alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Sebelum Anak Pukul Ibu, Hubungan Ibu dan Ayah Retak karena Selingkuh

Kasus penganiayaan seorang anak, dr IGA terhadap ibu kandungnya, Bisloitasari Manullang, ternyata berawal dari masalah biduk rumah tangga keluarga ini yang retak. Diduga, biduk rumah tangga ini retak karena sang suami selingkuh.

ANDRE SULLA, Denpasar

 

DI Mapolresta Denpasar, Bisloitasari Manullang menceritakan kehidupan rumah tangganya yang berujung pada penganiayaan oleh sang anak terhadapnya.

Ini berawal ketika ia menikah dengan drg I Ketut N pada tahun 1994. Dari perkawinan ini, pasangan ini dikarunia anak, IGA yang di kemudian hari menjadi dokter di sebuah rumah sakit swasta di Nusa Dua.

 

Hubungan rumah tangga Bisloitasari dengan drg I Ketut N akhirnya retak karena tak lain dan tak bukan, ada wanita idaman lain jadi orang ketiga.

Karena itu, hubungan rumah tangga mereka berdua berujung perceraian pada tahun 2003. Dalam perjalanannya, drg I Ketut N dan Bisloitasari rujuk. Mereka menikah kembali pada tahun 2015. Lagi-lagi setelah menikah, ternyata hubungan rumah tangganya goyah.

 

“Ya karena ada wanita lain dalam kehidupan suami. Saya membuat kesepakatan bercerai tahun 2016 ketika berada di Dompu. Tapi, namun sang suami tidak mau bercerai,” kata dia.

Singkat cerita, semenjak di Dompu pada tahun 2015, wanita ini ditelantarkan. Ia sempat jadi korban penganiayan oleh suami, juga data dirinya dipalsukan.

 

“Selain sang suami memiliki selingkuhan, malah KTP saya diblokir. Data diri saya sengaja dihapus oleh suami dari kartu keluarga,” bebernya.

Karena itu ia sempat melapor ke Polres Dompu dan juga ke Polsek Dompu terkait  KDRT, perzinahan, pemalsuan data dan lain-lain. Namun, laporannya di Dompu itu mentok. Sejak pertengahan 2016, ia memilih pihak ranjang dan terbang ke Bali. Wanita ini tinggal seorang diri di kos, kawan Abianbase, Kuta Utara.

 

Saat di Dompu, sang suami tugas RSU Dompu di bagian poli gigi. Lalu pindah ke Bali sejak 2018, tugasnya di poli gigi di sebuah Puskesmas di Karangasem hingga kini.

 

Di kemudian hari, yakni Minggu, 13 Maret 2022 sekitar pukul 18.10 Wita, Bisloitasari Manullang bertandang ke rumah tante dan paman di Jalan Tukad Balian (TKP). 

 

Wanita ini minta tolong kepada tante dan paman untuk membantu pengurusan surat-surat (data diri). Mengingat tantenya pernah berjanji akan membantu surat-surat identitasnya.

Paman dan tante menyarankan ketika pengurusan surat-surat telah selesai, mereka berharap Bisloitasari Manullang wajib tinggal di rumah sang anak Dokter IGA di kawasan Jalan Gunung Karang, Denpasar. Upaya perdamaian akan dikomunikasikan oleh sang tante dan pamannya.

 

“Saya tinggal di kos karena pisah ranjang sejak 2016 dengan suami. Saya sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan sang anak,” kata Bisloitasari Manullang, akrab disapa Ita, ketika ditemui di Mapolresta Denpasar, Selasa (29/3).

Nah, ketika sampai di rumah paman dan tantenya, datang anaknya, Dokter IGA dan ayahnya (suami dari Ita) Drg I Ketut N dan duduk di sebelah kanan sang tante dan paman sementara wanita ini duduk di sebelah kiri.

 

Keduanya sama sekali tidak menyapa Bisloitasari Manullang. Dan memilih duduk di sebelah tantenya.

 

“Karena tak disapa, saya hanya bisa menangis. Anak saya terlihat marah, dan mengepal tangan seolah-oleh ingin memukul saya,” sebutnya.

