alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Bali Jadi Surga Bagi Para Penyelundup Burung Liar dan Dilindungi

DENPASAR-LSM bernama NGO FLIGHT ( Protecting Indonesia’s Birds) yang berfokus pada perlindungan burung liar membeberkan fakta yang cukup mencengangkan.

 

Dimana menurut mereka, Bali adalah pulau yang menjadi surga tempat penyelundupan burung. Bahkan banyak diantaranya, jenis yang dilindungi dan terancam punah. 

 

 

Hal itu, disampaikan langsung oleh Marison Guciano selaku Direktur Eksekutif FLIGHT di Kubu Kopi, jalan Hayam Wuruk, Denpasar pada Sabtu (29/1/2022).

 

“Bali surganya pemburu dan pedagang ilegal. Tak terkecuali dengan burung liar yang terancam,” katanya.

 

Lanjut dia, berdasarkan data yang dicatat oleh pihaknya, setidaknya ada satu ekor burung langka yang diselundupkan dari Bali atau melalui Bali ke Pulau Jawa per minggunya. 

Baca Juga:  Terungkap, Dua Pelaku Residivis, Polisi Buru Satu Penadah Sapi Curian

 

Beragam jenis burung itu 40 persen didatangkan dari NTT dan NTB.

 

Sedangkan 60 persen sisanya berasal dari Bali sendiri.

 

Praktik penyelundupan itu dilakukan melalui truk ekspedisi dan bus penumpang antar provinsi. Modusnya ditaruh di dalam koper, dua atau tas yang kemudian dimasukan ke dalam bagasi bus.

 

Menurut Marison, tingginya praktik penyelundupan satwa ini didorong oleh nilai ekomi yang menggiurkan.

 

Demi keuntungan besar dan cepat, para pelaku nekat melakukannya meski dengan resiko terjerat hukum. Harga yang ditawarkan pun cukup tinggi.

 

Harga per ekornya di Bali akan menjadi tiga kali lipat ketika burung itu dijual ke luar pulau termasuk pulau Jawa. 

Baca Juga:  Depresi Sakit Bertahun-Tahun, Lansia Asal Marga Tabanan Bunuh Diri

 

“Para pelaku mendapatkan keuntungan jutaan rupiah. Bahkan sampai ratusan juta,” tambahnya. Dengan maraknya praktik ini, dia memprediksi bahwa dalam 10 tabun ke depan, populasi burung di Bali akan berkurang. Hal itu akan berpengaruh pada meningkatnya populasi serangga yang menjadi salah satu makanan pokok burung. 

 

Masalah lain akan muncul. Serangga akan menjadi hama yang akan merusak sektor pertanian.

 

Sehingga Marison berharap agar ke depannya pihak-pihak terkait seperti BKSDA dan juga penegak hukum lebih serius lagi untuk mengusut hal ini.

- Advertisement -

- Advertisement -

DENPASAR-LSM bernama NGO FLIGHT ( Protecting Indonesia’s Birds) yang berfokus pada perlindungan burung liar membeberkan fakta yang cukup mencengangkan.

 

Dimana menurut mereka, Bali adalah pulau yang menjadi surga tempat penyelundupan burung. Bahkan banyak diantaranya, jenis yang dilindungi dan terancam punah. 


 

 

Hal itu, disampaikan langsung oleh Marison Guciano selaku Direktur Eksekutif FLIGHT di Kubu Kopi, jalan Hayam Wuruk, Denpasar pada Sabtu (29/1/2022).

 

“Bali surganya pemburu dan pedagang ilegal. Tak terkecuali dengan burung liar yang terancam,” katanya.

 

Lanjut dia, berdasarkan data yang dicatat oleh pihaknya, setidaknya ada satu ekor burung langka yang diselundupkan dari Bali atau melalui Bali ke Pulau Jawa per minggunya. 

Baca Juga:  Bali Ekspor Produk Pertanian saat Pandemi Covid-19, Begini Kata Koster

 

Beragam jenis burung itu 40 persen didatangkan dari NTT dan NTB.

 

Sedangkan 60 persen sisanya berasal dari Bali sendiri.

 

Praktik penyelundupan itu dilakukan melalui truk ekspedisi dan bus penumpang antar provinsi. Modusnya ditaruh di dalam koper, dua atau tas yang kemudian dimasukan ke dalam bagasi bus.

 

Menurut Marison, tingginya praktik penyelundupan satwa ini didorong oleh nilai ekomi yang menggiurkan.

 

Demi keuntungan besar dan cepat, para pelaku nekat melakukannya meski dengan resiko terjerat hukum. Harga yang ditawarkan pun cukup tinggi.

 

Harga per ekornya di Bali akan menjadi tiga kali lipat ketika burung itu dijual ke luar pulau termasuk pulau Jawa. 

Baca Juga:  Polresta Denpasar Masih Mentok dalam Ungkap Dua Kasus Pembunuhan Ini

 

“Para pelaku mendapatkan keuntungan jutaan rupiah. Bahkan sampai ratusan juta,” tambahnya. Dengan maraknya praktik ini, dia memprediksi bahwa dalam 10 tabun ke depan, populasi burung di Bali akan berkurang. Hal itu akan berpengaruh pada meningkatnya populasi serangga yang menjadi salah satu makanan pokok burung. 

 

Masalah lain akan muncul. Serangga akan menjadi hama yang akan merusak sektor pertanian.

 

Sehingga Marison berharap agar ke depannya pihak-pihak terkait seperti BKSDA dan juga penegak hukum lebih serius lagi untuk mengusut hal ini.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/