alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Tak Laku di Pasar Lokal, Malah Laris di Pasar Ekspor

Bukan hanya sampah plastik, limbah kayu pun bisa disulap menjadi benda seni bernilai tinggi. Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma, pemilik Ari Deco adalah salah satu kreatornya.

 

DWIJA PUTRA, Badung

SAMPAH kayu yang acap mengotori pantai di Bali ternyata bermanfaat dan memberi berkah. Seperti yang dilakukan Gusti Ngurah Adi Kusuma, pemilik usaha kerajinan Ari Deco di Banjar Gunung, Dauh Yeh Cani, Abiansemal, Badung.

Tak begitu jauh dari jalan utama Abiansemal. Kemarin (1/9), Jawa Pos Radar Bali singgah ke workshop Ari Deco.

Jawa Pos Radar Bali bertemu dengan salah satu pemuda yang giat dalam mengolah limbah kayu itu yakni Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma, 22.

Lokasi workshop memang dipenuhi dengan peranti untuk mengolah limbah kayu dan juga beberapa ada hasil olahannya yang dipajang di tempat tersebut.

Memang benar, kayu limbah tersebut disusun sedemikian rupa hingga berbentuk meja, lampu, cermin, binatang, bingkai, wall dekor atau hiasan dinding, lampu taman, dan sebagainya.

Selain itu, ada pula kerajinan yang dibuat dari drum bekas, seperti kursi. Ia memulai usaha memanfaatkan limbah kayu ini sejak tahun 2007 silam. Saat itu ia masih duduk di bangku SMP.

“Ide saya dapat dari sebuah tumpukan kayu unik di Pantai Seseh, Badung yang berbentuk seperti dudukan lampu,” ujarnya mengawali perbincangan, kemarin.

Ini ternyata membawa jalan terang. Dengan bantuan sang ayah, I Gusti Widya, ibu Ni Made Dewi Astuti, adik, serta sejumlah pekerja.

Namun, ide untuk membuat kerajinan dari kayu bekas tersebut karena dia melihat tumpukan limbah kayu di pantai dan terlihat menarik. Kemudian disampaikan kepada sang ayah.

Baca Juga:  Kembar Buncing, Dua Karya Unik Oka Rusmini, Seperti Apa?

Lalu ayahnya tertarik dan mulai membuat kerajinan berupa dudukan lampu. “Awalnya hanya tempat lampu,” jelasnya.

Lama kelamaan pesanan mulai meningkat. Bahkan, dia menerima pesanan sesuai permintaan pemesan.

Bahkan, biasanya desainnya dari pemesan juga. Pun begitu bisnisnya ini  telah berkembang lintas negara awalnya dirintis di daerah Tegalalang saat keluarganya memilih untuk membuat artshop.

Usahanya kian berkembang hingga dilirik pengusaha dari berbagai negara, seperti Belanda dan Perancis. Pemerintah pun ikut melirik, khususnya Pemkab Badung.

“Pemkab Badung mengaku tertarik karena kami memanfaatkan limbah dan kami diajak pameran di International Jakarta Expo di Kemayoran, setiap 11 Maret semenjak tiga tahun lalu,” jelasnya.

Sejauh ini pembuatan benda seni itu bergantung bahan baku. Selama ini saya harus mencari bahan baku hingga ke pantai bagian barat Pulau Bali, tepatnya kawasan Mendoyo, Jembrana.

Limbah kayu setempat dipilih karena pantainya berbatu, sehingga banyak kayu yang tersangkut dan bentuknya unik karena terhempas di bebatuan.

Kayu yang menepi di pantai dipilih, karena bentuknya unik dan mengalami pengawetan alami, sehingga anti rayap.

“Satu karung biasanya dibeli dari warga Rp 15 ribu, kemudian oleh pengepul dijual sekitar Rp 15.500 ke kami,” terangnya.

Tak cukup sampai di sana, setelah membeli bahan baku kemudian disortir.  Nah, dalam pemilahan bahan baku ini harus teliti untuk menentukan bahan yang bagus dan kuat.

“Kalau musim hujan, bahan baku semakin banyak tapi kualitasnya tidak bagus. Karena tidak mengalami proses yang alami di pantai,” ungkapnya.

Proses waktunya tidak menentu karena tergantung bahan baku, ukuran, dan kerumitan bentuk yang dibuat.

