alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Tanamkan Cinta NKRI, Ancaman Militer Kecil,Nonmiliter Patut Diwaspadai

Globalisasi adalah keniscayaan. Tidak hanya membawa pengaruh positif, globalisasi membawa pengaruh negatif yang bisa “menghancurkan” negara dan bangsa.

 

MUHAMMAD BASIR, Negara

PERLU ada penanaman wawasan kebangsaan pada setiap orang, kelompok dan seluruh elemen masyarakat.

Seperti yang dilakukan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Jembrana, yang menggelar Dialog Interaktif Penanaman Wawasan Kebangsaan Terhadap Para Santri di Era Globalisasi kemarin.

Dialog interaktif tersebut digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Jembrana di aula kampus, Jalan Pengambengan, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara.

Sebagai pemateri Kolonel Inf Ketut Budiastawa, perwakilan Kementerian Pertahanan RI, Wakil Ketua MUI Jembrana Tafsil, dan budayawan Jembrana Ida Bagus Ketut Darmasantika Putra. 

Sebagai pemateri pertama, Kolonel Ketut Budiastawa tampil dengan gaya yang khas dan berapi-api.

Perwira menengah asal Singaraja ini menjabarkan mengenai Indonesia, sebagai sebuah negara yang kaya sumberdaya alam dan beragam suku, agama, ras dan etnis.

Namun demikian Indonesia dalam ancaman yang sangat besar, bukan dari ancaman militer tetapi ancaman nonmiliter.

“Ancaman militer sangat kecil, ancaman non militer ini sangat besar dan sudah dimulai dari sekarang. Sudah ada di depan mata,” terangnya.

Dimensi ancaman nonmiliter yang menjadi pokok persoalan yang disampaikan pada santri. Di antaranya, ancaman pertama ideologi

dengan berbagai eksesnya mulai dari individualisme, materialisme, anti kemapanan, radikalisme, anarkisme dan atheisme.

Kedua ancaman politik, yang meliputi pemaksaan nilai global, demokratisasi, lingkungan hidup, intervensi politik luar negeri,

pemaksaan kehendak, separatisme, perpecahan kesatuan dan persatuan bangsa dan tidak percaya pada pemerintah.

Baca Juga:  Airlangga: Idul Adha Mengingatkan Umat untuk Ikhlas Berkurban dan Berbagi

Kemudian ancaman nonmiliter ketiga, ekonomi diantaranya mengenai inflasi, pengangguran tinggi, infrastruktur buruk, sistem kartel, kesenjangan ekonomi, ketidakpastian nilai tukar mata uang dan pendidikan rendah.

Ancaman keempat sosial budaya, diantaranya penetrasi budaya luar, obat terlarang, pemalsuan produk, KKN dan konflik SARA.

Kelima, keselamatan umum yang meliputi beredarnya obat kadaluarsa atau palsu, keamanan dan penyakit menular. Serta opini dan provokasi negatif yang saat ini berkembang.

Ancaman keenam teknologi, meliputi kejahatan cyber, lambatnya transfer iptek, ketergantungan teknologi pada luar negeri, penyebaran virus komputer dan pencurian HAKI.

Ancaman terakhir dan paling berbahaya adalah ancaman legislasi, diantaranya duplikasi hukum nasional, intervensi proses peradilan,

moralitas aparat penegakan hukum, multi tafsir hukum, lemahnya hukum dalam perundingan internasional, tekanan proses peradilan,

dan kepentingan asing terhadap hukum nasional, intervensi sistem hukum, isu pelanggaran ham dan upaya asing kuasai kedaulatan hukum RI.

Dalam kesempatan itu, Budiastawa mengajak para santri untuk mewaspadai dampak negatif era globalisasi ini.

Terutama pada paham atau ideologi yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. “Islam itu rahmat bagi seluruh alam, karena itu harus beragama dengan benar.

 Mewaspadai pengaruh paham-paham yang bisa merusak persaudaraan dan silaturahmi sesama manusia,” tegasnya.

Wakil Ketua MUI Jembrana H. Tafsil yang juga Ketua STIT Jembrana dalam kesempatan itu memberikan tiga poin.

Di antaranya Indonesia sebagai suatu Negara yang berdasarkan Pancasila bukanlah merupakan Negara Agama atau Negara antiagama.

Baca Juga:  Ikuti Trend, Ingin Menarik Minat Baca Lewat Sampul Yang Menarik

Namun, da merupakan suatu Negara yang mengambil nilai-nilai dan norma-norma dari berbagai agama dan budaya serta adat istiadat yang ada di negeri pertiwi ini yang

dibahas dan dirumuskan secara bersama dan disepakati oleh founding father negeri ini yang kemudian melahirkan pancasila dijadikan sebagai ideologi Negara.

Pancasila sebagai ideologi Negara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan norma-norma dan nilai-nilai yang ada pada pancasila selaras dengan ajaran Islam.

Oleh sebab itu mengamalkan pancasila sama halnya dengan mengamalkan ajaran Islam yang jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah pasti tergolong ibadah.

“Karenanya tidak ada alasan bagi segelintir umat Islam berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain,” tegasnya.

Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis tenteram,

rukun damai dan sejahtera Maka dalam hal ini peran pemuda dengan kesadaran dan pemahaman yang benar serta berpartisipasi

aktif melaksanakan nilai-nilai ideologi pancasila merupakan potensi besar dalam terwujudnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Budayawan Jembrana Ida Bagus Ketut Darmasantika Putra menyampaikan, mengenai globalisasi yang dilihat sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak atau terelakkan oleh negara dan bangsa apapun.

Mulai dari bangsa yang paling maju hingga yang masih tertinggal tunduk pada globalisasi atau era kesejagatan itu.

Jika ada yang berusaha untuk menolak atau melawannya, maka akan tergulung oleh globalisasi itu sendiri. 



Globalisasi adalah keniscayaan. Tidak hanya membawa pengaruh positif, globalisasi membawa pengaruh negatif yang bisa “menghancurkan” negara dan bangsa.

 

MUHAMMAD BASIR, Negara

PERLU ada penanaman wawasan kebangsaan pada setiap orang, kelompok dan seluruh elemen masyarakat.

Seperti yang dilakukan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Jembrana, yang menggelar Dialog Interaktif Penanaman Wawasan Kebangsaan Terhadap Para Santri di Era Globalisasi kemarin.

Dialog interaktif tersebut digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Jembrana di aula kampus, Jalan Pengambengan, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara.

Sebagai pemateri Kolonel Inf Ketut Budiastawa, perwakilan Kementerian Pertahanan RI, Wakil Ketua MUI Jembrana Tafsil, dan budayawan Jembrana Ida Bagus Ketut Darmasantika Putra. 

Sebagai pemateri pertama, Kolonel Ketut Budiastawa tampil dengan gaya yang khas dan berapi-api.

Perwira menengah asal Singaraja ini menjabarkan mengenai Indonesia, sebagai sebuah negara yang kaya sumberdaya alam dan beragam suku, agama, ras dan etnis.

Namun demikian Indonesia dalam ancaman yang sangat besar, bukan dari ancaman militer tetapi ancaman nonmiliter.

“Ancaman militer sangat kecil, ancaman non militer ini sangat besar dan sudah dimulai dari sekarang. Sudah ada di depan mata,” terangnya.

Dimensi ancaman nonmiliter yang menjadi pokok persoalan yang disampaikan pada santri. Di antaranya, ancaman pertama ideologi

dengan berbagai eksesnya mulai dari individualisme, materialisme, anti kemapanan, radikalisme, anarkisme dan atheisme.

Kedua ancaman politik, yang meliputi pemaksaan nilai global, demokratisasi, lingkungan hidup, intervensi politik luar negeri,

pemaksaan kehendak, separatisme, perpecahan kesatuan dan persatuan bangsa dan tidak percaya pada pemerintah.

Baca Juga:  Perut Gunung

Kemudian ancaman nonmiliter ketiga, ekonomi diantaranya mengenai inflasi, pengangguran tinggi, infrastruktur buruk, sistem kartel, kesenjangan ekonomi, ketidakpastian nilai tukar mata uang dan pendidikan rendah.

Ancaman keempat sosial budaya, diantaranya penetrasi budaya luar, obat terlarang, pemalsuan produk, KKN dan konflik SARA.

Kelima, keselamatan umum yang meliputi beredarnya obat kadaluarsa atau palsu, keamanan dan penyakit menular. Serta opini dan provokasi negatif yang saat ini berkembang.

Ancaman keenam teknologi, meliputi kejahatan cyber, lambatnya transfer iptek, ketergantungan teknologi pada luar negeri, penyebaran virus komputer dan pencurian HAKI.

Ancaman terakhir dan paling berbahaya adalah ancaman legislasi, diantaranya duplikasi hukum nasional, intervensi proses peradilan,

moralitas aparat penegakan hukum, multi tafsir hukum, lemahnya hukum dalam perundingan internasional, tekanan proses peradilan,

dan kepentingan asing terhadap hukum nasional, intervensi sistem hukum, isu pelanggaran ham dan upaya asing kuasai kedaulatan hukum RI.

Dalam kesempatan itu, Budiastawa mengajak para santri untuk mewaspadai dampak negatif era globalisasi ini.

Terutama pada paham atau ideologi yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. “Islam itu rahmat bagi seluruh alam, karena itu harus beragama dengan benar.

 Mewaspadai pengaruh paham-paham yang bisa merusak persaudaraan dan silaturahmi sesama manusia,” tegasnya.

Wakil Ketua MUI Jembrana H. Tafsil yang juga Ketua STIT Jembrana dalam kesempatan itu memberikan tiga poin.

Di antaranya Indonesia sebagai suatu Negara yang berdasarkan Pancasila bukanlah merupakan Negara Agama atau Negara antiagama.

Baca Juga:  Bupati Minta Rencana Jadikan STIT Kampus Negeri Dikaji, Ini Dasarnya..

Namun, da merupakan suatu Negara yang mengambil nilai-nilai dan norma-norma dari berbagai agama dan budaya serta adat istiadat yang ada di negeri pertiwi ini yang

dibahas dan dirumuskan secara bersama dan disepakati oleh founding father negeri ini yang kemudian melahirkan pancasila dijadikan sebagai ideologi Negara.

Pancasila sebagai ideologi Negara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan norma-norma dan nilai-nilai yang ada pada pancasila selaras dengan ajaran Islam.

Oleh sebab itu mengamalkan pancasila sama halnya dengan mengamalkan ajaran Islam yang jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah pasti tergolong ibadah.

“Karenanya tidak ada alasan bagi segelintir umat Islam berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain,” tegasnya.

Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis tenteram,

rukun damai dan sejahtera Maka dalam hal ini peran pemuda dengan kesadaran dan pemahaman yang benar serta berpartisipasi

aktif melaksanakan nilai-nilai ideologi pancasila merupakan potensi besar dalam terwujudnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Budayawan Jembrana Ida Bagus Ketut Darmasantika Putra menyampaikan, mengenai globalisasi yang dilihat sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak atau terelakkan oleh negara dan bangsa apapun.

Mulai dari bangsa yang paling maju hingga yang masih tertinggal tunduk pada globalisasi atau era kesejagatan itu.

Jika ada yang berusaha untuk menolak atau melawannya, maka akan tergulung oleh globalisasi itu sendiri. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/