alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tak Dinafkahi Lahir Batin, Makin Sakit Hati Dibilang Mati Sejak 2016

KASUS suami nekat memalsukan surat keterangan kematian istri agar bisa menikah lagi terus bergulir di persidangan.

Terdakwa Suraji, 54 (suami), dan Abdul Munir, 43 (Kepala KUA Petang), hari ini bakal menjalani sidang tuntutan.

 

MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

 

HATI siapa yang tidak sakit saat kondisi masih sehat walafiat, tapi dibilang sudah mati. Mirisnya lagi, yang menyatakan sudah meninggal adalah suami sendiri.

Itulah yang dirasakan Diah S, istri terdakwa Suraji. Suraji melakukan semua itu agar bisa menikah lagi dengan perempuan lain.

 

Kini, Suraji harus mempertanggungjawabkan perbuatannya memalsukan dokumen surat kematian istri, KTP, dan KK.

“Sidang tuntutan akan dibacakan besok (Selasa (28/12)) secara daring oleh jaksa penuntut umum,”ujar Kasi Intel Kejari Badung, I Gde Made Bamaxs Wira Wibowo diwawancarai Senin (27/12).

 

Selama persidangan berlangsung, kedua terdakwa mengakui semua dakwaan dan tidak mengajukan eksepsi. Menariknya lagi, keduanya juga tidak didampingi penasihat hukum atau pengacara.

 

JPU Putu Yumi Antari dan Si Ayu Alit Sutari Dewi menjerat terdakwa Suraji dengan Pasal 263 ayat (2) KUHP dan Pasal 264 ayat (2) KUHP, atau Pasal 266 ayat (2) KUHP, dengan ancaman maksimal enam tahun penjara.

Baca Juga:  Nenek Buta Huruf di Bali yang Didakwa Palsukan Silsilah Diputus Bebas

 

Sedangkan terdakwa Abdul Munir yang merupakan Kepala KUA Kecamatan Petang, Badung, didakwa Pasal 263 ayat (1) KUHP dan Pasal 264 ayat (1) ke-1 KUHP, atau Pasal 266 ayat (1) KUHP, dengan ancaman maksimal tujuh tahun penjara.

 

Dijelaskan lebih lanjut, JPU telah menghadirkan empat orang saksi. Yakni saksi korban Diah S, saksi Ari Eko Wahyu Widianto Putra, saksi Hernanik, dan saksi I Wayan Suryantara.

 

Saksi Diah yang merupakan istri sah dari terdakwa Suraji memberikan keterangan memilukan. Pada intinya, Diah membenarkan telah mengetahui suaminya menikah lagi dengan saksi Hernanik pada 30 Agustus 2019.

 

Pernikahan tersebut juga diakui terdakwa Suraji. Bahkan, saksi pernah korban diperlihatkan buku nikah terdakwa dengan istri barunya.

 

Atas pengakuan terdakwa Suraji, yang menikahkan adalah terdakwa Abdul Munir. Setelah saksi korban mengecek ke KUA Petang, saksi diperlihatkan berkas administrasi pernikahan suaminya oleh staf KUA bernama Rudi.

Baca Juga:  Investasi Goldkoin Rp10 Juta Untung, Investasi Rp220 Juta Buntung

 

“Saksi terkejut melihat ada surat keterangan kematian yang menerangkan bahwa dirinya telah meninggal pada tahun 2016. Padahal, saksi masih hidup,” jelas Bamaxs.

 

Selain itu, saksi korban juga melihat ada KTP dan KK Palsu yang menyatakan bahwa terdakwa Suraji berdomisili di Desa Petang. Saksi Diah merasa sakit hati dan dirugikan karena sejak terdakwa Suraji menikah lagi.

 

“Saksi korban dan keluarganya tidak dinafkahi lahir dan batin oleh terdakwa,” imbuh Bamaxs.

 

Saksi juga menerangkan bahwa yang membuat surat keterangan kematian palsu, KTP palsu, dan KK Palsu adalah terdakwa Abdul Munir.

 

Saksi Diah pernah menanyakan hal tersebut kepada terdakwa Abdul Munir. Terdakwa Munir mengakui semuanya, bahwa terdakwa membuat sendiri surat kematian palsu, KK, dan KTP palsu.

 

“Tujuan pembuatan surat palsu untuk melengkapi syarat-syarat pernikahan terdakwa Suraji agar bisa menikah lagi,” tandas Bamaxs. Untuk memperkuat dakwaan, JPU juga membacakan keterangan saksi ahli.