Rata-rata dikerjakan empat jam hingga setengah hari. Misalnya satu meja, sudah finishing di bawahnya ada triplek, dan di atasnya ada kaca.  

Baca Juga:  Ramaikan Musik Festival, Keterbatasan Tak Menjadi Penghalang Berkarya

Selain kayu limbah, digunakan pula kayu batang pohon  kopi dan kayu pantai yang agak besar sebagai kerangkanya.

Kayu kopi kemudian dipaku dan dirangkai pada rangka secara perlahan sehingga kuat. Tentu pengerjaannya perlu ketelitian. Namun, ia sudah menghasilkan berbagai produk, seperti meja, lampu, cermin, binatang, bingkai, wall dekor atau hiasan dinding, lampu taman, dan sebagainya.

Selain itu, ada pula kerajinan yang dibuat dari drum bekas seperti kursi. “Waktu pengerjaannya tergantung bahan baku, kerumitan, dan bentuk,” jelasnya.

Pria yang juga sebagai pendamping Masyarakat Ekonomi ASEAN di Bali tersebut mengatakan, jumlah pengiriman hasil produksi per bulan tidak menentu.

Hal ini terlihat sesuai pesanan yang masuk. Karena dominan produknya itu laku di luar negeri. Malah untuk pasar lokal kurang laku.

Demikian pula soal omzet yang didapat. Mengenai harga juga bervariasi. Satu unit meja ukuran sedang biasanya seharga Rp 550 ribu dan lampu Rp 250 sampai Rp 450.

“Itu harga untuk luar negeri. Kalau lokal berbeda lagi. Yang termahal sampai Rp 3 juta berbentuk binatang,” terangnya.

Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma juga meraih sejumlah penghargaan seperti penghargaan di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di Kabupaten Badung dan Provinsi Bali 2017.

Sementara itu, sang ayah menuturkan suatu ketika pihaknya mendapat order seharga Rp 600 juta, sementara hanya dikirimkan uang muka  Rp 100 juta.

“Lagi Rp 500 juta saya mencari kesana-sini. Bahkan, sampai menggadaikan sertifikat tanah. Jadi, saya mohon pemerintah memberikan solusi. Ini sudah sering saya sampaikan,” keluhnya.



Bukan hanya sampah plastik, limbah kayu pun bisa disulap menjadi benda seni bernilai tinggi. Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma, pemilik Ari Deco adalah salah satu kreatornya.

 

DWIJA PUTRA, Badung

SAMPAH kayu yang acap mengotori pantai di Bali ternyata bermanfaat dan memberi berkah. Seperti yang dilakukan Gusti Ngurah Adi Kusuma, pemilik usaha kerajinan Ari Deco di Banjar Gunung, Dauh Yeh Cani, Abiansemal, Badung.

Tak begitu jauh dari jalan utama Abiansemal. Kemarin (1/9), Jawa Pos Radar Bali singgah ke workshop Ari Deco.

Jawa Pos Radar Bali bertemu dengan salah satu pemuda yang giat dalam mengolah limbah kayu itu yakni Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma, 22.

Lokasi workshop memang dipenuhi dengan peranti untuk mengolah limbah kayu dan juga beberapa ada hasil olahannya yang dipajang di tempat tersebut.

Memang benar, kayu limbah tersebut disusun sedemikian rupa hingga berbentuk meja, lampu, cermin, binatang, bingkai, wall dekor atau hiasan dinding, lampu taman, dan sebagainya.

Selain itu, ada pula kerajinan yang dibuat dari drum bekas, seperti kursi. Ia memulai usaha memanfaatkan limbah kayu ini sejak tahun 2007 silam. Saat itu ia masih duduk di bangku SMP.

“Ide saya dapat dari sebuah tumpukan kayu unik di Pantai Seseh, Badung yang berbentuk seperti dudukan lampu,” ujarnya mengawali perbincangan, kemarin.

Ini ternyata membawa jalan terang. Dengan bantuan sang ayah, I Gusti Widya, ibu Ni Made Dewi Astuti, adik, serta sejumlah pekerja.

Namun, ide untuk membuat kerajinan dari kayu bekas tersebut karena dia melihat tumpukan limbah kayu di pantai dan terlihat menarik. Kemudian disampaikan kepada sang ayah.

Baca Juga:  Kembar Buncing, Dua Karya Unik Oka Rusmini, Seperti Apa?

