27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Lindungi Anak-anak dari Kontaminasi Obat, WHO Serukan Tindakan Bersama dan Segera

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan tindakan “bersama dan segera” untuk melindungi anak-anak dari kontaminasi obat, menyusul kasus kematian anak akibat obat batuk sirup tahun lalu.

Seperti diketahui, pada 2022 lalu, lebih dari 300 anak, sebagian besar balita di Gambia, Indonesia dan Uzbekistan meninggal akibat gangguan ginjal akut, yang dikaitkan dengan kontaminasi obat, kata WHO dalam pernyataannya dikutip dari JawaPos.com (grup radarbali.id).

Obat batuk sirup yang dijual bebas itu memiliki kandungan dietilen glikol dan etilen glikol yang tinggi. “Kedua kontaminan itu adalah kimia beracun yang digunakan sebagai pelarut industri dan bahan antibeku, yang bisa menjadi fatal meski diminum dalam jumlah kecil, dan seharusnya tidak boleh ada dalam obat-obatan,” kata WHO.

Organisasi di bawah PBB itu mengatakan tujuh negara telah melaporkan temuan obat batuk sirup tercemar dalam empat bulan terakhir.

Baca Juga:  Kasus Gangguan Ginjal Akut pada Anak-anak, Polisi Obok-Obok Apotek

WHO menyerukan adanya tindakan di 194 negara anggotanya untuk mencegah lebih banyak kematian. “Karena ini bukan insiden yang terisolasi, WHO menyerukan berbagai pemangku kepentingan utama dalam rantai pasokan obat untuk mengambil tindakan segera dan terkoordinasi,” katanya.

WHO telah mengeluarkan peringatan pada Oktober dan awal bulan ini, yang meminta agar obat-obatan tertentu ditarik dari peredaran.

Obat-obatan tersebut diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals dan Marion Biotech di India, yang masing-masing dikaitkan dengan kematian di Gambia dan Uzbekistan.

WHO juga mengeluarkan peringatan tahun lalu bagi obat-obat batuk sirup buatan empat produsen Indonesia, yaitu PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical, PT Konimex dan PT AFI Pharma, yang dijual di dalam negeri.

Baca Juga:  Gangguan Ginjal Akut pada Ratusan Anak, Dokter Dilarang Beri Resep Obat Sirup!

Keempat perusahaan itu telah membantah produk mereka terkontaminasi atau menolak berkomentar saat penyelidikan berlangsung.

WHO menegaskan kembali seruannya agar produk-produk tersebut ditarik dari peredaran dan meminta negara-negara memastikan bahwa obat yang dijual disetujui oleh otoritas yang berkompeten.

Organisasi kesehatan itu juga meminta para pemerintah dan regulator mengerahkan sumber daya mereka untuk mengawasi produsen, meningkatkan pemantauan pasar dan mengambil tindakan jika diperlukan.

WHO meminta produsen obat untuk hanya membeli bahan baku dari pemasok yang memenuhi syarat, menguji produk mereka lebih menyeluruh, dan menyimpan catatan proses produksi.

Pemasok dan distributor harus memeriksa tanda-tanda pemalsuan dan hanya mendistribusikan atau menjual obat yang telah mendapat izin untuk digunakan, kata WHO. (jpg)

 



ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan tindakan “bersama dan segera” untuk melindungi anak-anak dari kontaminasi obat, menyusul kasus kematian anak akibat obat batuk sirup tahun lalu.

Seperti diketahui, pada 2022 lalu, lebih dari 300 anak, sebagian besar balita di Gambia, Indonesia dan Uzbekistan meninggal akibat gangguan ginjal akut, yang dikaitkan dengan kontaminasi obat, kata WHO dalam pernyataannya dikutip dari JawaPos.com (grup radarbali.id).

Obat batuk sirup yang dijual bebas itu memiliki kandungan dietilen glikol dan etilen glikol yang tinggi. “Kedua kontaminan itu adalah kimia beracun yang digunakan sebagai pelarut industri dan bahan antibeku, yang bisa menjadi fatal meski diminum dalam jumlah kecil, dan seharusnya tidak boleh ada dalam obat-obatan,” kata WHO.

Organisasi di bawah PBB itu mengatakan tujuh negara telah melaporkan temuan obat batuk sirup tercemar dalam empat bulan terakhir.

Baca Juga:  Mobile JKN Mudahkan Desak Akses Antrean Online Rumah Sakit

WHO menyerukan adanya tindakan di 194 negara anggotanya untuk mencegah lebih banyak kematian. “Karena ini bukan insiden yang terisolasi, WHO menyerukan berbagai pemangku kepentingan utama dalam rantai pasokan obat untuk mengambil tindakan segera dan terkoordinasi,” katanya.

WHO telah mengeluarkan peringatan pada Oktober dan awal bulan ini, yang meminta agar obat-obatan tertentu ditarik dari peredaran.

Obat-obatan tersebut diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals dan Marion Biotech di India, yang masing-masing dikaitkan dengan kematian di Gambia dan Uzbekistan.

WHO juga mengeluarkan peringatan tahun lalu bagi obat-obat batuk sirup buatan empat produsen Indonesia, yaitu PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical, PT Konimex dan PT AFI Pharma, yang dijual di dalam negeri.

Baca Juga:  Cegah Jatuh Korban, Satrekrim Polres Klungkung Awasi Penjualan Obat Sirup

Keempat perusahaan itu telah membantah produk mereka terkontaminasi atau menolak berkomentar saat penyelidikan berlangsung.

WHO menegaskan kembali seruannya agar produk-produk tersebut ditarik dari peredaran dan meminta negara-negara memastikan bahwa obat yang dijual disetujui oleh otoritas yang berkompeten.

Organisasi kesehatan itu juga meminta para pemerintah dan regulator mengerahkan sumber daya mereka untuk mengawasi produsen, meningkatkan pemantauan pasar dan mengambil tindakan jika diperlukan.

WHO meminta produsen obat untuk hanya membeli bahan baku dari pemasok yang memenuhi syarat, menguji produk mereka lebih menyeluruh, dan menyimpan catatan proses produksi.

Pemasok dan distributor harus memeriksa tanda-tanda pemalsuan dan hanya mendistribusikan atau menjual obat yang telah mendapat izin untuk digunakan, kata WHO. (jpg)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru