alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Dulu Promotor Tinju, Kini Jadi ‘Bapak’ Sekaligus Motivator Tahanan

BAGI pecinta olahraga tinju, nama Zainal Tayeb tidaklah asing. Dia cukup lama menjadi promotor mantan juara dunia Chris John.

Tak heran, saat masuk ke dalam sel Polres Badung, hampir semua tahanan mengenalnya.

MAULANA SANDIJAYA, Mangupura

MENJELANG sidang putusan Kamis (24/11) lalu, Zainal Tayeb menyempatkan diri berbincang dengan awak media di ruang Media Center Kejari Badung.

Pengusaha properti dan pariwisata itu ikut duduk lesehan. Dia mengatakan masih tidak percaya dilaporkan dan dijebloskan ke penjara oleh keponakannya sendiri.

Meski merasa kecewa, pria kelahiran Mamasa, Sulawesi Barat, itu menyatakan ikhlas menjalani apa yang menimpanya.

“Saya tidak akan menyerah. Tuhan maha adil. Tuhan yang akan membalas semua perbuatan kita,” ujar Zainal.

Di luar dugaan, saat Jawa Pos Radar Bali menanyakan pengalamannya pertama kali masuk sel penjara, Zainal dengan senang menjawabnya. “Saya di dalam sel ukuran 3×3 meter yang diisi sebelas orang,” tuturnya.

Hampir tiga bulan Zainal mendekam di dalam hotel prodeo. Dia ditahan sejak 3 September 2020. Zainal yang semasa hidupnya tinggal di rumah mewah dan mempunyai sejumlah vila itu pun harus berdesakan dengan tahanan lainnya.

Karena tempat yang sempit, Zainal mengaku lebih sering duduk. “Sampai ambien saya kumat,” selorohnya.

Zainal juga tidak menduga jika akan diperlakukan baik oleh petugas dan para tahanan. Menurut Zainal, saat pertama masuk sel, 80 persen tahahan dan napi mengenalnya.

“Jadi saya ke sana (penjara) itu langsung dipanggil Pak Haji. Mereka 80 persen sudah tahu saya. Banyak juga yang selama ini hanya dengar nama, dan baru ketemu saya di dalam sel,” ungkapnya.

Baca Juga:  Diperiksa Sembilan Jam, Polres Badung Langsung Tahan Zaenal Tayeb

Karena sudah dikenal, Zainal pun tidak melewati masa “perploncoan”. Para tahanan menaruh hormat padanya.

“Mungkin karena saya yang paling tua, ya. Umur saya sudah mau 66 tahun,” kata pria kelahiran 25 April 1956 itu.

Sebagian tahanan mengenal Zainal karena Zainal sering membagikan nasi bungkus selama Covid-19.

Zainal sendiri memiliki kebiasaan membagikan 300 nasi bungkus setiap Jumat. Dia menyebutnya Jumat berkah.

Meski sudah dikenal, Zainal mengaku tidak mendapat perlakuan istimewa. Sebaliknya, suami Ni Nyoman Dewi Anggreni itu malah menjadi tempat curhat para tahanan.

Zainal mendapat beragam curhatan dan cerita penyebab tahanan bisa masuk ke dalam penjara. Menurutnya hampir 90 persen karena kasus narkoba.

Ada satu tahanan yang terpaksa bergelut dengan narkoba karena faktor ekonomi di masa pandemi. Sebelumnya tahanan tersebut menjadi teraphis di Turki. Namun, karena pandemi akhirnya tersandung narkoba. Ada juga maling hand phone (HP) dan jambret jalanan.

Mendapat banyak curhatan, jiwa kebapakan Zainal keluar. Dia menasihati para tahanan agar tidak mengulangi perbuatannya. Zainal melihat masih banyak tahanan yang bisa diperbaiki.

“Tapi, ada juga yang tidak bisa diperbaiki. Dia jambret sudah ditembak polisi, masih juga diulangi, maling lagi. Wah, kalau ini susah,” papar pria berkuncir itu.

Zainal merasa terharu dengan seorang tahanan yang memiliki istri hamil besar. Bahkan, saat istrinya melahirkan tahanan tersebut tidak sempat melihat anaknya.