Sambil menangis, saya menyapa sang anak dengan sopan. Sayang, ibunya hanya sebatas dilirik. Lalu sang ibu mengatakan, tidak boleh boleh seperti itu kepada ibu kandung, biar tidak jadi anak durhaka.

 

“Anak saya langsung bilang, tidak percaya Tuhan, apalagi durhaka, sambil berdiri mengepal tangan seperti mau memukul bahkan ia mengambil bungkusan terdapat tisu seolah-oleh ingin melempar,” bebernya sambil menangis.

Reflek sang ibu berdiri dan bertanya, “Nak, siapa yang mengajarkan begitu. Malah dia bergegas memukul saya dengan tangan mengepal hingga pingsan,” katanya.

 

Atas kegaduhan itu, paman Ita bernama Binsar Manullang yang dalam kondisi sakit, keluar dari kamar melerai. Sementara suaminya Drg I Ketut N yang merupakan dokter gigi di sebuah Puskesmas di Karangasem malah diam duduk senyum di sebelah pojok kanan saat terjatuh. 

“Tante saya hanya diam dengan alasan baru vaksin booster. Anak saya ditarik ke kamar oleh sepupu saya,” sebutnya sambil mengusap air mata.

 

Bisloitasari Manullang yang sempat terjatuh dan pingsan ditopang ke tempat duduk oleh paman. “Setelah sadar, saya hanya nangis karena tak menyangka anak saya setega itu,” kisahnya.

“Akibatnya, mata sebelah kanan bengkak dan memar. Pun terdapat benjolan dan luka memar pada kepala bagian belakang,” terangnya.

Dia pun melapor ke Polresta Denpasar dengan nomor laporan polisi Lp/ B/ 234/ III/ 2022/ Reskrim/ Polresta Denpasar/ Polda Bali. 

 

Kasi Hunas Polresta Denpasar IPTU Ietut Sukadi membenarkan adanya laporan tersebut. “Laporan sudah ditindak lanjuti. Infonya, penyidik telah mengirimkan surat panggilan sebagai saksi terhadap terlapor,” tutupnya.



Kasus penganiayaan seorang anak, dr IGA terhadap ibu kandungnya, Bisloitasari Manullang, ternyata berawal dari masalah biduk rumah tangga keluarga ini yang retak. Diduga, biduk rumah tangga ini retak karena sang suami selingkuh.

ANDRE SULLA, Denpasar

 

DI Mapolresta Denpasar, Bisloitasari Manullang menceritakan kehidupan rumah tangganya yang berujung pada penganiayaan oleh sang anak terhadapnya.

Ini berawal ketika ia menikah dengan drg I Ketut N pada tahun 1994. Dari perkawinan ini, pasangan ini dikarunia anak, IGA yang di kemudian hari menjadi dokter di sebuah rumah sakit swasta di Nusa Dua.

 

Hubungan rumah tangga Bisloitasari dengan drg I Ketut N akhirnya retak karena tak lain dan tak bukan, ada wanita idaman lain jadi orang ketiga.

Karena itu, hubungan rumah tangga mereka berdua berujung perceraian pada tahun 2003. Dalam perjalanannya, drg I Ketut N dan Bisloitasari rujuk. Mereka menikah kembali pada tahun 2015. Lagi-lagi setelah menikah, ternyata hubungan rumah tangganya goyah.

 

“Ya karena ada wanita lain dalam kehidupan suami. Saya membuat kesepakatan bercerai tahun 2016 ketika berada di Dompu. Tapi, namun sang suami tidak mau bercerai,” kata dia.

Singkat cerita, semenjak di Dompu pada tahun 2015, wanita ini ditelantarkan. Ia sempat jadi korban penganiayan oleh suami, juga data dirinya dipalsukan.

 

“Selain sang suami memiliki selingkuhan, malah KTP saya diblokir. Data diri saya sengaja dihapus oleh suami dari kartu keluarga,” bebernya.