Lalu ayahnya tertarik dan mulai membuat kerajinan berupa dudukan lampu. “Awalnya hanya tempat lampu,” jelasnya.

Lama kelamaan pesanan mulai meningkat. Bahkan, dia menerima pesanan sesuai permintaan pemesan.

Bahkan, biasanya desainnya dari pemesan juga. Pun begitu bisnisnya ini  telah berkembang lintas negara awalnya dirintis di daerah Tegalalang saat keluarganya memilih untuk membuat artshop.

Usahanya kian berkembang hingga dilirik pengusaha dari berbagai negara, seperti Belanda dan Perancis. Pemerintah pun ikut melirik, khususnya Pemkab Badung.

“Pemkab Badung mengaku tertarik karena kami memanfaatkan limbah dan kami diajak pameran di International Jakarta Expo di Kemayoran, setiap 11 Maret semenjak tiga tahun lalu,” jelasnya.

Sejauh ini pembuatan benda seni itu bergantung bahan baku. Selama ini saya harus mencari bahan baku hingga ke pantai bagian barat Pulau Bali, tepatnya kawasan Mendoyo, Jembrana.

Limbah kayu setempat dipilih karena pantainya berbatu, sehingga banyak kayu yang tersangkut dan bentuknya unik karena terhempas di bebatuan.

Kayu yang menepi di pantai dipilih, karena bentuknya unik dan mengalami pengawetan alami, sehingga anti rayap.

“Satu karung biasanya dibeli dari warga Rp 15 ribu, kemudian oleh pengepul dijual sekitar Rp 15.500 ke kami,” terangnya.

Tak cukup sampai di sana, setelah membeli bahan baku kemudian disortir.  Nah, dalam pemilahan bahan baku ini harus teliti untuk menentukan bahan yang bagus dan kuat.

“Kalau musim hujan, bahan baku semakin banyak tapi kualitasnya tidak bagus. Karena tidak mengalami proses yang alami di pantai,” ungkapnya.

Proses waktunya tidak menentu karena tergantung bahan baku, ukuran, dan kerumitan bentuk yang dibuat.

Rata-rata dikerjakan empat jam hingga setengah hari. Misalnya satu meja, sudah finishing di bawahnya ada triplek, dan di atasnya ada kaca.  

Baca Juga:  Ramaikan Musik Festival, Keterbatasan Tak Menjadi Penghalang Berkarya

Selain kayu limbah, digunakan pula kayu batang pohon  kopi dan kayu pantai yang agak besar sebagai kerangkanya.

Kayu kopi kemudian dipaku dan dirangkai pada rangka secara perlahan sehingga kuat. Tentu pengerjaannya perlu ketelitian. Namun, ia sudah menghasilkan berbagai produk, seperti meja, lampu, cermin, binatang, bingkai, wall dekor atau hiasan dinding, lampu taman, dan sebagainya.

Selain itu, ada pula kerajinan yang dibuat dari drum bekas seperti kursi. “Waktu pengerjaannya tergantung bahan baku, kerumitan, dan bentuk,” jelasnya.

Pria yang juga sebagai pendamping Masyarakat Ekonomi ASEAN di Bali tersebut mengatakan, jumlah pengiriman hasil produksi per bulan tidak menentu.

Hal ini terlihat sesuai pesanan yang masuk. Karena dominan produknya itu laku di luar negeri. Malah untuk pasar lokal kurang laku.

Demikian pula soal omzet yang didapat. Mengenai harga juga bervariasi. Satu unit meja ukuran sedang biasanya seharga Rp 550 ribu dan lampu Rp 250 sampai Rp 450.

“Itu harga untuk luar negeri. Kalau lokal berbeda lagi. Yang termahal sampai Rp 3 juta berbentuk binatang,” terangnya.

Gusti Ngurah Putu Adi Kusuma juga meraih sejumlah penghargaan seperti penghargaan di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di Kabupaten Badung dan Provinsi Bali 2017.

Sementara itu, sang ayah menuturkan suatu ketika pihaknya mendapat order seharga Rp 600 juta, sementara hanya dikirimkan uang muka  Rp 100 juta.

“Lagi Rp 500 juta saya mencari kesana-sini. Bahkan, sampai menggadaikan sertifikat tanah. Jadi, saya mohon pemerintah memberikan solusi. Ini sudah sering saya sampaikan,” keluhnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/