Cerita haru juga didapat dari tahanan lain yang istrinya harus pontang-panting meminjam uang agar bisa membesuk ke penjara. Melihat hal itu Zainal tidak tega.

Baca Juga:  Sidang Perdana, Zainal Tayeb Langsung Ajukan Keberatan

“Saya suruh uang utangan itu dikembalikan, dan saya yang akan kasih dia uang. Jangan lagi istri disuruh pinjam uang di luar,” kisahnya.

Ketika punya uang lebih, Zainal juga membelikan nasi bungkus para tahanan. Ini karena jatah makan di dalam tahanan hanya dua kali sehari.

“Di dalam penjara saya tidak berani membuang makanan. Sebab, sisa makanan pasti ada yang mau makan,” tegasnya.

Tidak hanya sekadar memberikan nasihat, Zainal juga menjadi motivator bagi tahanan lain. Zainal membagikan ilmu bertahan hidup. Ia menularkan ilmu wirausahanya semasa muda hingga tua.

Dari jualan kerajinan perak, hingga menjadi pengusaha properti dan tanah. “Saya ini lulusan SD. Tapi, karena mau berusaha, Alhamdulilah bisa hidup,” jelasnya.

Apa yang dilakukan Zainal diterima baik para tahanan. Bahkan, tidak sedikit yang mengagumi Zainal. “Mereka bilang, kalau keluar penjara mau bikin tato nama Zainal Tayeb di tangannya. Saya bilang boleh, yang penting jalani hidup dengan benar,” kenangnya.

Zainal juga merasa salut dengan polisi penjaga tahanan. Zainal menyebut menjadi penjaga tahanan itu tidak mudah. Mereka harus pandai menyelami hati dan karakter tahanan.

Para tahanan kerap merepotkan penjaga. Misalnya minta diambilkan air panas untuk menyeduh kopi.  

“Ada juga yang minta nasi kuning. Beneran, besok paginya dibawak nasi kuning. Saya salut, polisinya baik-baik. Jaksa juga ada yang baik,” tukasnya.

Sementara para tahanan berusaha menjalankan keahliannya masing-masing. Ada terapis, tukang pijat, hingga tukang cukur. Semua berbaur menjadi satu dan berbagi tempat.

 


BAGI pecinta olahraga tinju, nama Zainal Tayeb tidaklah asing. Dia cukup lama menjadi promotor mantan juara dunia Chris John.

Tak heran, saat masuk ke dalam sel Polres Badung, hampir semua tahanan mengenalnya.

MAULANA SANDIJAYA, Mangupura

MENJELANG sidang putusan Kamis (24/11) lalu, Zainal Tayeb menyempatkan diri berbincang dengan awak media di ruang Media Center Kejari Badung.

Pengusaha properti dan pariwisata itu ikut duduk lesehan. Dia mengatakan masih tidak percaya dilaporkan dan dijebloskan ke penjara oleh keponakannya sendiri.

Meski merasa kecewa, pria kelahiran Mamasa, Sulawesi Barat, itu menyatakan ikhlas menjalani apa yang menimpanya.

“Saya tidak akan menyerah. Tuhan maha adil. Tuhan yang akan membalas semua perbuatan kita,” ujar Zainal.

Di luar dugaan, saat Jawa Pos Radar Bali menanyakan pengalamannya pertama kali masuk sel penjara, Zainal dengan senang menjawabnya. “Saya di dalam sel ukuran 3×3 meter yang diisi sebelas orang,” tuturnya.

Hampir tiga bulan Zainal mendekam di dalam hotel prodeo. Dia ditahan sejak 3 September 2020. Zainal yang semasa hidupnya tinggal di rumah mewah dan mempunyai sejumlah vila itu pun harus berdesakan dengan tahanan lainnya.

Karena tempat yang sempit, Zainal mengaku lebih sering duduk. “Sampai ambien saya kumat,” selorohnya.

Zainal juga tidak menduga jika akan diperlakukan baik oleh petugas dan para tahanan. Menurut Zainal, saat pertama masuk sel, 80 persen tahahan dan napi mengenalnya.

