NEGARA-Patroli pengawasan kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sejak setahun terakhir sudah menemukan belasan jerat satwa di sejumlah lokasi dalam kawasan hutan.
Satu di antaranya, jerat satwa yang mengenai Rusa Timor. Karena perburuan satwa masih rawan, patroli dilakukan siang dan malam melibatkan polisi hutan, anjing pelacak dan mayarakat sekitar.
Kasatgas Polhut TNBB I Wayan Grudug Suanegara mengatakan, patroli kawasan hutan TNBB tidak hanya dilakukan karena ada pengungkapan perburuan satwa dan temuan jerat pada rusa yang akhirnya mati. "Selama tahun 2023 ini, kami sudah lakukan upaya patroli dan mengungkap pemasangan jerat satwa," terangnya, Jumat (27/10).
Temuan jerat atau perangkap satwa di antaranya di hutan mangrove botak, Teluk Banyuwedang.
Di bulan April lalu berupa temuan jaring kabut, indikasi perburuan satwa jenis burung. Sebulan kemudian temuan bangkai 1 ekor rusa yang hanya tinggal tulang kepala, kulit, tulang kaki dan tulang iga di hutan Bukit Utama, Teluk Kelor, Teluk Brumbun.
Rusa mati diduga akibat perburuan dengan menggunakan jerat seling. Jerat seling ditemukan masih di bagian kaki rusa.
Pihaknya juga pernah menemukan jerat seling di tiga titik lokasi di hutan Kelompang, Teluk Brumbun, diduga jerat seling untuk perburuan rusa.
Temuan di hutan Sumberejo, resort Gilimanuk, dengan jerat seling untuk rusa di 12 titik temuan pada bulan September lalu.
Kasus terbaru temuan rusa yang terikat seling dan belasan satwa hasil perburuan ditemukan dalam mobil. "Patroli sudah sering dilakuan. Sejak ada temuan rusa terjerat dan perburuan belasan satwa, kami intensifkan lagi penjagaan kawasan hutan untuk mencegah perburuan," tegasnya.
Perburuan satwa di kawasan hutan TNBB, menjadi perhatian serius karena akibat perburuan bisa mengancam keberlangsungan hidup satwa di TNBB. "Semua satwa di TNBB dilindungi, tidak hanya satwa yang terancam punah. Karena itu, selain upaya pencegahan juga kami upayakan penindakan," tegasnya. ***
Editor : Donny Tabelak