alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Jaga Tradisi Leluhur, Jalan Kaki Sejauh 23 Km, Rela Lalui Medan Sulit

Di tengah hiruk pikuk yang sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat Bali, dalam momen semarak menyambut pergantian tahun 2018 menuju tahun 2019,

ada hal unik yang dilaksanakan diujung timur Pulau Bali; Karangasem. Yakni tradisi religious menjalankan warisan leluhur dalam bentuk nuur tirtha suci.

 

WAYAN WIDYANTARA, Denpasar

TRADISI Nuur Tirtha Suci merupakan sarana utama dalam rangkaian piodalan hari suci Pemacekan Agung yang jatuh pada soma kliwon wuku kuningan, yang datangnya setiap 6 bulan sekali.

Di mana saat ini puncak piodalannya jatuh bertepatan dengan hari penyambutan pergantian tahun baru dari 2018 menuju 2019.

Yang menjadi keunikan dan patut menjadi contoh ditengah perkembangan industri teknologi saat ini, sekaha Teruna Teruni Samyana Kirti disingkat ST. SAKTI,

sampai sekarang tetap teguh menjalankan prinsip religiusitas dalam hal menjaga kesakralan serta kemurnian prosesi ritual yang dijalankan setiap 1 tahun sekali.

Menurut penuturan Dewa Putu Eka Parba, Ketua ST. SAKTI, ketentuan jumlah anggota serta jadwal bergilir sebagai utusan nuur tirtha suci,

semuanya tertuang dalam AD/ART dan juga telah sesuai kesepakatan dari para tetua/pengelingsir Br. Candi, pengempon Pura Pemerajan Candi yang berlokasi di jalan raya Manggis, Desa Manggis, Dusun Kawan, Karangasem.

Pura Laga merupakan tempat yang menjadi tujuan nuur tirtha suci itu, terletak di Desa Pidpid Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Jarak tempuh dari Manggis ke Desa Pidpid yaitu 33,1 km, itu jika melalui rute kendaraan.

Dikarenakan berjalan kaki, para  penuur tirta memakai jalur short cut, dan itu menjadikan jarak tempuh yang dilalui berkurang kemungkinan menjadi kurang lebih 23 km.

Hanya saja, mereka tetap melalui medan yang lebih sulit karena melalui perbukitan. Desa yang dilalui diantaranya desa Pidpid, Ababi, Tiying Tali, Budakeling, Macang, Pedalit, Ngis, Sembung, Apit Yeh, hingga sampai di desa Manggis

Baca Juga:  Maedeng, Tradisi Warga Susut Cari Sapi Pilihan Jelang Tawur Kesanga

Proses berjalannya nuur tirtha suci dimulai pukul 13.00 wita tanggal 30 Desember 2018, pada H-1 atau satu hari sebelum puncak piodalan.

Saat itu, 5 orang pemuda didampingi 2 utusan dari para tetua/pengelingsir Br. Candi, bergerak ke Pura Laga, dengan diangkut menggunakan mobil dan membawa seperangkat upakara.

Mereka membawa banten yang terdiri dari suci pejati, canang rebong, dan tihing bumbung genah tirtha, kain putih kuning, daging bebek dua ekor, ayam dua ekor, lis dua ikat, dan beras kopi gula.

Mereka menyebutnya serati banten. Mereka lalu bermalam di Pura Laga. Pada saat malam, para penuur dan pengempon pura bersama-sama membuat hidangan makanan yang akan di makan bersama secara megibung.

Keesokan harinya setelah dilakukan persembahyangan bersama, pada subuh pukul 05.00 wita, para penuur tirtha suci bergerak kembali menuju ke Desa Manggis, dengan berjalan kaki mundut/menuntun tirtha suci.

Medan yang dilalui mulai naik turun bukit, melewati pasar, menyeberangi sungai, menyusuri sawah, ladang, menyusuri jalan raya, melewati jalan setapak atau rute jalan pintas yang sudah sering dilewati warga.

Perkiraan sampai di desa manggis pukul 09.00 wita, jadi perjalanannya kira-kira 4 jam. Menurut Klian Adat Br. Candi, Manggis, Dewa Made Ardika, tradisi nuur ini sudah berlangsung sejak lama, dan menjadi warisan tradisi turun temurun.

Fungsi nuur tirtha suci merupakan rangkaian dari pelaksanaan piodalan, dan maknanya pada dasarnya ini merupakan proses ngelinggihang/menstanakan Ida bhatara sesuhunan.

