAJA– Salah satu pelinggih yang ada di Pura Endek, Desa Adat Munduk, Kecamatan Banjar, ludes terbakar.

Pura itu merupakan salah satu tempat sakral yang disungsung oleh empat desa adat bertetangga.

Yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, dan Desa Adat Umajero. Keempatnya juga dikenal dengan nama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

Insiden kebakaran itu diduga telah terjadi pada Jumat (25/6) dini hari.

Para prajuru catur desa adat baru mendatangi lokasi kebakaran itu pada Sabtu pagi. Saat didatangi, sebuah pelinggih di pura itu sudah dalam kondisi ludes terbakar.

Pelinggih yang terbakar itu merupakan pelinggih gedong keen atau dikenal juga dengan sebutan gedong purnama sadaPelinggih ini terdiri atas 12 buah tiang.

Baca Juga:  Tabrak Truk Tronton di Jalan Buluh Indah, Mobil Pick up Ringsek Berat

“Itu salah satu pelinggih utama di Pura Endek. Lokasi linggih Ida Bhatara. Hanya ada dua pelinggih yang pakai kayu di sana. Pelinggih gedong keen yang terbakar ini, dan pelinggih piyasan. Yang lainnya itu berupa bebaturan saja,” ungkap Pengrajeg Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, I Gusti Ngurah Pradnyan saat ditemui di kawasan Danau Tamblingan, Sabtu (26/6).

- Advertisement -

Pihaknya menduga, kebakaran terjadi pada Jumat dini hari. Sebab sehari sebelumnya merupakan rahina purnama kasa. Sehingga banyak pamedek yang menghaturkan puja bakti di pura tersebut. Diduga saat menghaturkan puja, ada pamedek yang lupa memadamkan dupa. Sehingga memicu terjadinya kebakaran.

Lebih lanjut Pradnyan mengatakan, pada Jumat pagi, catur desa telah menghaturkan upacara nunsa lugra. “Kami memohon maaf pada Ida Bhatara karena kesalahan dan sikap abai kami sebagai penyungsung pura. Rencananya kami juga akan melakukan upacara guru piduka. Kami masih mencari hari baik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jambret Bule Ukraina Dijebloskan Bui

Setelah melangsungkan upacara guru piduka, baru akan direncanakan proses perbaikan.

Menurut Pradnyan, salah satu kendala dalam proses perbaikan ialah mencari kayu yang layak untuk bangunan pelinggih. Dulunya pelinggih yang terbakar, terbuat dari kayu pohon cempaka yang berusia tua.

“Kendalanya mencari bahan baku itu. Kalau perbaikannya asal-asalan, kami kurang sepakat. Itu sama saja mendegradasi nilai yang telah diwariskan leluhur kami,” tegas Pradnyan.

Selanjutnya, guna mencegah terjadinya hal serupa, Catur Desa Adat berencana memasang papan himbauan di pura-pura lainnya.

Nantinya para pamedek diharapkan memastikan bahwa dupa yang dibawa telah padam, sebelum meninggalkan pura. Sehingga tak memicu peristiwa kebakaran. 

- Advertisement -

SINGARAJA– Salah satu pelinggih yang ada di Pura Endek, Desa Adat Munduk, Kecamatan Banjar, ludes terbakar.

Pura itu merupakan salah satu tempat sakral yang disungsung oleh empat desa adat bertetangga.

Yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Gesing, dan Desa Adat Umajero. Keempatnya juga dikenal dengan nama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

Insiden kebakaran itu diduga telah terjadi pada Jumat (25/6) dini hari.

Para prajuru catur desa adat baru mendatangi lokasi kebakaran itu pada Sabtu pagi. Saat didatangi, sebuah pelinggih di pura itu sudah dalam kondisi ludes terbakar.

Pelinggih yang terbakar itu merupakan pelinggih gedong keen atau dikenal juga dengan sebutan gedong purnama sadaPelinggih ini terdiri atas 12 buah tiang.

Baca Juga:  CATAT! Main Perkara, Kajati Bali Ancam Kirim Jaksa Nakal ke Perbatasan

“Itu salah satu pelinggih utama di Pura Endek. Lokasi linggih Ida Bhatara. Hanya ada dua pelinggih yang pakai kayu di sana. Pelinggih gedong keen yang terbakar ini, dan pelinggih piyasan. Yang lainnya itu berupa bebaturan saja,” ungkap Pengrajeg Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, I Gusti Ngurah Pradnyan saat ditemui di kawasan Danau Tamblingan, Sabtu (26/6).

Pihaknya menduga, kebakaran terjadi pada Jumat dini hari. Sebab sehari sebelumnya merupakan rahina purnama kasa. Sehingga banyak pamedek yang menghaturkan puja bakti di pura tersebut. Diduga saat menghaturkan puja, ada pamedek yang lupa memadamkan dupa. Sehingga memicu terjadinya kebakaran.

Lebih lanjut Pradnyan mengatakan, pada Jumat pagi, catur desa telah menghaturkan upacara nunsa lugra. “Kami memohon maaf pada Ida Bhatara karena kesalahan dan sikap abai kami sebagai penyungsung pura. Rencananya kami juga akan melakukan upacara guru piduka. Kami masih mencari hari baik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Gara-Gara Sepele, Pura Rambut Siwi Nyaris Terbakar

Setelah melangsungkan upacara guru piduka, baru akan direncanakan proses perbaikan.

Menurut Pradnyan, salah satu kendala dalam proses perbaikan ialah mencari kayu yang layak untuk bangunan pelinggih. Dulunya pelinggih yang terbakar, terbuat dari kayu pohon cempaka yang berusia tua.

“Kendalanya mencari bahan baku itu. Kalau perbaikannya asal-asalan, kami kurang sepakat. Itu sama saja mendegradasi nilai yang telah diwariskan leluhur kami,” tegas Pradnyan.

Selanjutnya, guna mencegah terjadinya hal serupa, Catur Desa Adat berencana memasang papan himbauan di pura-pura lainnya.

Nantinya para pamedek diharapkan memastikan bahwa dupa yang dibawa telah padam, sebelum meninggalkan pura. Sehingga tak memicu peristiwa kebakaran. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/