Di sela keriuhan antrean kendaraan di Pelabuhan Padangbai, Sabtu (14/3/2026), tampak seorang pria tengah asyik bercanda dengan putri kecilnya. Pria itu adalah Muhammad Romli,33, satu dari ribuan pemudik yang menyimpan kisah haru di balik perjalanan pulangnya tahun ini.
HARI yang indah dan Istimewa. Maklum, bagi Romli, mudik kali ini bukan sekadar pulang kampung biasa.
Sejak merantau ke Bali pada tahun 2020 sebagai pedagang pasar tradisional di wilayah Denpasar-Badung, baru kali inilah ia menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya, Lombok Timur.
“Dari pertama merantau lima tahun lalu, baru kali ini saya pulang,” ujarnya dengan mata berbinar.
Perjalanan merantau Romli penuh dengan perubahan besar. Datang ke Bali sebagai bujang yang mencari peruntungan, kini ia pulang sebagai seorang suami dan ayah. Romli menikahi perempuan asal Banyuwangi pada 2023 silam di Bali.
“Kepulangan ini sangat berkesan. Dulu berangkat sendiri (lajang), sekarang pulang membawa keluarga kecil. Istri saya pun baru pertama kali ini menginjakkan kaki di Lombok,” aku pria yang sudah yatim piatu ini.
Persiapan untuk momen spesial ini tidak main-main. Romli mengaku telah menabung sejak tahun lalu. Bahkan selama bulan Ramadan ini, ia tak pernah absen berjualan demi mengumpulkan uang saku untuk keluarga di kampung.
Meski harus menempuh perjalanan melelahkan—sekitar lima jam penyeberangan ditambah tiga jam perjalanan darat menuju Lombok Timur menggunakan sepeda motor—lelahnya seolah sirna oleh rasa rindu.
“Rencana tiga minggu di sana. Sudah tidak sabar ingin sampai rumah. Kangen sekali suasana Lebaran di kampung,” pungkasnya menutup percakapan sebelum perlahan memasuki lambung kapal. [Zulfika Rahman/Radar Bali]
Editor : Hari Puspita