Baca Juga:  FIX, Ini Alasan Warga Tabanan Bali Tolak Kampanye Sandiaga Uno

Karena diyakni ada hubungan dan keterkaitan Ida Bhatara yang berstana di Pura Laga dengan Ida Bhatara yang berstana di Pura Pemerajan Candi.

Karena atas dasar ikatan itulah, proses nuur tirhta suci ini dijalankan. Menurut penuturan para penuur tirtha suci, manfaat yang didapat dalam melakoni proses nuur tirtha suci adalah spirit ngayah kepada Ida sesuhunan.

Rasa lelah menurut mereka terbayarkan oleh nikmatnya pemandangan yang ditemukan ketika mereka melintasi rute nuur.

Tentunya kesehatan juga karena secara tidak langsung mereka melakukan olah raga dengan kemasan religius.

Lebih dalam lagi menurut penuturan klian adat Br.Candi bahwa prosesi nuur tirhta suci dengan pola jalan kaki ini, para penuur secara tidak langsung

sudah melakukan komunikasi langsung dengan alam, dilihat dari dinikmatinya pemandangan yang mereka temukan sewaktu melintasinya.

Keteguhan niat yang patut dijadikan contoh  adalah mengingat BMKG menyatakan status siaga II terkait erupsi Gunung Agung,

namun para penuur tirtha dengan keteguhan dan keyakinan atas kekuatan Ida sesuhunan (Ida Bhatara), tetap melanjutkan proses nuur tirtha berbekal spirit kekuatan suci Ida sesuhunan

Harapan dari Dewa Putu Eka agar kedepannya tradisi ini tetap berlanjut mengingat ini merupakan warisan leluhur yang sangat luhur.

Sedangkan harapan dari Dewa Made Ardika kedepan tradisi ini tetap dipertahanlan karena terbilang tradisi sakral dan yang menjadi nilai tambah.

Di mana tidak semua kelompok adat masih menerapkan tradisi tersebut. Hal ini yang menjadikan tradisi tersebut sangat luar biasa.

Di tengah perubahan kegiatan kerja dan kecanggihan teknologi tidak mengikis keberlangsungan tradisi ini. (*)

 



Di tengah hiruk pikuk yang sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat Bali, dalam momen semarak menyambut pergantian tahun 2018 menuju tahun 2019,

ada hal unik yang dilaksanakan diujung timur Pulau Bali; Karangasem. Yakni tradisi religious menjalankan warisan leluhur dalam bentuk nuur tirtha suci.

 

WAYAN WIDYANTARA, Denpasar

TRADISI Nuur Tirtha Suci merupakan sarana utama dalam rangkaian piodalan hari suci Pemacekan Agung yang jatuh pada soma kliwon wuku kuningan, yang datangnya setiap 6 bulan sekali.

Di mana saat ini puncak piodalannya jatuh bertepatan dengan hari penyambutan pergantian tahun baru dari 2018 menuju 2019.

Yang menjadi keunikan dan patut menjadi contoh ditengah perkembangan industri teknologi saat ini, sekaha Teruna Teruni Samyana Kirti disingkat ST. SAKTI,

sampai sekarang tetap teguh menjalankan prinsip religiusitas dalam hal menjaga kesakralan serta kemurnian prosesi ritual yang dijalankan setiap 1 tahun sekali.

Menurut penuturan Dewa Putu Eka Parba, Ketua ST. SAKTI, ketentuan jumlah anggota serta jadwal bergilir sebagai utusan nuur tirtha suci,

semuanya tertuang dalam AD/ART dan juga telah sesuai kesepakatan dari para tetua/pengelingsir Br. Candi, pengempon Pura Pemerajan Candi yang berlokasi di jalan raya Manggis, Desa Manggis, Dusun Kawan, Karangasem.

Pura Laga merupakan tempat yang menjadi tujuan nuur tirtha suci itu, terletak di Desa Pidpid Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Jarak tempuh dari Manggis ke Desa Pidpid yaitu 33,1 km, itu jika melalui rute kendaraan.

Dikarenakan berjalan kaki, para  penuur tirta memakai jalur short cut, dan itu menjadikan jarak tempuh yang dilalui berkurang kemungkinan menjadi kurang lebih 23 km.

