alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Jaksa Tawarkan Zainal Damai dengan Ponakan sebelum Tuntutan Dibacakan

MANGUPURA– Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa Zainal Tayeb, 65, berjalan menarik. JPU Kejari Badung yang dikoordinir Imam Ramadhoni berusaha mendapat alasan Zainal menjual tanah yang luasannya diduga tidak sesuai dengan akta otentik Nomor 33.

 

JPU Doni dan dan Dewa Arya Lanang Raharja bergantian mencecar Zainal dalam persidangan. Namun, Zainal bergeming. Pengusaha yang juga mantan promotor tinju itu kukuh pada pendiriannya.

 

Ia menyatakan akta otentik Nomor 33 ditandatangani lantaran dirinya sebagai pihak pertama dan Haedar Giacomo Boy Syam sebagai pihak kedua sudah saling setuju. “Kenapa Anda tidak mengecek luasan tanah sebelum tandatangan akta?” cecar hakim Doni.

 

Zainal yang didampingi tim kuasa hukumnya menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang. “Saya tidak mengecek luasan tanah, karena saya percaya Haedar,” jawab Zainal.

Karena mentok, giliran JPU Lanang yang bertanya. “Saudara terdakwa, kenapa tidak melakukan penyesuaian dan pengecekan? Kenapa Anda begitu percaya dengan Haedar?” kejar Lanang.

Baca Juga:  Impor Narkoba dari Malaysia, Kabur, Asep Diringkus di Toko Kelontong

 

Lagi-lagi, Zainal menyatakan dirinya menaruh kepercayaan penuh pada Haedar. “Sebab dia (Haedar) itu keponakan saya. Dia yang ukur dan dia yang cek, saya percaya saja,” tutur Zainal.

 

JPU Lanang kemudian menyarankan Zainal agar berdamai dengan pelapor sebelum tuntutan dibacakan pada sidang pekan depan. “Kalau Anda berdamai dengan Haedar bisa menjadi pertimbangan (meringankan) sebelum tuntutan dibacakan,” kata Lanang.

 

Zainal mengatakan, sebelum ada mediasi atau berdamai agar dilakukan pengukuran ulang terhadap luasan tanah yang menjadi objek perkara. “Saya minta tanah diukur ulang. Kalau luas tanah memang kurang akan saya bayar. Setelah pengukuran ulang, barulah kita duduk bersama,” ujar Zainal.

 

Zainal mengklaim upaya mediasi sudah dilakukan beberapa kali. Namun pihak Hedar Giacomo Boy Sam tidak pernah menanggapinya. JPU lantas menanyakan somasi yang dilayangkan pihak Haedar. Zainal menyebut somasi yang dilayangkan tersebut tidak berkaitan dengan objek kerja sama.  “Saya tidak pernah komunikasi lagi sama Haedar, tahu-tahu saya dilaporkan,” tandasnya.

Baca Juga:  Dituntut 5 Tahun Penjara, Sejoli Terdakwa Aborsi Berlinang Air Mata

 

“Keterangan Anda ini berbeda dengan keterangan Haedar,” cetus Lanang. Zainal hanya tersenyum. Dijelaskan Zainal, awalnya tanah proyek Cemagi ada dalam 9 SHM induk yang kemudian dipecah-pecah hingga seluas 13.700.

 

“Saya yakin kalau diukur lagi lebih dari itu, ada sisa 2 are. Kalau yang dimasukkan dalam akta saya tidak tahu, sebab saya tidak pegang sertifikat, semua ada di kantor Bali Mirah Konstruksi,” beber Zainal.

 

JPU lantas menanyakan kelebihan pembayaran Rp 21 miliar yang diklaim Haedar. Zainal menjawab dengan dingin pertanyaan tersebut. “Saya yakin, kalau diukur ulang luasnya sesuai. Bahkan, kalau ada yang kurang saya siap bayar,” tandas pria asal Mamasa itu.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda tuntutan dari JPU Kejari Badung.

