alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Jaksa JUHM Akui Pukul Mulut Pelapor karena Dipukul Lebih Dulu di Perut

PELAPORAN kasus dugaan tindak penganiayaan yang dilakukan seorang oknum jaksa yang berdinas di Kejati Bali terhadap salah seorang wartawan lokal di Bali langsung heboh.

 

Dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum jaksa berinisial JUHM terhadap salah seorang wartawan berinisial AHM terjadi di Angkringan Monjali, Jalan Mahendradatta, Denpasar Barat, Sabtu malam (26/9) sekitar pukul 23.00 WITA.

 

Akibat dipukul, AHM sempat terjatuh dengan mulut berdarah. Kemudian, karena tak terima dianiaya, ia kemudian melaporkan oknum jaksa ke Mapolresta Denpasar usai melakukan visum.

 

Sejumlah versi pun muncul terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum jaksa terhadap wartawan saat nongkrong di angkringan.

 

 

ANDRE SULLA, Denpasar

 

USAI dituding dan dilaporkan ke polisi atas dugaan melakukan tindak pidana penganiayaan, Terlapor JUHM langsung angkat bicara terkait kasus ini.

 

Bahkan, atas tudingan dugaan tindak pemukulan, JUHM berdalih jika aksi pemukulan yang dilakukannya karena pelapor (AHM) lebih dulu melakukan pemukulan terhadap dirinya. Benarkah?

 

Usai heboh kasus dugaan pemukulan, Jawa Pos Radar Bali langsung mengkonfirmasi pihak terlapor.

Baca Juga:  Sebelum Merusak, Pentolan Ormas Minta Jatah 50 Persen Tiket Masuk

 

Saat dikonfirmasi, JUHM menjelaskan, jika kronologi hingga dugaan penganiayaan terjadi bermula dari dirinya diundang datang ke lokasi (TKP di Angkringan Monjali, Jalan Mahendradatta, Denpasar Barat).

 

Versi JUHM, ia diundang oleh rekan-rekannya yang juga sama-sama asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

 “Saya ditawari arak di sana (TKP), saya bilang saya tidak bisa minum arak. Saya minum bir saja,” kata JUHM.

 

Setelah sempat nongkrong beramai-ramai di TKP, beberapa jam kemudian, terlapor membenarkan jika pelapor (AHM) pamit pulang duluan.

Kemudian, setelah berpamitan pulang, beberapa menit berselang, pelapor AHM kembali lagi ke dalam angkringan memanggil seorang teman lainnya.

 

Nah, pada saat itu Umbu juga minta pamit pulang.

 

“Saat tiba di parkiran saya tanya, ade (Tanya Terlapor ke Pelapor AHM) dimana ada tempat karaoke?. Saya ajak dia (AHM) karaoke. Tiba-tiba saya malah dipukul pada bagian perut. Lalu saya tanya, ade kenapa kamu pukul perutnya kakak? Malah dia nantang bilang, kalau kamu jaksa saya takut? Saya reflek pukul pada mulutnya,” ungkap JHUM.

Baca Juga:  Kaki Ibu Dipotong Ayah, P2TP2A: Anak Korban Shock Berat

Diduga karena salah paham itulah, hingga akhirnya memicu ketegangan.

Bahkan atas insiden ini, beberapa orang yang dituakan berusaha meredakan situasi. Dengan upaya para orang yang dituakan situasi redah dan kondusif.

 

“Lalu saya minta maaf kepda ade AHM. Saya tidak lapor polisi karena saya anggap dia (AHM) adik saya,” tandasnya.

  

Sementara itu, terkait pernyataan Terlapor JUHM yang menyebut melakukan penganiayaan karena dipukul lebih dulu, AHM yang dikonfirmasi membantah.

 

Bahkan atas pengakuan itu, selaku pelapor, AHM mempersilahkan JUHM untuk melaporkan dirinya ke polisi.

 

Menurut pengakuan AHM, dirinya tidak pernah memukul JUHM selain cekcok mulut saja. “Kalau Jaksa (JUHM) mengaku dipukuli silahkan visum,” pintanya.

Sementara itu, atas laporan dugaan penganiayaan, Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi membenarkan.

 

“Ya kami sudah terima pengaduannya (Bukti Laporan Nomor Dumas 738/IX/2021/SPKT/SATRESKRIM/POLRESTA DPS/POLDA BALI). Sementara ditindak lanjuti,” terang Iptu Sukadi singkat.

