Pangeran Hisahito Resmi Jadi Pewaris Tahta Kekaisaran Jepang
Dhian Harnia Patrawati• Minggu, 7 September 2025 | 19:37 WIB
MASA DEPAN JEPANG - Pangeran Hisahito mengamati capung di kebun Istana Kekaisaran Jepang.
RADAR BALI – Kekaisaran Jepang resmi menandai kedewasaan Pangeran Hisahito melalui sebuah upacara megah di Istana Kekaisaran Tokyo pada Sabtu (6/9/2025). Putra tunggal Putra Mahkota Akishino ini kini menjadi pewaris kedua takhta Krisantemum setelah ayahnya.
Dalam prosesi adat, Hisahito menerima mahkota sutra hitam dan pernis sebagai simbol transisi menuju kedewasaan.
“Terima kasih telah menganugerahkan mahkota pada hari ini. Saya akan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab sebagai anggota dewasa keluarga kekaisaran,” ucapnya seperti dikutip Yomiuri.
Pangeran Hisahito lantas berganti baju hitam dan menggunakan kereta kuda untuk berdoa dia tiga kuil yang berada di komplek istana.
Pada sore harinya, Hisahito bertemu dengan Kaisar Naruhito dan permaisuri Masako di ruang Matsu-no-Ma yang prestisius dan menerima medali The Grand Cordon of the Supreme Order of the Chrysanthemum, menandakan anggota dewasa keluarga kekaisaran.
Dia juga bertemu kakek dan neneknya, mantan Kaisar Akihito and Permaisuri Michiko, di istananya.
Hisahito juga berkunjung ke Kuil Shinto Ise dan mausoleum Kaisar Jinmu di Nara dan makam Kaisar Hirohito di pusat Kota Tokyo.
Generasi Baru dalam Monarki Tertua
Hisahito, yang lahir pada 6 September 2006, adalah anggota laki-laki pertama keluarga kekaisaran yang mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.
Mahasiswa baru jurusan bilogi di Universitas Tsukuba itu memiliki minat besar pada ekologi serangga, khususnya capung. Minat ini bahkan telah ia tuangkan dalam publikasi akademis bersama peneliti lain baru-baru ini.
Sebagai keponakan Kaisar Naruhito, posisinya sangat penting dalam keberlangsungan monarki. Naruhito sendiri hanya memiliki seorang putri, Putri Aiko.
Putri berusia 23 tahun yang kerap disebut sebagai putri paling kesepian di dunia karena tidak memiliki teman sebaya di istana dan tidak diperbolehkan menikah dengan "orang biasa" tidak diizinkan mewarisi takhta karena hukum hanya memperbolehkan laki-laki dari garis ayah.
Dia hanya punya dua pilihan, membuat skandal nasional dengan menikahi "orang biasa" dan meninggalkan kehidupan istana atau menjadi biarawati Shinto.
Jalan pertama telah ditempuh Putri Mako yang menikahi Kei Kamuro, seorang pengacara, dan hidup sebagai orang biasa di New York.
Krisis Penerus dalam Dinasti 1.500 Tahun
Kekaisaran Jepang, yang disebut-sebut sebagai monarki tertua di dunia dengan sejarah lebih dari 1.500 tahun, kini menghadapi krisis penerus.
Dari 16 anggota keluarga kekaisaran yang masih aktif, hanya Akishino dan Hisahito yang tergolong sebagai pewaris laki-laki muda. Pangeran Hitachi, pewaris ketiga, sudah berusia 89 tahun.
Aturan pewarisan laki-laki murni baru ditegakkan sejak 1889, menggantikan tradisi lama yang sesekali memperbolehkan perempuan naik takhta. Sejarah mencatat delapan kaisar perempuan, terakhir Kaisar Gosakuramachi (1762–1770).
Namun, sistem saat ini dianggap rapuh. Dahulu, kelangsungan garis laki-laki dijamin lewat keberadaan selir yang melahirkan banyak keturunan. Tradisi itu telah lama ditinggalkan, sehingga jumlah pewaris semakin terbatas.
Perdebatan Reformasi Suksesi
Publik Jepang sebenarnya cenderung mendukung perubahan aturan agar perempuan dapat menjadi kaisar. Survei menunjukkan popularitas tinggi Putri Aiko sebagai sosok calon pemimpin.
Bahkan pada 2005, pemerintah sempat mengajukan rancangan perubahan hukum agar pewarisan takhta berlaku bagi anak sulung, tanpa memandang gender.
Namun, lahirnya Hisahito setahun kemudian menghentikan diskusi tersebut. Kelompok konservatif kembali menguatkan argumen bahwa garis laki-laki tidak boleh diputus.
Debat kembali mengemuka pada 2022 ketika sebuah panel ahli merekomendasikan agar pewarisan tetap mengikuti garis laki-laki, sambil mempertimbangkan adopsi keturunan pria dari keluarga bangsawan yang sudah punah.
Alternatif lain adalah memberi status kekaisaran kepada suami dan anak-anak putri, sehingga mereka tetap bisa melanjutkan peran resmi setelah menikah.
Meski begitu, hingga kini belum ada konsensus. Mantan Kepala Badan Rumah Tangga Kekaisaran, Shingo Haketa, bahkan memperingatkan bahwa beban keberlangsungan monarki kini seakan hanya ditanggung Hisahito seorang diri.
Beban dan Harapan pada Hisahito
Di balik gemerlap upacara kedewasaan, publik menyadari bahwa masa depan monarki sangat bergantung pada seorang remaja berusia 19 tahun ini. Kehidupan pribadinya pun akan dipantau ketat, terutama soal pernikahan.
Sejarah menunjukkan bahwa perempuan yang masuk keluarga kekaisaran sering menghadapi tekanan besar, mulai dari tuntutan memiliki anak laki-laki hingga sorotan media berlebihan.
Hisahito sendiri mengaku belum banyak memikirkan soal pernikahan. Namun, masa depannya akan sangat menentukan arah sejarah Kekaisaran Jepang.
Sebagaimana ditulis harian konservatif Yomiuri, diperlukan keputusan politik segera untuk menyelamatkan lembaga yang menjadi simbol persatuan bangsa.
Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang berhak naik takhta, melainkan bagaimana menjaga agar monarki berusia ribuan tahun itu tidak kehilangan penerus. ***