- Advertisement -

- Advertisement -

MANGUPURA– Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa Zainal Tayeb, 65, berjalan menarik. JPU Kejari Badung yang dikoordinir Imam Ramadhoni berusaha mendapat alasan Zainal menjual tanah yang luasannya diduga tidak sesuai dengan akta otentik Nomor 33.

 

JPU Doni dan dan Dewa Arya Lanang Raharja bergantian mencecar Zainal dalam persidangan. Namun, Zainal bergeming. Pengusaha yang juga mantan promotor tinju itu kukuh pada pendiriannya.


 

Ia menyatakan akta otentik Nomor 33 ditandatangani lantaran dirinya sebagai pihak pertama dan Haedar Giacomo Boy Syam sebagai pihak kedua sudah saling setuju. “Kenapa Anda tidak mengecek luasan tanah sebelum tandatangan akta?” cecar hakim Doni.

 

Zainal yang didampingi tim kuasa hukumnya menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang. “Saya tidak mengecek luasan tanah, karena saya percaya Haedar,” jawab Zainal.

Karena mentok, giliran JPU Lanang yang bertanya. “Saudara terdakwa, kenapa tidak melakukan penyesuaian dan pengecekan? Kenapa Anda begitu percaya dengan Haedar?” kejar Lanang.

Baca Juga:  Gegara “Sincan” Si Buron, Rizki Dituntut 8 Tahun Bui & Denda Rp 1,4 M

 

Lagi-lagi, Zainal menyatakan dirinya menaruh kepercayaan penuh pada Haedar. “Sebab dia (Haedar) itu keponakan saya. Dia yang ukur dan dia yang cek, saya percaya saja,” tutur Zainal.

 

JPU Lanang kemudian menyarankan Zainal agar berdamai dengan pelapor sebelum tuntutan dibacakan pada sidang pekan depan. “Kalau Anda berdamai dengan Haedar bisa menjadi pertimbangan (meringankan) sebelum tuntutan dibacakan,” kata Lanang.

 

Zainal mengatakan, sebelum ada mediasi atau berdamai agar dilakukan pengukuran ulang terhadap luasan tanah yang menjadi objek perkara. “Saya minta tanah diukur ulang. Kalau luas tanah memang kurang akan saya bayar. Setelah pengukuran ulang, barulah kita duduk bersama,” ujar Zainal.

 

Zainal mengklaim upaya mediasi sudah dilakukan beberapa kali. Namun pihak Hedar Giacomo Boy Sam tidak pernah menanggapinya. JPU lantas menanyakan somasi yang dilayangkan pihak Haedar. Zainal menyebut somasi yang dilayangkan tersebut tidak berkaitan dengan objek kerja sama.  “Saya tidak pernah komunikasi lagi sama Haedar, tahu-tahu saya dilaporkan,” tandasnya.

Baca Juga:  Viral Aksi Barbar Residivis Diciduk, Dengar Pesan Bijak Tokoh Muda Ini

 

“Keterangan Anda ini berbeda dengan keterangan Haedar,” cetus Lanang. Zainal hanya tersenyum. Dijelaskan Zainal, awalnya tanah proyek Cemagi ada dalam 9 SHM induk yang kemudian dipecah-pecah hingga seluas 13.700.

 

“Saya yakin kalau diukur lagi lebih dari itu, ada sisa 2 are. Kalau yang dimasukkan dalam akta saya tidak tahu, sebab saya tidak pegang sertifikat, semua ada di kantor Bali Mirah Konstruksi,” beber Zainal.

 

JPU lantas menanyakan kelebihan pembayaran Rp 21 miliar yang diklaim Haedar. Zainal menjawab dengan dingin pertanyaan tersebut. “Saya yakin, kalau diukur ulang luasnya sesuai. Bahkan, kalau ada yang kurang saya siap bayar,” tandas pria asal Mamasa itu.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda tuntutan dari JPU Kejari Badung.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/