“Jadi saya ke sana (penjara) itu langsung dipanggil Pak Haji. Mereka 80 persen sudah tahu saya. Banyak juga yang selama ini hanya dengar nama, dan baru ketemu saya di dalam sel,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pelapor Optimistis Polisi Bakal Tahan Promotor Tinju Berinisial ZT

Karena sudah dikenal, Zainal pun tidak melewati masa “perploncoan”. Para tahanan menaruh hormat padanya.

“Mungkin karena saya yang paling tua, ya. Umur saya sudah mau 66 tahun,” kata pria kelahiran 25 April 1956 itu.

Sebagian tahanan mengenal Zainal karena Zainal sering membagikan nasi bungkus selama Covid-19.

Zainal sendiri memiliki kebiasaan membagikan 300 nasi bungkus setiap Jumat. Dia menyebutnya Jumat berkah.

Meski sudah dikenal, Zainal mengaku tidak mendapat perlakuan istimewa. Sebaliknya, suami Ni Nyoman Dewi Anggreni itu malah menjadi tempat curhat para tahanan.

Zainal mendapat beragam curhatan dan cerita penyebab tahanan bisa masuk ke dalam penjara. Menurutnya hampir 90 persen karena kasus narkoba.

Ada satu tahanan yang terpaksa bergelut dengan narkoba karena faktor ekonomi di masa pandemi. Sebelumnya tahanan tersebut menjadi teraphis di Turki. Namun, karena pandemi akhirnya tersandung narkoba. Ada juga maling hand phone (HP) dan jambret jalanan.

Mendapat banyak curhatan, jiwa kebapakan Zainal keluar. Dia menasihati para tahanan agar tidak mengulangi perbuatannya. Zainal melihat masih banyak tahanan yang bisa diperbaiki.

“Tapi, ada juga yang tidak bisa diperbaiki. Dia jambret sudah ditembak polisi, masih juga diulangi, maling lagi. Wah, kalau ini susah,” papar pria berkuncir itu.

Zainal merasa terharu dengan seorang tahanan yang memiliki istri hamil besar. Bahkan, saat istrinya melahirkan tahanan tersebut tidak sempat melihat anaknya.

Cerita haru juga didapat dari tahanan lain yang istrinya harus pontang-panting meminjam uang agar bisa membesuk ke penjara. Melihat hal itu Zainal tidak tega.

Baca Juga:  Dipicu Api Dupa, Bale Piasan Tohpati Poultry Terbakar saat Kuningan

“Saya suruh uang utangan itu dikembalikan, dan saya yang akan kasih dia uang. Jangan lagi istri disuruh pinjam uang di luar,” kisahnya.

Ketika punya uang lebih, Zainal juga membelikan nasi bungkus para tahanan. Ini karena jatah makan di dalam tahanan hanya dua kali sehari.

“Di dalam penjara saya tidak berani membuang makanan. Sebab, sisa makanan pasti ada yang mau makan,” tegasnya.

Tidak hanya sekadar memberikan nasihat, Zainal juga menjadi motivator bagi tahanan lain. Zainal membagikan ilmu bertahan hidup. Ia menularkan ilmu wirausahanya semasa muda hingga tua.

Dari jualan kerajinan perak, hingga menjadi pengusaha properti dan tanah. “Saya ini lulusan SD. Tapi, karena mau berusaha, Alhamdulilah bisa hidup,” jelasnya.

Apa yang dilakukan Zainal diterima baik para tahanan. Bahkan, tidak sedikit yang mengagumi Zainal. “Mereka bilang, kalau keluar penjara mau bikin tato nama Zainal Tayeb di tangannya. Saya bilang boleh, yang penting jalani hidup dengan benar,” kenangnya.

Zainal juga merasa salut dengan polisi penjaga tahanan. Zainal menyebut menjadi penjaga tahanan itu tidak mudah. Mereka harus pandai menyelami hati dan karakter tahanan.

Para tahanan kerap merepotkan penjaga. Misalnya minta diambilkan air panas untuk menyeduh kopi.  

“Ada juga yang minta nasi kuning. Beneran, besok paginya dibawak nasi kuning. Saya salut, polisinya baik-baik. Jaksa juga ada yang baik,” tukasnya.

Sementara para tahanan berusaha menjalankan keahliannya masing-masing. Ada terapis, tukang pijat, hingga tukang cukur. Semua berbaur menjadi satu dan berbagi tempat.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/