alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Usai Ribut, Pedagang Pantai Penimbangan Akhirnya Diizinkan Berjualan

SINGARAJA– Para pedagang di Pantai Penimbangan akhirnya diizinkan berjualan. Izin itu diberikan setelah para pedagang terlibat adu mulut dengan personel kepolisian dan Polisi Pamong Praja pada Kamis (29/7) lalu.

Atas insiden itu, Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Jumat (30/7) melakukan pertemuan terkait hal tersebut.

Pertemuan membahas secara khusus perlakuan terhadap para pedagang yang berjualan di sekitar kawasan pariwisata.

Dari hasil pertemuan itu, Satgas menyatakan para pedagang diizinkan berjualan.

Sepanjang mereka mematuhi penerapan protokol kesehatan, sebagaimana tercantum dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2021 dan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 12 Tahun 2021.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengatakan, dalam SE tersebut disebutkan bahwa fasilitas umum, Destinasi Tempat Wisata (DTW), dan tempat hiburan belum dibuka. Namun para pedagang tetap diizinkan buka.

Baca Juga:  Bantuan Sosial Tunai Akhirnya Cair Setelah Dua Bulan PPKM

“Aktivitas pedagangnya tetap boleh buka. Tapi untuk berwisata, belum boleh buka. Pedagang harus tetap memperhatikan ketentuan protokol kesehatan. Terutama kalau makan di tempat. Tidak boleh lebih dari 20 menit,” kata Suyasa.

- Advertisement -

Hal itu juga berlaku di Taman Kota Singaraja.

Satgas memutuskan tetap menutup Taman Kota Singaraja. Namun para pedagang yang berjualan di Pasar Kuliner, tetap diizinkan berjualan. Dengan ketentuan jumlah pengunjung hanya 25 persen dari kapasitas normal.

“Ini juga sudah ada komitmen dari desa dinas dan desa adat. Kami minta satgas di desa juga membantu mengingatkan para pedagang, agar tetap berpatokan pada protokol kesehatan sebagai langkah pencegahan,” imbuh Suyasa.

Seperti diberitakan sebelumnya, para pedagang di Pantai Penimbangan terlibat adu mulut dengan tim yustisi pada Kamis (29/7) lalu.

Baca Juga:  Waspada, 21 Desa di Buleleng Bali Masuk Zona Merah Rabies

 Saat itu tim yustisi mendatangi pedagang kaki lima yang ada di sepanjang pantai. Tim meminta agar pedagang menutup usaha mereka.

Alasannya Pantai Penimbangan merupakan daerah tujuan wisata, sehingga seluruh aktivitas di kawasan itu ditutup.

Pedagang pun sempat terlibat adu mulut dengan tim yustisi. Mereka mengaku sudah bersedia mengikuti aturan pemerintah pada masa PPKM darurat awal Juli lalu. Saat ini pedagang sudah kehabisan tabungan mereka. Sehingga memilih tetap berjualan.

Bendesa Adat Galiran, Jro Putu Anteng mengatakan, para pedagang emosi karena berurusan dengan masalah perut. 

“Masyarakat kami sepakat dengan penerapan protokol kesehatan. Tapi posisinya memang dilematis. Karena ini urusan perut. Jadi di bawah pasti akan selalu timbul gesekan antara masyarakat dengan aparat. Kami harap ada solusi, biar sama-sama bisa jalan,” kata Anteng

- Advertisement -

SINGARAJA– Para pedagang di Pantai Penimbangan akhirnya diizinkan berjualan. Izin itu diberikan setelah para pedagang terlibat adu mulut dengan personel kepolisian dan Polisi Pamong Praja pada Kamis (29/7) lalu.

Atas insiden itu, Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Jumat (30/7) melakukan pertemuan terkait hal tersebut.

Pertemuan membahas secara khusus perlakuan terhadap para pedagang yang berjualan di sekitar kawasan pariwisata.

Dari hasil pertemuan itu, Satgas menyatakan para pedagang diizinkan berjualan.

Sepanjang mereka mematuhi penerapan protokol kesehatan, sebagaimana tercantum dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2021 dan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 12 Tahun 2021.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengatakan, dalam SE tersebut disebutkan bahwa fasilitas umum, Destinasi Tempat Wisata (DTW), dan tempat hiburan belum dibuka. Namun para pedagang tetap diizinkan buka.

Baca Juga:  Kejar Target Rekrutmen Calon ASN, Bupati Minta Refocusing Dipercepat

“Aktivitas pedagangnya tetap boleh buka. Tapi untuk berwisata, belum boleh buka. Pedagang harus tetap memperhatikan ketentuan protokol kesehatan. Terutama kalau makan di tempat. Tidak boleh lebih dari 20 menit,” kata Suyasa.

Hal itu juga berlaku di Taman Kota Singaraja.

Satgas memutuskan tetap menutup Taman Kota Singaraja. Namun para pedagang yang berjualan di Pasar Kuliner, tetap diizinkan berjualan. Dengan ketentuan jumlah pengunjung hanya 25 persen dari kapasitas normal.

“Ini juga sudah ada komitmen dari desa dinas dan desa adat. Kami minta satgas di desa juga membantu mengingatkan para pedagang, agar tetap berpatokan pada protokol kesehatan sebagai langkah pencegahan,” imbuh Suyasa.

Seperti diberitakan sebelumnya, para pedagang di Pantai Penimbangan terlibat adu mulut dengan tim yustisi pada Kamis (29/7) lalu.

Baca Juga:  Masih Muncul Klaster Keluarga, Satgas Minta Desa Serius Awasi Warga

 Saat itu tim yustisi mendatangi pedagang kaki lima yang ada di sepanjang pantai. Tim meminta agar pedagang menutup usaha mereka.

Alasannya Pantai Penimbangan merupakan daerah tujuan wisata, sehingga seluruh aktivitas di kawasan itu ditutup.

Pedagang pun sempat terlibat adu mulut dengan tim yustisi. Mereka mengaku sudah bersedia mengikuti aturan pemerintah pada masa PPKM darurat awal Juli lalu. Saat ini pedagang sudah kehabisan tabungan mereka. Sehingga memilih tetap berjualan.

Bendesa Adat Galiran, Jro Putu Anteng mengatakan, para pedagang emosi karena berurusan dengan masalah perut. 

“Masyarakat kami sepakat dengan penerapan protokol kesehatan. Tapi posisinya memang dilematis. Karena ini urusan perut. Jadi di bawah pasti akan selalu timbul gesekan antara masyarakat dengan aparat. Kami harap ada solusi, biar sama-sama bisa jalan,” kata Anteng


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/