KASUS suami nekat memalsukan surat keterangan kematian istri agar bisa menikah lagi terus bergulir di persidangan.

Terdakwa Suraji, 54 (suami), dan Abdul Munir, 43 (Kepala KUA Petang), hari ini bakal menjalani sidang tuntutan.

 

MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

 

HATI siapa yang tidak sakit saat kondisi masih sehat walafiat, tapi dibilang sudah mati. Mirisnya lagi, yang menyatakan sudah meninggal adalah suami sendiri.

Itulah yang dirasakan Diah S, istri terdakwa Suraji. Suraji melakukan semua itu agar bisa menikah lagi dengan perempuan lain.

 

Kini, Suraji harus mempertanggungjawabkan perbuatannya memalsukan dokumen surat kematian istri, KTP, dan KK.

“Sidang tuntutan akan dibacakan besok (Selasa (28/12)) secara daring oleh jaksa penuntut umum,”ujar Kasi Intel Kejari Badung, I Gde Made Bamaxs Wira Wibowo diwawancarai Senin (27/12).

 

Selama persidangan berlangsung, kedua terdakwa mengakui semua dakwaan dan tidak mengajukan eksepsi. Menariknya lagi, keduanya juga tidak didampingi penasihat hukum atau pengacara.

 

JPU Putu Yumi Antari dan Si Ayu Alit Sutari Dewi menjerat terdakwa Suraji dengan Pasal 263 ayat (2) KUHP dan Pasal 264 ayat (2) KUHP, atau Pasal 266 ayat (2) KUHP, dengan ancaman maksimal enam tahun penjara.

Baca Juga:  Investasi Goldkoin Rp10 Juta Untung, Investasi Rp220 Juta Buntung

 

Sedangkan terdakwa Abdul Munir yang merupakan Kepala KUA Kecamatan Petang, Badung, didakwa Pasal 263 ayat (1) KUHP dan Pasal 264 ayat (1) ke-1 KUHP, atau Pasal 266 ayat (1) KUHP, dengan ancaman maksimal tujuh tahun penjara.

 

Dijelaskan lebih lanjut, JPU telah menghadirkan empat orang saksi. Yakni saksi korban Diah S, saksi Ari Eko Wahyu Widianto Putra, saksi Hernanik, dan saksi I Wayan Suryantara.

 

Saksi Diah yang merupakan istri sah dari terdakwa Suraji memberikan keterangan memilukan. Pada intinya, Diah membenarkan telah mengetahui suaminya menikah lagi dengan saksi Hernanik pada 30 Agustus 2019.

 

Pernikahan tersebut juga diakui terdakwa Suraji. Bahkan, saksi pernah korban diperlihatkan buku nikah terdakwa dengan istri barunya.

 

Atas pengakuan terdakwa Suraji, yang menikahkan adalah terdakwa Abdul Munir. Setelah saksi korban mengecek ke KUA Petang, saksi diperlihatkan berkas administrasi pernikahan suaminya oleh staf KUA bernama Rudi.

Baca Juga:  Diduga Rugikan Rp21 Miliar, Pengusaha Bali Inisial ZT Jadi Tersangka

 

“Saksi terkejut melihat ada surat keterangan kematian yang menerangkan bahwa dirinya telah meninggal pada tahun 2016. Padahal, saksi masih hidup,” jelas Bamaxs.

 

Selain itu, saksi korban juga melihat ada KTP dan KK Palsu yang menyatakan bahwa terdakwa Suraji berdomisili di Desa Petang. Saksi Diah merasa sakit hati dan dirugikan karena sejak terdakwa Suraji menikah lagi.

 

“Saksi korban dan keluarganya tidak dinafkahi lahir dan batin oleh terdakwa,” imbuh Bamaxs.

 

Saksi juga menerangkan bahwa yang membuat surat keterangan kematian palsu, KTP palsu, dan KK Palsu adalah terdakwa Abdul Munir.

 

Saksi Diah pernah menanyakan hal tersebut kepada terdakwa Abdul Munir. Terdakwa Munir mengakui semuanya, bahwa terdakwa membuat sendiri surat kematian palsu, KK, dan KTP palsu.

 

“Tujuan pembuatan surat palsu untuk melengkapi syarat-syarat pernikahan terdakwa Suraji agar bisa menikah lagi,” tandas Bamaxs. Untuk memperkuat dakwaan, JPU juga membacakan keterangan saksi ahli.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/