Hanya saja, mereka tetap melalui medan yang lebih sulit karena melalui perbukitan. Desa yang dilalui diantaranya desa Pidpid, Ababi, Tiying Tali, Budakeling, Macang, Pedalit, Ngis, Sembung, Apit Yeh, hingga sampai di desa Manggis

Baca Juga:  Wujud Pemuliaan Benih Padi, Ritual Dihelat Setiap Lima Tahun Sekali

Proses berjalannya nuur tirtha suci dimulai pukul 13.00 wita tanggal 30 Desember 2018, pada H-1 atau satu hari sebelum puncak piodalan.

Saat itu, 5 orang pemuda didampingi 2 utusan dari para tetua/pengelingsir Br. Candi, bergerak ke Pura Laga, dengan diangkut menggunakan mobil dan membawa seperangkat upakara.

Mereka membawa banten yang terdiri dari suci pejati, canang rebong, dan tihing bumbung genah tirtha, kain putih kuning, daging bebek dua ekor, ayam dua ekor, lis dua ikat, dan beras kopi gula.

Mereka menyebutnya serati banten. Mereka lalu bermalam di Pura Laga. Pada saat malam, para penuur dan pengempon pura bersama-sama membuat hidangan makanan yang akan di makan bersama secara megibung.

Keesokan harinya setelah dilakukan persembahyangan bersama, pada subuh pukul 05.00 wita, para penuur tirtha suci bergerak kembali menuju ke Desa Manggis, dengan berjalan kaki mundut/menuntun tirtha suci.

Medan yang dilalui mulai naik turun bukit, melewati pasar, menyeberangi sungai, menyusuri sawah, ladang, menyusuri jalan raya, melewati jalan setapak atau rute jalan pintas yang sudah sering dilewati warga.

Perkiraan sampai di desa manggis pukul 09.00 wita, jadi perjalanannya kira-kira 4 jam. Menurut Klian Adat Br. Candi, Manggis, Dewa Made Ardika, tradisi nuur ini sudah berlangsung sejak lama, dan menjadi warisan tradisi turun temurun.

Fungsi nuur tirtha suci merupakan rangkaian dari pelaksanaan piodalan, dan maknanya pada dasarnya ini merupakan proses ngelinggihang/menstanakan Ida bhatara sesuhunan.

Baca Juga:  Blusukan ke Pasar, Edukasi Protokol Kesehatan dan Pamerkan Lukisan

Karena diyakni ada hubungan dan keterkaitan Ida Bhatara yang berstana di Pura Laga dengan Ida Bhatara yang berstana di Pura Pemerajan Candi.

Karena atas dasar ikatan itulah, proses nuur tirhta suci ini dijalankan. Menurut penuturan para penuur tirtha suci, manfaat yang didapat dalam melakoni proses nuur tirtha suci adalah spirit ngayah kepada Ida sesuhunan.

Rasa lelah menurut mereka terbayarkan oleh nikmatnya pemandangan yang ditemukan ketika mereka melintasi rute nuur.

Tentunya kesehatan juga karena secara tidak langsung mereka melakukan olah raga dengan kemasan religius.

Lebih dalam lagi menurut penuturan klian adat Br.Candi bahwa prosesi nuur tirhta suci dengan pola jalan kaki ini, para penuur secara tidak langsung

sudah melakukan komunikasi langsung dengan alam, dilihat dari dinikmatinya pemandangan yang mereka temukan sewaktu melintasinya.

Keteguhan niat yang patut dijadikan contoh  adalah mengingat BMKG menyatakan status siaga II terkait erupsi Gunung Agung,

namun para penuur tirtha dengan keteguhan dan keyakinan atas kekuatan Ida sesuhunan (Ida Bhatara), tetap melanjutkan proses nuur tirtha berbekal spirit kekuatan suci Ida sesuhunan

Harapan dari Dewa Putu Eka agar kedepannya tradisi ini tetap berlanjut mengingat ini merupakan warisan leluhur yang sangat luhur.

Sedangkan harapan dari Dewa Made Ardika kedepan tradisi ini tetap dipertahanlan karena terbilang tradisi sakral dan yang menjadi nilai tambah.

Di mana tidak semua kelompok adat masih menerapkan tradisi tersebut. Hal ini yang menjadikan tradisi tersebut sangat luar biasa.

Di tengah perubahan kegiatan kerja dan kecanggihan teknologi tidak mengikis keberlangsungan tradisi ini. (*)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/