alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

JPU Ajukan Banding, Benarkah Dugaan Zainal Tayeb Sengaja Ditumbalkan?

DENPASAR –Lontaran pernyataan Terdakwa Zainal Tayeb terkait adanya dugaan skenario dan sengaja dijadikan tumbal hukum pasca menerima vonis 3,5 tahun dalam perkara dugaan menyuruh memasukkan keterangan palsu dalam data outentik seperti mendekati kebenaran.

Pasalnya, setelah menyatakan kecewaannya terhadap sejumlah kejanggalan dan keputusan Majelis Hakim pimpinan I Wayan Yasa dengan pidana penjara selama 3,6 tahun, atau lebih berat enam bulan dari tuntutan JPU.

Kini, keputusan mengejutkan kembali diambil tim jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Badung.

Keputusan mengejutkan itu, menyusul dengan upaya atau langkah hukum baru yang diajukan tim JPU Kejari Badung.

Seperti tak puas dengan amar putusan hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar meski telah memvonis Terdakwa Zainal Tayeb lebih berat, tim JPU Kejari Badung justru mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar.

“Barusan  kami menyatakan banding untuk perkara Zainal Tayeb,” ujar Kasi Intel Kejari Badung, I Gde Bamaxs Wira Wibowo, saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali, Senin (29/11).

Baca Juga:  Tewas Dibunuh Usai Geber Gas Motor, Saksi Mata Syok Melihat Fakta Ini

Lebih lanjut, Bamaxs menyebut, ada sejumlah alasan JPU menyatakan banding.

Di antaranya ada pertimbangan JPU yang tidak diakomodir dalam putusan hakim PN Denpasar yang diketuai I Wayan Yasa.

Kapan banding diajukan? “Saat ini JPU masih menyusun memori banding atau kontra memori bandingnya, karena kami juga belum menerima (salinan putusan),” tukas Bamaxs.

Sementara itu terkait upaya banding dari pihak JPU, Koordinator tim Kuasa Hukum terdakwa, Mila Tayeb terkesan pasrah.

“Saya serahkan ke tim (pengacara), karena saya masih syok,” tutur adik Zainal Tayeb itu.

Seperti diketahui, majelis hakim yang diketuai I Wayan Yasa dkk menjatuhkan pidana penjara selama 3,5 tahun terhadap Zainal Tayeb.

Putusan hakim tersebut lebih berat dari tuntutan JPU Imam Ramadhoni dkk yang sebelumnya menuntut tiga tahun penjara.

Hakim menilai perbuatan Zainal memenuhi unsur-unsur Pasal 266 ayat (1) KUHP.

Dalam perkara ini, pengusaha sukses kelahiran Mamasa, Sulawesi Barat, ini dinyatakan terbukti menyuruh memberikan keterangan palsu ke dalam akta otentik akta Nomor 33 atau akta perjanjian kerja sama antara Zainal dengan saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam yang tak lain masih keponakannya.

Baca Juga:  Putusan Kasus Korupsi Kapal Inka Mina Miring, JPU Putuskan Banding

Hakim Wayan Yasa dkk sendiri langsung ngacir usai menjatuhkan putusan.

Diwawancarai usai sidang, Zainal mengaku kaget sekaligus kecewa dengan putusan hakim. “Putusan hakim sungguh di luar dugaan. Saya sangat kecewa,” kata Zainal, saat itu.

Pria asal Mamasa, Sulawesi Barat, itu merasa kecewa pada hakim lantaran terdakwa lain dalam kasus ini, yakni Yuri Pranatomo divonis bebas. Yuri merupakan anak buah Hedar. Yuri yang mengetik dan merancang draf perjanjian kerja sama antara Zainal dengan Hedar.

“Terdakwa Yuri bebas, sedangkan saya divonis bersalah. Yuri yang menyusun draf berdasar kesepakatan saya dengan Hedar. Kenapa Yuri bebas, sedangkan saya tidak? Ini aneh, diputarbalikkan” cetus Zainal.

