Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kebutuhan Air Bersih di Jembrana Semakin Bertambah, Sumber Air Baku Malah Terus Menurun

Muhammad Basir • Jumat, 24 Mei 2024 | 18:45 WIB
BENDUNGAN PALASARI: Kondisi bendungan Palasari, sebagai salah satu sumber air baku mengalami penyusutan debut air pada saat kemarau bulan Desember 2023 lalu.(m.basir/radar bali)
BENDUNGAN PALASARI: Kondisi bendungan Palasari, sebagai salah satu sumber air baku mengalami penyusutan debut air pada saat kemarau bulan Desember 2023 lalu.(m.basir/radar bali)

NEGARA, Radar Bali.id - Kebutuhan air bersih di Jembrana mencapai 323,67 liter perdetik atau bila dikonversi meter kubik sekitar 32 juta meter kubik setiap tahun.

Kebutuhan air bersih akan meningkat setiap tahun, sedangkan suplai air baku cenderung menurun.

Sehingga daerah -daerah tertentu masih sering krisis air bersih. Terutama pada saat musim kemarau, krisis air bersih sering terjadi di sejumlah daerah di Jembrana.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, krisis air bersih wilayah Jembrana terjadi pada saat musim kemarau.

Pada tahun 2023 lalu, sekitar 500 ribu liter air didistribusikan ke daerah - daerah yang mengalami krisis air bersih. "Distribusi air bersih melalui mobil tangki air langsung dan ke tempat penampungan air yang mudah diakses masyarakat," ujar Kepala Pelaksana BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra.

Krisis air bersih yang terjadi, di beberapa daerah memiliki sebab tertentu, tergantung kondisi daerahnya. Secara umum, karena mengecilnya debit air sumber mata air, terutama daerah yang mendapat pasokan air dari kelompok pengelola air seperti pamsimas.

Termasuk sumur warga juga bisa mengering jika kemarau, terutama daerah dataran tinggi.

Bahkan bendungan sebagai sumber air irigasi dan air baku, mengalami penurunan debit air ketika kemarau.

Seperti yang terjadi di Bendungan Palasari pada akhir tahun 2023 lalu, debit air menyusut drastis.

 "Saat kemarau panjang, air bendungan saja menyusut drastis hingga hampir mengering," imbuhnya.

Pihaknya ke depan akan menempatkan tangki air secara permanen di daerah yang rawan krisis air bersih. Sehingga tidak perlu mensuplai langsung ke warga yang membutuhkan. Pihaknya akan letakkan tangki air berkapasitas 6000 liter bantuan BNPB di daerah yang rawan krisis air agar lebih efektif dan efisien.

"Daripada distribusi mobile, akan lebih efektif dan efisien meletakkan tangki air permanen di daerah rawan krisis air. Kami tinggal suplai setiap air di tandon habis," ungkapnya.

Air bersih yang didistribusikan kepada masyarakat yang mengalami krisis air bersih, berasal dari produksi air bersih Perumda Air Minum Tirta Amerta Jati Jembrana.

 "Air bersih bantuan yang didistribusikan dari Perumda," tandasnya.

Terpisah, Direktur Perumda Air Minum Tirta Amerta Jati Jembrana I Gede Puriawan mengatakan, secara umum masalah krisis air bersih di Jembrana permasalahannya bukan pada distribusi air tetapi ada pada sumber air baku, baik air baku yang bersumber dari air permukaan maupun dari mata air.

 

"Di samping itu jga penurunan debit air bawah tanah yang penyebab utamanya adalah kondisi hutan terutama di wilayah DAS rusak," ujarnya.

Dari sisi perusahaan milik pemerintah yang mengelola air bersih, cakupan layanan masih tergolong sangat rendah. Jaringan pipa untuk distribusi air terbatas, sehingga tidak bisa menjangkau penduduk, terutama yang letak geografis daerahnya tinggi dan jauh.

Cakupan pelayanan administrasi dari jumlah penduduk Jembrana sekitar 300 ribu jiwa, hanya sekitar 34,28 persen. Cakupan pelayanan teknis dari wilayah yang sudah ada jaringan pipa air dari Perumda Jembrana 67,31 persen. "Sisanya kebutuhan air bersih dilayani oleh pokmas dan pamsimas," ujarnya.

Dengan jumlah kebutuhan air per kepala keluarga sebanyak 16 meter kubik per bulan atau atau 161 liter per orang per hari, Perumda Air Minum memproduksi air bersih sebanyak 6.179.922 meter kubik pertahun.

 Sedangkan yang disuplai atau terjual 4.341.017 meter kubik pertahun. "Tidak semua produksi air bersih dijual, tetapi sebagian lagi untuk sosial," imbuhnya.

Dengan Kebutuhan air bersih di Jembrana mencapai 323,67 liter perdetik atau bila dikonversi meter kubik sekitar 32 juta meter kubik setiap tahun.

Agar krisis air bersih ini bisa diminimalisir, harus menjaga daerah -daerah sumber air baku seperti penanaman pohon terutama daerah hulu sungai.

Selain itu, pihaknya selalu pengelola perusahan air bersih akan menambah jaringan transmisi dan distribusi ke daerah- daerah yang jauh atau belum terjangkau atau rawan krisis air bersih, baik yg dilakukan oleh pokmas air dan pamsimas.

"Kebanyakan terjadinya permasalahan krisis air bersih dari hulu atau sumber air baku bukan dari distribusi. Sehingga perlu menjaga sumber air baku," tegasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#sumber air #jembrana #bendungan #kemarau