alexametrics
24.8 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Tak Terima Dituntut 10 Bulan, WNA Irlandia Penganiaya Karyawan Melawan

DENPASAR-Tak terima dituntut 10 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum, terdakwa kasus penganiayaan terhadap karyawan, Ciaran Francis Caulfield melawan.

 

Tak hanya melawan dengan melakukan pembelaan, namun WNA asal Irlandia itu juga menuding jika saksi korban Ni Made Widyastuti Pramesti berbohong.

 

Seperti terungkap saat sidang pembelaan (pledoi), Kamis (24/9) lalu

 

Melalui kuasa hukumnya Jupiter Gul Lalwani, S.H dan Chandra Katharina Nutz, SH, terdakwa dihadapan Majelis Hakim pimpinan Putu Gde Novyartha menyampaikan sejumlah poin. 

 

Poin pertama, kuasa hukum terdakwa menyebut bahwa saksi korban, Ni Made Widyastuti Pramesti telah berbohong. Dimana pengakuannya di hadapan sidang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. 

 

Saat persidangan, saksi korban mengaku bahwa dirinya tidak diperbolehkan keluar ruangan hingga terdakwa datang pada pukul 10.00 WITA. Tapi faktanya, menurut saksi Lilik, dia melihat secara jelas bahwa korban bersama saksi Dewi berada di luar ruangan pada pukul 07.00 WITA. 

 

Saksi Lilik juga mengungkap sempat ke dapur untuk meminta minum.

Baca Juga:  Dipolisikan Adik AWK, Sumerta: Silakan Bantah Buku dan Jurnal Ilmiah!

 

Dua saksi lain bernama Denik dan Anom juga mengatakan bahwa terdakwa tidak pernah melarang siapa pun untuk makan saat itu.

 

“Keterangan para saksi ini tidak sesuai dengan kebohongan yang disampaikan oleh saksi korban dengan mengatakan dirinya tidak dizinkan makan dan minum oleh terdakwa, ” kata Chandra Katharina Nutz membacakan pledoi di hadapan sidang.

 

Chandra Katharina Nutz, juga membeberkan soal dugaan kebohongan yang dibuat oleh korban.

 

Yaitu soal adanya perampasan tas dan uang yang dilakukan oleh terdakwa. 

Dijelaskannya bahwa sesuai dengan rekaman video yang sempat dipertontonkan di muka sidang, di dalam video itu, saksi korban sendirilah yang mengeluarkan uang dari dalam tasnya sendiri.

 

 

“Ini menunjukkan bahwa banyak kebohongan yang dilakukan korban untuk menguntungkan dirinya sendirilah,” tegas Chandra Katharina Nutz.

 

Menurut dia masih banyak lagi kebohongan lain yang dilakukan korban. Dimana dirinya mengaku disekap oleh terdakwa. Padahal kata kuasa hokum terdakwa, keterangan saksi korban itu tidak benar. Dimana tanggal 25 Desember 2019 korban diberi izin untuk libur karena ada acara odalan. 

Baca Juga:  Otaki Pencurian dengan Kekerasan, Warga Inggris Terancam 12 Tahun Bui

 

Dan masih banyak lagi kebohongan yang dilakukan korban menurut Katharina Nutz di hadapan sidang.

 

Dalam nota pembelaan itu juga dia membahas masalah visum. Dimana selain tidak adanya surat permintaan visum saat dilakukan visum terhadap pelapor, dokter yang melakukannya pemeriksaan juga mengatakan terdakwa dalam keadaan baik-baik saja saat mendatangi dokter. 

 

Selain itu, adanya perbedaan yang jelas dan signifikan antara foto dalam berkas dengan kenyataan luka di tubuh pelapor saat datang melakukan pemeriksaan.

 

“Artinya bisa disimpulkan bahwa hasil visum yang dilakukan setelah 3 hari tidaklah valid,”tegasnya. 

 

 

Sementara kuasa hukum terdakwa lainnya, Jupiter Gul Lalwani, juga membahas soal perbedaan perlakuan hukum antara orang asing dan pribumi.

 

Menurutnya, di mata hukum tidak ada perlakuan berbeda antara orang asing maupun penduduk pribumi “equality before the law” (kesamaan dihadapan hukum). 



