alexametrics
24.8 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Jenguk ke RSUP Sanglah, Menteri PPA Minta Ada Efek Jera Bagi Pelaku

DENPASAR-Kasus penganiayaan balita 2,5 tahun berinisial KMW oleh Hari Juniarta, 22, teman pria ibunya mendapat perhatian serius dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati .

Bahkan Menteri asal Bali itu, Sabtu siang (30/11) menjenguk dan menemui KMW di RSUP Sanglah Denpasar

Usai menjenguk KMW, Kepada awal media, Bintang Puspayoga sapaan Menteri PPA mengatakan jika kondisi balita lucu nan menggemaskan itu sudah mulai ceria setelah mendapatkan penanganan medis dari tim dokter di RSUP Sanglah Denpasar. “Sudah mulai bisa happy,”terangnya

Lebih lanjut, kata Bintang Puspayoga,  terkait kasus penganiayaan yang menimpa KMW hingga mengalami luka disekujur tubuh dan patah tulang paha kaki kanan, pihak Kementerian PPPA saat ini masih akan terus berkoordinasi dengan pihak RS.

“Kami (Kementerian PPPA) akan koordinasi dengan tim dokter disini, termasuk soal biaya. Intinya, bagaimana (kasus yang menimpa KMW) tidak sampai membebani keluarga korban,”tegasnya

Baca Juga:  Ini Kiat RSUP Sanglah agar Kasus Jenazah Tertukar Tak Terulang Lagi

Sedangkan terkait kasus kekerasan yang menimpa bocah yang selama ini diasuh oleh nenek dan kakeknya ini, Bintang berharap agar proses hukum yang sedang berlangsung agar berjalan dengan baik dan mampu memberikan efek jera.

“Kalau ini sudah diberikan efek jera kepada pelaku, harapannya dengan kasus-kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak bisa diminimalisir,”imbuhnya.

Selain itu, masih pada kesempatan itu, Bintang Puspayoga menyebut jika kasus kekerasan anak terjadi karena factor pernikahan dini.

“Ibu korban ini kan menikah pada usia 17 tahun atau masih di bawah umur. Sebelum melahirkan sudah pisah (dengan suaminya). Sekarang kejadian yang menimpa , usia ibunya masih 20 tahun,” jelasnya

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Sanglah Denpasar, I Wayan Sudana menyebut, pihak rumah sakit selama ini sudah terbiasa mengedepankan pasien daripada persoalan biaya.

“Contoh si pasien ini begitu datang ke UGD kami langsung menangani sesuai dengan prosedur medis.Semuanya sudah tertangani dengan baik,” tegasnya

Baca Juga:  Dipicu Bakar Sampah Sembarangan, Dua Vila di Jimbaran Ludes Terbakar

Untuk masalah biaya, Sudana menyampaikan sudah ada yayasan Rumah Anisa yang membantu sedikit soal biaya. Kalaupun tidak ada biaya lain, RSUP Sanglah Denpasae menyatakan siap untuk menanggung biaya. Terpenting menurut Sudana jangan sampai membebani keluarga pasien

Saat ini korban sendiri dirawat di ruangan khusus di gedung Wing RSUP Sanglah, alasan ditempatkan di ruangan khusus karena korban mengalami trauma berat

“Anak ini (korban) kan mengalami trauma. Karena keluhan dari psikis itu juga akan mempengaruhi kecepatan pemulihan fisiknya. Sehingga diharapkan semua aspek ini dijaga, supaya trauma cepat pulih sehingga fisik juga cepet pulih,” katanya.

“Jadi kita kasih ruangan khusus supaya tenang. Jadi dokter yang merawat juga bisa memberikan Support psikis, jadi ada dokter jiwa, ada dokter tulang, tentunya kerjasama dokter itu bagaimana menghilangkan trauma psikisnya,” tukas Sudana.

 



DENPASAR-Kasus penganiayaan balita 2,5 tahun berinisial KMW oleh Hari Juniarta, 22, teman pria ibunya mendapat perhatian serius dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati .

Bahkan Menteri asal Bali itu, Sabtu siang (30/11) menjenguk dan menemui KMW di RSUP Sanglah Denpasar

Usai menjenguk KMW, Kepada awal media, Bintang Puspayoga sapaan Menteri PPA mengatakan jika kondisi balita lucu nan menggemaskan itu sudah mulai ceria setelah mendapatkan penanganan medis dari tim dokter di RSUP Sanglah Denpasar. “Sudah mulai bisa happy,”terangnya

Lebih lanjut, kata Bintang Puspayoga,  terkait kasus penganiayaan yang menimpa KMW hingga mengalami luka disekujur tubuh dan patah tulang paha kaki kanan, pihak Kementerian PPPA saat ini masih akan terus berkoordinasi dengan pihak RS.

“Kami (Kementerian PPPA) akan koordinasi dengan tim dokter disini, termasuk soal biaya. Intinya, bagaimana (kasus yang menimpa KMW) tidak sampai membebani keluarga korban,”tegasnya

Baca Juga:  Ternyata Pengeroyok Mahasiswa Unmas Bukan Hanya Delapan, Tapi..

Sedangkan terkait kasus kekerasan yang menimpa bocah yang selama ini diasuh oleh nenek dan kakeknya ini, Bintang berharap agar proses hukum yang sedang berlangsung agar berjalan dengan baik dan mampu memberikan efek jera.

“Kalau ini sudah diberikan efek jera kepada pelaku, harapannya dengan kasus-kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak bisa diminimalisir,”imbuhnya.

Selain itu, masih pada kesempatan itu, Bintang Puspayoga menyebut jika kasus kekerasan anak terjadi karena factor pernikahan dini.

“Ibu korban ini kan menikah pada usia 17 tahun atau masih di bawah umur. Sebelum melahirkan sudah pisah (dengan suaminya). Sekarang kejadian yang menimpa , usia ibunya masih 20 tahun,” jelasnya

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Sanglah Denpasar, I Wayan Sudana menyebut, pihak rumah sakit selama ini sudah terbiasa mengedepankan pasien daripada persoalan biaya.

“Contoh si pasien ini begitu datang ke UGD kami langsung menangani sesuai dengan prosedur medis.Semuanya sudah tertangani dengan baik,” tegasnya

Baca Juga:  Dipicu Bakar Sampah Sembarangan, Dua Vila di Jimbaran Ludes Terbakar

Untuk masalah biaya, Sudana menyampaikan sudah ada yayasan Rumah Anisa yang membantu sedikit soal biaya. Kalaupun tidak ada biaya lain, RSUP Sanglah Denpasae menyatakan siap untuk menanggung biaya. Terpenting menurut Sudana jangan sampai membebani keluarga pasien

Saat ini korban sendiri dirawat di ruangan khusus di gedung Wing RSUP Sanglah, alasan ditempatkan di ruangan khusus karena korban mengalami trauma berat

“Anak ini (korban) kan mengalami trauma. Karena keluhan dari psikis itu juga akan mempengaruhi kecepatan pemulihan fisiknya. Sehingga diharapkan semua aspek ini dijaga, supaya trauma cepat pulih sehingga fisik juga cepet pulih,” katanya.

“Jadi kita kasih ruangan khusus supaya tenang. Jadi dokter yang merawat juga bisa memberikan Support psikis, jadi ada dokter jiwa, ada dokter tulang, tentunya kerjasama dokter itu bagaimana menghilangkan trauma psikisnya,” tukas Sudana.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/