alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Santika Sekarat Dimassa, Istri Klaim Tak Tahu Pekerjaan Suami Jambret

RadarBali.com – Nyoman Santika, 33, pelaku jambret di kampung turis, Kuta, Badung masih tergolek lemah di ruangan tindakan IGD RS Sanglah.

Pria  asal Bebetin, Buleleng ditemani oleh istrinya Putu Luh Sukerni, 25, dan keluarganya. “Santika sudah sadar, namun kondisinya masih lemah.

Babak belur di bagian wajah, patah tulang tengkorak belakang dan luka lebam di mata,” ucap Sukerni kemarin (26/10).

Sukerni mengatakan, tidak tahu jika suaminya babak belur diamuk warga setelah tertangkap basah menjambret di daerah Kuta.

Peristiwa yang dialami suaminya dikabarkan oleh pamannya. Pasalnya saat itu dirinya sedang bekerja di salah satu hotel di daerah Tanjung Benoa. 

“Kalau pekerjaan suami saya jambret, saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak tahu dia bekerja di mana. Jika saya tanya, pasti dijawab bekerja Kuta,” ungkap perempuan asal Panji Anom, Sukasada, Buleleng. 

Diakui, dulu suaminya pernah bekerja di daerah pariwisata yang ada di Lovina. Saat masih tinggal di rumah Buleleng.

Karena keinginan menambah penghasilan ekonomi untuk keluarga, akhirnya kemudian memutuskan untuk bekerja di Denpasar. 

Sukerni sendiri tak tahu alasan suaminya menjambret. Diungkapkan Sukerni, saat ini suaminya terkendala dengan biaya rumah sakit.

Pasalnya biaya rumah sakit mencapai puluhan juta rupiah. Terlebih suaminya harus melakukan operasi di bagian otak kepala belakang.

“Tang ten ngelah jinah (saya tidak punya uang) untuk biaya rumah sakit,” ungkap Sukerni dengan nada polos. 

Paman korban Ketut Parna mengakui bahwa Santika babak belur diamuk warga Kuta, Badung karena kedapatan mencopet. “Saya dapat informasi dari buser kepolisian tadi pagi,” ujar Parna.

Lebih lanjut Parna mengatakan, luka yang dialami Santika sangat parah. Santika mengalami luka patah tulang tengkorak belakang. 

Akibat dari hantaman batang balok kayu saat dipukul warga. Tak hanya itu, di bagian mata mengalami gangguan penglihatan. 

“Kami keluarga ingin berdamai dengan kasus ini. saya akan lapor dulu kepada warga banjar yang ada di Kuta. Biar kasus tidak dilanjutkan,” imbuhnya.



RadarBali.com – Nyoman Santika, 33, pelaku jambret di kampung turis, Kuta, Badung masih tergolek lemah di ruangan tindakan IGD RS Sanglah.

Pria  asal Bebetin, Buleleng ditemani oleh istrinya Putu Luh Sukerni, 25, dan keluarganya. “Santika sudah sadar, namun kondisinya masih lemah.

Babak belur di bagian wajah, patah tulang tengkorak belakang dan luka lebam di mata,” ucap Sukerni kemarin (26/10).

Sukerni mengatakan, tidak tahu jika suaminya babak belur diamuk warga setelah tertangkap basah menjambret di daerah Kuta.

Peristiwa yang dialami suaminya dikabarkan oleh pamannya. Pasalnya saat itu dirinya sedang bekerja di salah satu hotel di daerah Tanjung Benoa. 

“Kalau pekerjaan suami saya jambret, saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak tahu dia bekerja di mana. Jika saya tanya, pasti dijawab bekerja Kuta,” ungkap perempuan asal Panji Anom, Sukasada, Buleleng. 

Diakui, dulu suaminya pernah bekerja di daerah pariwisata yang ada di Lovina. Saat masih tinggal di rumah Buleleng.

Karena keinginan menambah penghasilan ekonomi untuk keluarga, akhirnya kemudian memutuskan untuk bekerja di Denpasar. 

Sukerni sendiri tak tahu alasan suaminya menjambret. Diungkapkan Sukerni, saat ini suaminya terkendala dengan biaya rumah sakit.

Pasalnya biaya rumah sakit mencapai puluhan juta rupiah. Terlebih suaminya harus melakukan operasi di bagian otak kepala belakang.

“Tang ten ngelah jinah (saya tidak punya uang) untuk biaya rumah sakit,” ungkap Sukerni dengan nada polos. 

Paman korban Ketut Parna mengakui bahwa Santika babak belur diamuk warga Kuta, Badung karena kedapatan mencopet. “Saya dapat informasi dari buser kepolisian tadi pagi,” ujar Parna.

Lebih lanjut Parna mengatakan, luka yang dialami Santika sangat parah. Santika mengalami luka patah tulang tengkorak belakang. 

Akibat dari hantaman batang balok kayu saat dipukul warga. Tak hanya itu, di bagian mata mengalami gangguan penglihatan. 

“Kami keluarga ingin berdamai dengan kasus ini. saya akan lapor dulu kepada warga banjar yang ada di Kuta. Biar kasus tidak dilanjutkan,” imbuhnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/