alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 16, 2022

Duh, Anggota DPRD Badung Yonda Kembali Diincar Kasus Pungli

RadarBali.com – Pasca ditetapkan sebagai tersangka kasus reklamasi liar, dan langsung ditahan, Bendesa Adat Tanjung Benoa Made Wijaya alias Yonda, kembali diincar Ditreskrimum Polda Bali dalam kasus pungli.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Direktur Reskrimum Polda Bali Kombes Sang Made Mahendrajaya menyatakan, Yonda langsung dibon dari Rutan Polda Bali oleh penyidik Subdit I Ditreskrimum Polda Bali untuk diperiksa sebagai saksi kasus pungli terhadap puluhan perusahaan wisata bahari di Tanjung Benoa.

 “Sore ini anggota langsung garap kasus ini. Ada indikasi keterlibatan yang bersangkutan dalam perkara ini,” kata Kombes Mahendrajaya.

Menurutnya, kasus ini berawal dengan diamankannya anak buah Yonda, Ni Komang Rusikawati, 33.

Baca Juga:  Anggota DPRD Tabanan Mendadak Dites Urine, Satu Anggota Absen

Rusikawati tertangkap tangan melakukan pungutan liar di lokasi wisata Water Sport, Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Rabu (2/8) lalu.

“Dari tangan wanita ini diamankan Rp 775 ribu, laporan harian  pungutan liar, pararem dan aturan edaran bagi para pengusaha bahari wajib membayar,” bebernya.

Dari sana, nama Yonda diseret ikut bermain di dalam kasus jni karena statusnya sebagai bendesa adat. Polda sendiri telah memeriksa 74 saksi.

 “Dari hasil pemeriksaan uang sebanyak itu rata-rata digunakan kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Saksi-saksi itu di antaranya pengelola wisata bahari, karyawan gali potensi Desa, anggota BPDA (Badan Permusyawaratan Desa Adat)Tanjung Benoa, Kelian Banjar, dan Prajuru Adat Desa Tanjung Benoa.

Baca Juga:  Korban Diduga Dikeroyok Dua Satgas Hikmast di Depan Bupati

“Di sana ada 28 perusahaan wisata bahari. Masing-masing 24 Perusahaan Water Sport, tiga perusahaan penangkaran penyu, dan satu perusahaan kapal pesiar QuickSilver. Perusahaan dan parawisata semua kena pungutan setiap hari. Wisatawan yang masuk di pungut Rp 10 ribu per kepala. Bayangkan saja berapa pendapatan mereka ini,” katanya sembari menunjukkan bukti setoran dan pengeluaran.

Apakah berpotensi jadi tersangka? “Potensi ada. Tunggu saja hasilnya,” pungkasnya.



RadarBali.com – Pasca ditetapkan sebagai tersangka kasus reklamasi liar, dan langsung ditahan, Bendesa Adat Tanjung Benoa Made Wijaya alias Yonda, kembali diincar Ditreskrimum Polda Bali dalam kasus pungli.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Direktur Reskrimum Polda Bali Kombes Sang Made Mahendrajaya menyatakan, Yonda langsung dibon dari Rutan Polda Bali oleh penyidik Subdit I Ditreskrimum Polda Bali untuk diperiksa sebagai saksi kasus pungli terhadap puluhan perusahaan wisata bahari di Tanjung Benoa.

 “Sore ini anggota langsung garap kasus ini. Ada indikasi keterlibatan yang bersangkutan dalam perkara ini,” kata Kombes Mahendrajaya.

Menurutnya, kasus ini berawal dengan diamankannya anak buah Yonda, Ni Komang Rusikawati, 33.

Baca Juga:  6 Hari Terjebak di Kolam Air, Bertahan Hidup dengan Andalkan Air Hujan

Rusikawati tertangkap tangan melakukan pungutan liar di lokasi wisata Water Sport, Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Rabu (2/8) lalu.

“Dari tangan wanita ini diamankan Rp 775 ribu, laporan harian  pungutan liar, pararem dan aturan edaran bagi para pengusaha bahari wajib membayar,” bebernya.

Dari sana, nama Yonda diseret ikut bermain di dalam kasus jni karena statusnya sebagai bendesa adat. Polda sendiri telah memeriksa 74 saksi.

 “Dari hasil pemeriksaan uang sebanyak itu rata-rata digunakan kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Saksi-saksi itu di antaranya pengelola wisata bahari, karyawan gali potensi Desa, anggota BPDA (Badan Permusyawaratan Desa Adat)Tanjung Benoa, Kelian Banjar, dan Prajuru Adat Desa Tanjung Benoa.

Baca Juga:  ADUH! Nyetir Tak Pakai Masker, Anggota DPRD dari PDIP Terjaring Razia

“Di sana ada 28 perusahaan wisata bahari. Masing-masing 24 Perusahaan Water Sport, tiga perusahaan penangkaran penyu, dan satu perusahaan kapal pesiar QuickSilver. Perusahaan dan parawisata semua kena pungutan setiap hari. Wisatawan yang masuk di pungut Rp 10 ribu per kepala. Bayangkan saja berapa pendapatan mereka ini,” katanya sembari menunjukkan bukti setoran dan pengeluaran.

Apakah berpotensi jadi tersangka? “Potensi ada. Tunggu saja hasilnya,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/