alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Korban Sempat Digendong Pelaku lalu Dibawa ke Rumah Sakit

PELAJAR salah satu SMP di Denpasar berinisial MR, 14, mengaku menjadi korban kekerasan yang dilakukan oknum polisi berpakian preman masih tergolek lemas. Kakinya patah. Dan sudah menjalani operasi di  RS Bross Renon..

 

Informasi yang diperoleh, selain patah kaki, korban mengaku disetrum di bagian paha dan tulang rusuk. Bahkan juga di pukul di bagian mulut.

 

Kejadiannya di depan The Hub Sanur, pada Sabtu (25/9) dini hari lalu saat polisi membubarkan aksi balap liar. Saat korban meringis kesakitan, oknum polisi tersebut sempat meminta korban menghubungi orang tuanya.

 

Disaat bersamaan, datang polisi lainnya memakai seragam dan senjata lengkap menanyakan kejadian kepada oknum polisi pakaian preman tersebut.

Baca Juga:  Ditanya Kasus AWK oleh KRB, Wadir Krimum Polda Bali: Itu Hak Pelapor

 

Polisi berpakaian lengkap kemudian menelpon orang tua korban. “Ya, ayahnya korban bernama Made TJS bergegas ke TKP dari rumahnya di kawasan Padangsambian, Denbar,” kata sumber petugas di kepolisian yang menolak ditulis namanya.

 

Sesampainya di TKP, TJS menemukan anaknya duduk di pinggir jalan sambil memegang kakinya yang patah. Sang ayah lalu menanyakan siapa yang melakukan. Waktu itu korban langsung menunjuk oknum polisi yang berpakaian preman tersebut.

 

Oknum tersebut juga sempat ikut menggendong korban ke mobil untuk selanjutnya dibawa ke RS Bross Renon.

 

Saat tiba di RS, dokter memutuskan untuk melakukan operasi kaki korban yang patah tepat di tulang keringnya.

Baca Juga:  Tak Masuk Kerja, Guru Kanada Ditemukan Tewas Dalam Kondisi Bugil

 

Hingga korban dirawat dua hari di RS Bross, oknum tersebut tidak ada permintaan maaf atau menjenguk. “Karena tidak ada niat baik dari oknum polisi itu, orangtua korban pilih lapor ke Propam Polda Bali,” pungkas sumber.

 

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Syamsi membenarkan telah menerima laporan tersebut. Namun, belum bisa disimpulkan yang melakukan tindakan kekerasan kepada korban dilakkan oknum anggota polisi.

 

Sebab korban dan pelapor juga tidak bisa memastikan apakah terlapor adalah anggota polisi atau bukan. “Saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Sebab pelapor juga tidak bisa memastikan telapornya seorang anggota polisi,” tegas Syamsi.

 

 

PELAJAR salah satu SMP di Denpasar berinisial MR, 14, mengaku menjadi korban kekerasan yang dilakukan oknum polisi berpakian preman masih tergolek lemas. Kakinya patah. Dan sudah menjalani operasi di  RS Bross Renon..

 

Informasi yang diperoleh, selain patah kaki, korban mengaku disetrum di bagian paha dan tulang rusuk. Bahkan juga di pukul di bagian mulut.

 

Kejadiannya di depan The Hub Sanur, pada Sabtu (25/9) dini hari lalu saat polisi membubarkan aksi balap liar. Saat korban meringis kesakitan, oknum polisi tersebut sempat meminta korban menghubungi orang tuanya.

 

Disaat bersamaan, datang polisi lainnya memakai seragam dan senjata lengkap menanyakan kejadian kepada oknum polisi pakaian preman tersebut.

Baca Juga:  Awas! Polda Bali akan Pasang Kamera Pengintai untuk Tilang Elektronik

 

Polisi berpakaian lengkap kemudian menelpon orang tua korban. “Ya, ayahnya korban bernama Made TJS bergegas ke TKP dari rumahnya di kawasan Padangsambian, Denbar,” kata sumber petugas di kepolisian yang menolak ditulis namanya.

 

Sesampainya di TKP, TJS menemukan anaknya duduk di pinggir jalan sambil memegang kakinya yang patah. Sang ayah lalu menanyakan siapa yang melakukan. Waktu itu korban langsung menunjuk oknum polisi yang berpakaian preman tersebut.

 

Oknum tersebut juga sempat ikut menggendong korban ke mobil untuk selanjutnya dibawa ke RS Bross Renon.

 

Saat tiba di RS, dokter memutuskan untuk melakukan operasi kaki korban yang patah tepat di tulang keringnya.

Baca Juga:  Fraksi Gerindra DPRD Gianyar Pertanyakan SP3 Mudana

 

Hingga korban dirawat dua hari di RS Bross, oknum tersebut tidak ada permintaan maaf atau menjenguk. “Karena tidak ada niat baik dari oknum polisi itu, orangtua korban pilih lapor ke Propam Polda Bali,” pungkas sumber.

 

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Syamsi membenarkan telah menerima laporan tersebut. Namun, belum bisa disimpulkan yang melakukan tindakan kekerasan kepada korban dilakkan oknum anggota polisi.

 

Sebab korban dan pelapor juga tidak bisa memastikan apakah terlapor adalah anggota polisi atau bukan. “Saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Sebab pelapor juga tidak bisa memastikan telapornya seorang anggota polisi,” tegas Syamsi.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/