BILA mendengarkan kata remaja, apa yang terlintas di pikiran kita? Anak Baru Gede (ABG) atau mungkin banyak istilah-istilah lain tentang remaja. Jadi kapankah anak bisa dibilang remaja? World Health Organization (WHO) dan Undang-Undang Perlindungan Anak memiliki definisi yang berbeda tentang batasan umur pada remaja.
Advertisement
Menurut WHO, usia 10-19 tahun dikategorikan sebagai remaja sedangkan menurut Undang-Undang Perlindugan Anak Indonesia mengkategorikan remaja dari usai 10-18 tahun.
Remaja sendiri memegang peranan penting dalam Pembangunan Negara Indonesia untuk ke depannya. Karena ketika mereka sudah dewasa nanti, merekalah yang akan bergerak dan duduk di kursi kursi kepemimpinan di negara kita. Maka dari itu tanggal 12 Agustus 2024, IDAI dengan narasumber dr Angga Wirahmadi, Sp.A(K) mengadakan IG Live dengan tema “Peran Remaja dalam Transformasi Digital”. Dari IG live yang dilaksana kurang lebih selama satu jam, kita pasti menyadari.
Jika teknologi sekarang sudah berkembang sangat pesat dibandingkan dengan saat para orang tua masih remaja dulu. Hanya bermodalkan benda tipis berbentuk persegi panjang, semua informasi bisa dapatkan di dalam genggaman tangan kita, dan tentu saja ini berdampak terhadap remaja-remaja di Indonesia.
Advertisement
Dengan era digitalisasi ini, semua informasi, berita, dan konten bisa mereka dapatkan dengan cepat dan mudah, dari sekedar mencari informasi untuk membuat PR, dan tugas di sekolah hingga untuk media hiburan. Sehingga tidak jarang jika remaja di era sekarang ini lebih cenderung ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan.
Digitalisasi sendiri sebenarnya bisa menjadi pisau bermata dua bagi remaja. Dengan digitalisasi remaja zaman sekarang bisa mendapatkan informasi dan berkembang dengan sangat pesat. Contohnya anak usia 17 tahun mungkin saja bisa sukses dengan toko online nya karena berbekal era digitalisai, atau mungkin seorang anak yang memiliki kemampuan melukis bisa sukses menjadi content creator dengan followers yang banyak, tentu saja hal ini kembali karena era digitalisasi.
Kembali lagi, bagaimana digitalisasi bisa menjadi teman dan musuh bagi remaja adalah bagaimana cara orang tua bisa mengawasi dan bersikap terhadap era baru ini, sehingga tidak ada dampak negatif yang muncul. Apa saja kah dampak negatif dari gadget itu sendiri?
Advertisement
Pertama jika anak terlalu sering bermain gadget terpapar terlalu banyak screen time, gangguan fisik bisa terjadi yang menyebabkan mata lelah , sakit kepala, dan rasa tidak nyaman di leher yang kita kenal dengan (Computer Vision Syndrome). Sehingga bisa menyebabkan produktivitas menurun, dan anak bisa melupakan kebutuhkan pokok yang diperlukan seperti makan, mandi , dan tidur yang akan menyebab adiksi gadget.
Kedua, dari sisi mental, penggunaan gadget yang berlebihan sendiri bisa meningkat risiko terjadi depresi pada remaja, karena dengan informasi yang didapatkan remaja bisa mengetahui dan membandingkan nasib mereka dengan remaja seusianya. Seperti remaja yang berasal keluarga broken home ketika melihat teman seusianya yang memposting foto liburan bersama dengan keluarganya yang lengkap, tentu saja akan membuat remaja tersebut merasa tertekan dan semakin jatuh ke dalam kesedihannya.
Jadi bagaimanakah cara kita sebagai otang tua bisa mencegah dampak negatif tersebut. Yang harus kita pahami adalah, remaja bukanlah anak-anak lagi dan peran orang tua mungkin sudah mulai berkurang jika dibandingkan dari teman sebayanya dan role model dari remaja itu sendiri.
Maka dari itu sebagai orang tua kita tidak bisa menanggapi remaja sebagai anak kecil, melainkan para orang tua harus bisa menanggapi mereka sebagai individu yang bisa berpendapat.
Jangan dibatasi, atau dikendalikan. Cobalah kita luangkan waktu untuk mendengarkan apa yang mereka ingin utarakan. Kedua, ketika sudah mau mendengarkan tentang pendapat mereka. Sebagai orang tua jangan pernah menghakimi atau men-judge anak. Contohnya, pada remaja sekarang banyak yang memiliki cita-cita ingin menjadi youtuber atau gamer. Karena memiliki penghasilan yang banyak, mereka bisa mendapatkan sponsor dari berbagai macam brand.
Sebagai orang tua, jangan langsung melarang atau memarahi anak. Coba ajak diskusi, mungkin anak kita hanya tau dari sisi baiknya, tetapi tidak tahu bagaimana jatuh bangun dari pekerjaan tersebut. Kita bisa ajak berdiskusi dan kita bisa berikan pemikiran bahwa perjuangan mereka tidak semudah itu ada jatuh bangunnya sertai bisa kita berikan contoh youtuber yang tidak terlalu sukses sehingga panndangan anak bisa terbuka,
Pentingnya bagi orang tua untuk tidak menghakimi atau menjudge anak kita sendiri, karena jika melakukan hal seperti itu anak akan merasa tidak nyaman untuk bercerita ke kita dan akan malah mendengarkan saran dari teman-teman seusianya. Sebagai orang tua kita juga harus menjadi contoh serta role model yang baik bagi anak kita, misalnya kalian tidak suka melihat anak kalian hanya duduk di depan komputer bermain game. Maka dari itu sebagai orang tua, anda juga harus mengajak anak anda untuk aktif misalnya mengajak olahraga bersama.
Berikutnya, jika anda ingin membatasi penggunaan gadget, berikan contoh yang baik kepada anak. Misalkan, ketika sedang makan bersama di meja makan , orang tua tidak menggunakan gadget mereka. Melainkan makan bersama dan berbincang-bincang dengan anak kalian sehingga hal ini bisa menjadi contoh yang baik bagi mereka.
Di era digitalisasi ini memang membawa efek baik bagi remaja -remaja, karena tidak hanya dapat membantu remaja belajar untuk keperluan sekolah, tetapi juga bisa menjadi bekal mereka untuk kehidupan saat mereka dewasa nanti. Tetapi ada juga dampak negatif yang muncul. Sehingga peran orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk karakter anak ketika remaja nanti.***
Penulis adalah dokter umum yang sedang bekerja di salah satu Klinik di Denpasar dan ingin melanjutkan pendidikan spesialis ilmu kesehatan anak
Saat ditemui di tempat praktiknya pada Kamis (7/5/2026), pria yang akrab disapa Juniartha ini menjelaskan mengapa ia memilih selendang ketimbang pijatan tangan kosong.