“Jangan sampai ada orang lain dijadikan tumbal. Cukup saya saja,” tukasnya.



DENPASAR –Lontaran pernyataan Terdakwa Zainal Tayeb terkait adanya dugaan skenario dan sengaja dijadikan tumbal hukum pasca menerima vonis 3,5 tahun dalam perkara dugaan menyuruh memasukkan keterangan palsu dalam data outentik seperti mendekati kebenaran.

Pasalnya, setelah menyatakan kecewaannya terhadap sejumlah kejanggalan dan keputusan Majelis Hakim pimpinan I Wayan Yasa dengan pidana penjara selama 3,6 tahun, atau lebih berat enam bulan dari tuntutan JPU.

Kini, keputusan mengejutkan kembali diambil tim jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Badung.

Keputusan mengejutkan itu, menyusul dengan upaya atau langkah hukum baru yang diajukan tim JPU Kejari Badung.

Seperti tak puas dengan amar putusan hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar meski telah memvonis Terdakwa Zainal Tayeb lebih berat, tim JPU Kejari Badung justru mengajukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar.

“Barusan  kami menyatakan banding untuk perkara Zainal Tayeb,” ujar Kasi Intel Kejari Badung, I Gde Bamaxs Wira Wibowo, saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bali, Senin (29/11).

Baca Juga:  Kondisi Kesehatan Menurun, Keluarga ZT Kembali Ajukan Penangguhan

Lebih lanjut, Bamaxs menyebut, ada sejumlah alasan JPU menyatakan banding.

Di antaranya ada pertimbangan JPU yang tidak diakomodir dalam putusan hakim PN Denpasar yang diketuai I Wayan Yasa.

Kapan banding diajukan? “Saat ini JPU masih menyusun memori banding atau kontra memori bandingnya, karena kami juga belum menerima (salinan putusan),” tukas Bamaxs.

Sementara itu terkait upaya banding dari pihak JPU, Koordinator tim Kuasa Hukum terdakwa, Mila Tayeb terkesan pasrah.

“Saya serahkan ke tim (pengacara), karena saya masih syok,” tutur adik Zainal Tayeb itu.

Seperti diketahui, majelis hakim yang diketuai I Wayan Yasa dkk menjatuhkan pidana penjara selama 3,5 tahun terhadap Zainal Tayeb.

Putusan hakim tersebut lebih berat dari tuntutan JPU Imam Ramadhoni dkk yang sebelumnya menuntut tiga tahun penjara.

Hakim menilai perbuatan Zainal memenuhi unsur-unsur Pasal 266 ayat (1) KUHP.

Dalam perkara ini, pengusaha sukses kelahiran Mamasa, Sulawesi Barat, ini dinyatakan terbukti menyuruh memberikan keterangan palsu ke dalam akta otentik akta Nomor 33 atau akta perjanjian kerja sama antara Zainal dengan saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam yang tak lain masih keponakannya.

Baca Juga:  Bawa Pisau Ancam Warga, Melawan saat Diamankan, ODGJ Diamuk Massa

Hakim Wayan Yasa dkk sendiri langsung ngacir usai menjatuhkan putusan.

Diwawancarai usai sidang, Zainal mengaku kaget sekaligus kecewa dengan putusan hakim. “Putusan hakim sungguh di luar dugaan. Saya sangat kecewa,” kata Zainal, saat itu.

Pria asal Mamasa, Sulawesi Barat, itu merasa kecewa pada hakim lantaran terdakwa lain dalam kasus ini, yakni Yuri Pranatomo divonis bebas. Yuri merupakan anak buah Hedar. Yuri yang mengetik dan merancang draf perjanjian kerja sama antara Zainal dengan Hedar.

“Terdakwa Yuri bebas, sedangkan saya divonis bersalah. Yuri yang menyusun draf berdasar kesepakatan saya dengan Hedar. Kenapa Yuri bebas, sedangkan saya tidak? Ini aneh, diputarbalikkan” cetus Zainal.

“Jangan sampai ada orang lain dijadikan tumbal. Cukup saya saja,” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/