- Advertisement -

- Advertisement -

PELAPORAN kasus dugaan tindak penganiayaan yang dilakukan seorang oknum jaksa yang berdinas di Kejati Bali terhadap salah seorang wartawan lokal di Bali langsung heboh.

 

Dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum jaksa berinisial JUHM terhadap salah seorang wartawan berinisial AHM terjadi di Angkringan Monjali, Jalan Mahendradatta, Denpasar Barat, Sabtu malam (26/9) sekitar pukul 23.00 WITA.


 

Akibat dipukul, AHM sempat terjatuh dengan mulut berdarah. Kemudian, karena tak terima dianiaya, ia kemudian melaporkan oknum jaksa ke Mapolresta Denpasar usai melakukan visum.

 

Sejumlah versi pun muncul terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum jaksa terhadap wartawan saat nongkrong di angkringan.

 

 

ANDRE SULLA, Denpasar

 

USAI dituding dan dilaporkan ke polisi atas dugaan melakukan tindak pidana penganiayaan, Terlapor JUHM langsung angkat bicara terkait kasus ini.

 

Bahkan, atas tudingan dugaan tindak pemukulan, JUHM berdalih jika aksi pemukulan yang dilakukannya karena pelapor (AHM) lebih dulu melakukan pemukulan terhadap dirinya. Benarkah?

 

Usai heboh kasus dugaan pemukulan, Jawa Pos Radar Bali langsung mengkonfirmasi pihak terlapor.

Baca Juga:  BIKIN RESAH! Kabur saat Diciduk, Residivis Pencurian Didor Polisi Bali

 

Saat dikonfirmasi, JUHM menjelaskan, jika kronologi hingga dugaan penganiayaan terjadi bermula dari dirinya diundang datang ke lokasi (TKP di Angkringan Monjali, Jalan Mahendradatta, Denpasar Barat).

 

Versi JUHM, ia diundang oleh rekan-rekannya yang juga sama-sama asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

 “Saya ditawari arak di sana (TKP), saya bilang saya tidak bisa minum arak. Saya minum bir saja,” kata JUHM.

 

Setelah sempat nongkrong beramai-ramai di TKP, beberapa jam kemudian, terlapor membenarkan jika pelapor (AHM) pamit pulang duluan.

Kemudian, setelah berpamitan pulang, beberapa menit berselang, pelapor AHM kembali lagi ke dalam angkringan memanggil seorang teman lainnya.

 

Nah, pada saat itu Umbu juga minta pamit pulang.

 

“Saat tiba di parkiran saya tanya, ade (Tanya Terlapor ke Pelapor AHM) dimana ada tempat karaoke?. Saya ajak dia (AHM) karaoke. Tiba-tiba saya malah dipukul pada bagian perut. Lalu saya tanya, ade kenapa kamu pukul perutnya kakak? Malah dia nantang bilang, kalau kamu jaksa saya takut? Saya reflek pukul pada mulutnya,” ungkap JHUM.

Baca Juga:  Tak Jera, Nekat Jadi Kurir Sabu, Napi Asimilasi Ditangkap Lagi

Diduga karena salah paham itulah, hingga akhirnya memicu ketegangan.

Bahkan atas insiden ini, beberapa orang yang dituakan berusaha meredakan situasi. Dengan upaya para orang yang dituakan situasi redah dan kondusif.

 

“Lalu saya minta maaf kepda ade AHM. Saya tidak lapor polisi karena saya anggap dia (AHM) adik saya,” tandasnya.

  

Sementara itu, terkait pernyataan Terlapor JUHM yang menyebut melakukan penganiayaan karena dipukul lebih dulu, AHM yang dikonfirmasi membantah.

 

Bahkan atas pengakuan itu, selaku pelapor, AHM mempersilahkan JUHM untuk melaporkan dirinya ke polisi.

 

Menurut pengakuan AHM, dirinya tidak pernah memukul JUHM selain cekcok mulut saja. “Kalau Jaksa (JUHM) mengaku dipukuli silahkan visum,” pintanya.

Sementara itu, atas laporan dugaan penganiayaan, Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi membenarkan.

 

“Ya kami sudah terima pengaduannya (Bukti Laporan Nomor Dumas 738/IX/2021/SPKT/SATRESKRIM/POLRESTA DPS/POLDA BALI). Sementara ditindak lanjuti,” terang Iptu Sukadi singkat.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/