Radar Bali.id- Israel belakangan ini mendapat tekanan diplomasi yang berat dan bertubi-tubi. Ini karena serangannya terhadap Gaza yang tetap membabi buta, meskipun banyak tekanan internasional.
Berdasarkan analisis dari berbagai sumber berita dan pernyataan yang telah dikeluarkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, berikut adalah analisis mengenai kemungkinan langkah yang akan diambilnya jika dukungan negara-negara di dunia, khususnya dari Eropa, semakin menguat untuk Palestina.
Reaksi Keras dan Penolakan Terbuka
Berdasarkan sejarah dan pernyataan terkini, Netanyahu kemungkinan besar akan menanggapi penguatan dukungan untuk Palestina dengan reaksi keras dan penolakan terbuka.
Ini terlihat dari kritik tajamnya terhadap rencana negara-negara seperti Prancis, Inggris, Kanada, dan Australia yang mengakui negara Palestina.
Ia bahkan menyebut langkah tersebut sebagai "hadiah terbesar untuk teror" dan menolak ide pembentukan negara Palestina di Tepi Barat.
Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa selama ia menjabat sebagai perdana menteri, "tidak akan ada negara Palestina." Sikap ini konsisten dengan ideologi politiknya dan kebutuhan untuk mempertahankan koalisi sayap kanan ekstrem yang mendukungnya.
Strategi Diplomasi dan Mobilisasi Dukungan Internal
Meskipun menghadapi tekanan diplomatik, Netanyahu tidak akan "ngawur" dalam artian tanpa strategi. Ia akan mengandalkan strategi yang telah lama ia gunakan untuk menghadapi tekanan internasional:
- Mencari Dukungan dari Sekutu Utama: Prioritas utama Netanyahu adalah mempertahankan dukungan dari sekutu terkuatnya, terutama Amerika Serikat. Dukungan AS, termasuk hak veto di Dewan Keamanan PBB, telah menjadi perisai utama Israel dari sanksi dan resolusi internasional. Jika dukungan Eropa menguat, Netanyahu akan meningkatkan upaya lobi di Washington untuk memastikan dukungan AS tidak goyah.
- Menggunakan Retorika Keamanan: Netanyahu akan terus menekankan narasi keamanan Israel. Ia akan berargumen bahwa pendirian negara Palestina akan membahayakan keamanan Israel dan memberikan ruang bagi kelompok-kelompok teroris seperti Hamas untuk berkembang. Ia akan menggunakan serangan 7 Oktober sebagai pembenaran untuk menolak solusi dua negara, menyebut Gaza sebagai contoh "negara Palestina" yang "gagal".
- Memobilisasi Dukungan Domestik: Di tengah tekanan dari luar, Netanyahu akan berusaha memobilisasi dukungan dari rakyat Israel. Dengan menolak tekanan asing, ia dapat memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang kuat yang membela kedaulatan dan keamanan Israel. Hal ini dapat membantu memperkuat posisinya di dalam negeri, terutama di antara basis pemilih sayap kanannya.
Tetap Membabi Buta Menyerang Gaza?
Israel biasanya selalu berkilah, menampik, serta mengklaim bahwa setiap serangannya memiliki target dan tujuan yang jelas, terlepas dari kritik internasional atas jumlah korban sipil yang tinggi.
- Tujuan Militer: Netanyahu telah berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer di Gaza adalah untuk menghancurkan Hamas, memulangkan sandera, dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel. Penguatan dukungan untuk Palestina dari Eropa kemungkinan besar tidak akan mengubah tujuan militer ini. Sebaliknya, Netanyahu mungkin melihatnya sebagai insentif untuk mempercepat operasi militer sebelum tekanan diplomatik menjadi sanksi nyata.
- Percepatan Operasi: Ada kemungkinan Netanyahu akan mempercepat operasi militer, seperti yang terlihat dalam rencana invasi penuh ke Rafah di tengah "tekanan internasional" sebelumnya. Hal ini dapat menjadi respons untuk menunjukkan bahwa Israel tidak akan terintimidasi oleh kritik asing dan akan melanjutkan misinya hingga "tuntas."
- Respon Terhadap Sanksi: Jika tekanan meningkat hingga sanksi ekonomi atau embargo senjata, hal ini bisa berdampak signifikan. Meskipun demikian, Netanyahu kemungkinan akan mengabaikan sanksi simbolis atau retorika kecaman. Namun, jika sekutu utama seperti AS, Inggris, atau negara G7 lainnya mulai mempertimbangkan sanksi serius, hal itu bisa memaksa Israel untuk menyesuaikan taktiknya, meskipun tidak akan menghentikan operasi secara total.[disarikan dari berbagai sumber]