Karena itu ia sempat melapor ke Polres Dompu dan juga ke Polsek Dompu terkait  KDRT, perzinahan, pemalsuan data dan lain-lain. Namun, laporannya di Dompu itu mentok. Sejak pertengahan 2016, ia memilih pihak ranjang dan terbang ke Bali. Wanita ini tinggal seorang diri di kos, kawan Abianbase, Kuta Utara.

 

Saat di Dompu, sang suami tugas RSU Dompu di bagian poli gigi. Lalu pindah ke Bali sejak 2018, tugasnya di poli gigi di sebuah Puskesmas di Karangasem hingga kini.

 

Di kemudian hari, yakni Minggu, 13 Maret 2022 sekitar pukul 18.10 Wita, Bisloitasari Manullang bertandang ke rumah tante dan paman di Jalan Tukad Balian (TKP). 

 

Wanita ini minta tolong kepada tante dan paman untuk membantu pengurusan surat-surat (data diri). Mengingat tantenya pernah berjanji akan membantu surat-surat identitasnya.

Paman dan tante menyarankan ketika pengurusan surat-surat telah selesai, mereka berharap Bisloitasari Manullang wajib tinggal di rumah sang anak Dokter IGA di kawasan Jalan Gunung Karang, Denpasar. Upaya perdamaian akan dikomunikasikan oleh sang tante dan pamannya.

 

“Saya tinggal di kos karena pisah ranjang sejak 2016 dengan suami. Saya sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan sang anak,” kata Bisloitasari Manullang, akrab disapa Ita, ketika ditemui di Mapolresta Denpasar, Selasa (29/3).

Nah, ketika sampai di rumah paman dan tantenya, datang anaknya, Dokter IGA dan ayahnya (suami dari Ita) Drg I Ketut N dan duduk di sebelah kanan sang tante dan paman sementara wanita ini duduk di sebelah kiri.

 

Keduanya sama sekali tidak menyapa Bisloitasari Manullang. Dan memilih duduk di sebelah tantenya.

 

“Karena tak disapa, saya hanya bisa menangis. Anak saya terlihat marah, dan mengepal tangan seolah-oleh ingin memukul saya,” sebutnya.

Sambil menangis, saya menyapa sang anak dengan sopan. Sayang, ibunya hanya sebatas dilirik. Lalu sang ibu mengatakan, tidak boleh boleh seperti itu kepada ibu kandung, biar tidak jadi anak durhaka.

 

“Anak saya langsung bilang, tidak percaya Tuhan, apalagi durhaka, sambil berdiri mengepal tangan seperti mau memukul bahkan ia mengambil bungkusan terdapat tisu seolah-oleh ingin melempar,” bebernya sambil menangis.

Reflek sang ibu berdiri dan bertanya, “Nak, siapa yang mengajarkan begitu. Malah dia bergegas memukul saya dengan tangan mengepal hingga pingsan,” katanya.

 

Atas kegaduhan itu, paman Ita bernama Binsar Manullang yang dalam kondisi sakit, keluar dari kamar melerai. Sementara suaminya Drg I Ketut N yang merupakan dokter gigi di sebuah Puskesmas di Karangasem malah diam duduk senyum di sebelah pojok kanan saat terjatuh. 

“Tante saya hanya diam dengan alasan baru vaksin booster. Anak saya ditarik ke kamar oleh sepupu saya,” sebutnya sambil mengusap air mata.

 

Bisloitasari Manullang yang sempat terjatuh dan pingsan ditopang ke tempat duduk oleh paman. “Setelah sadar, saya hanya nangis karena tak menyangka anak saya setega itu,” kisahnya.

“Akibatnya, mata sebelah kanan bengkak dan memar. Pun terdapat benjolan dan luka memar pada kepala bagian belakang,” terangnya.

Dia pun melapor ke Polresta Denpasar dengan nomor laporan polisi Lp/ B/ 234/ III/ 2022/ Reskrim/ Polresta Denpasar/ Polda Bali. 

 

Kasi Hunas Polresta Denpasar IPTU Ietut Sukadi membenarkan adanya laporan tersebut. “Laporan sudah ditindak lanjuti. Infonya, penyidik telah mengirimkan surat panggilan sebagai saksi terhadap terlapor,” tutupnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/