DENPASAR-Tak terima dituntut 10 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum, terdakwa kasus penganiayaan terhadap karyawan, Ciaran Francis Caulfield melawan.

 

Tak hanya melawan dengan melakukan pembelaan, namun WNA asal Irlandia itu juga menuding jika saksi korban Ni Made Widyastuti Pramesti berbohong.

 

Seperti terungkap saat sidang pembelaan (pledoi), Kamis (24/9) lalu

 

Melalui kuasa hukumnya Jupiter Gul Lalwani, S.H dan Chandra Katharina Nutz, SH, terdakwa dihadapan Majelis Hakim pimpinan Putu Gde Novyartha menyampaikan sejumlah poin. 

 

Poin pertama, kuasa hukum terdakwa menyebut bahwa saksi korban, Ni Made Widyastuti Pramesti telah berbohong. Dimana pengakuannya di hadapan sidang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. 

 

Saat persidangan, saksi korban mengaku bahwa dirinya tidak diperbolehkan keluar ruangan hingga terdakwa datang pada pukul 10.00 WITA. Tapi faktanya, menurut saksi Lilik, dia melihat secara jelas bahwa korban bersama saksi Dewi berada di luar ruangan pada pukul 07.00 WITA. 

 

Saksi Lilik juga mengungkap sempat ke dapur untuk meminta minum.

Baca Juga:  Apes, Jual Hasil Curian, Pelaku Begal Dibekuk di Circle K

 

Dua saksi lain bernama Denik dan Anom juga mengatakan bahwa terdakwa tidak pernah melarang siapa pun untuk makan saat itu.

 

“Keterangan para saksi ini tidak sesuai dengan kebohongan yang disampaikan oleh saksi korban dengan mengatakan dirinya tidak dizinkan makan dan minum oleh terdakwa, ” kata Chandra Katharina Nutz membacakan pledoi di hadapan sidang.

 

Chandra Katharina Nutz, juga membeberkan soal dugaan kebohongan yang dibuat oleh korban.

 

Yaitu soal adanya perampasan tas dan uang yang dilakukan oleh terdakwa. 

Dijelaskannya bahwa sesuai dengan rekaman video yang sempat dipertontonkan di muka sidang, di dalam video itu, saksi korban sendirilah yang mengeluarkan uang dari dalam tasnya sendiri.

 

 

“Ini menunjukkan bahwa banyak kebohongan yang dilakukan korban untuk menguntungkan dirinya sendirilah,” tegas Chandra Katharina Nutz.

 

Menurut dia masih banyak lagi kebohongan lain yang dilakukan korban. Dimana dirinya mengaku disekap oleh terdakwa. Padahal kata kuasa hokum terdakwa, keterangan saksi korban itu tidak benar. Dimana tanggal 25 Desember 2019 korban diberi izin untuk libur karena ada acara odalan. 

Baca Juga:  Kepsek SMA Pariwisata Saraswati Klungkung Resmi Jadi Tersangka

 

Dan masih banyak lagi kebohongan yang dilakukan korban menurut Katharina Nutz di hadapan sidang.

 

Dalam nota pembelaan itu juga dia membahas masalah visum. Dimana selain tidak adanya surat permintaan visum saat dilakukan visum terhadap pelapor, dokter yang melakukannya pemeriksaan juga mengatakan terdakwa dalam keadaan baik-baik saja saat mendatangi dokter. 

 

Selain itu, adanya perbedaan yang jelas dan signifikan antara foto dalam berkas dengan kenyataan luka di tubuh pelapor saat datang melakukan pemeriksaan.

 

“Artinya bisa disimpulkan bahwa hasil visum yang dilakukan setelah 3 hari tidaklah valid,”tegasnya. 

 

 

Sementara kuasa hukum terdakwa lainnya, Jupiter Gul Lalwani, juga membahas soal perbedaan perlakuan hukum antara orang asing dan pribumi.

 

Menurutnya, di mata hukum tidak ada perlakuan berbeda antara orang asing maupun penduduk pribumi “equality before the law” (kesamaan dihadapan hukum). 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/