alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Buang Rasa Gengsi, House Keeping Jadi Perajin, Chef Hotel Jual Bakso

Banyak jalan menuju Roma. Pribahasa itu yang patut diberikan kepada dua karyawan hotel yang berada di kawasan pariwisata Pantai Pemuteran, Gerokgak.

Kendati sudah tak beraktivitas di hotel, mereka tetap gigih mencari pekerjaan lain di masa-masa pariwisata Bali sedang terpuruk lantaran virus korona.

 

 

JULIADI, Gerokgak

SUARA mesin serut dan gergaji itu terdengar keras di salah satu rumah warga di Banjar Dinas Palasari, Desa Pemuteran, Gerokgak.

Itulah lokasi I Putu Adi Wardana, karyawan Hotel Adi Asri Pemuteran beraktivitas sebagai tukang kayu. Bukan tanpa sebab pria berusia 27 harus menggeluti pekerjaan sebagai tukang kayu.

Lantaran kondisi pariwisata di Pemuteran sedang sepi tamu, hotel bintang empat tempat dia bekerja terpaksa merumahkan karyawan.

Di satu sisi, sebagai kepala keluarga dia dituntut mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. “Kalau andalkan penghasilan dari hotel sudah tak bisa lagi,

akhirnya saya harus bekerja atau mencari pekerjaan lainnya sebagai tukang kayu. Pada intinya kami bekerja tak pandang gengsi,” kata pria yang akrab disapa Putu Leong itu.

Di hotel, dia dulu bekerja sebagai house keeping. Putu Leong mengatakan, mulai bekerja sebagai perajin furniture pertengahan bulan Maret lalu saat gencar-gencarnya virus corona menyerang.

Awalnya banyak keluarga, teman dan rekan sesama pekerja hotel yang meragukan soal kemampuannya bekerja sebagai perajin furniture.

Karena tak mungkin dia menyelesaikan pekerjaan yang tak sesuai basic pekerjaannya. “Modal awal saya bekerja niat dan mau belajar. Bahkan buat almari, kursi serta pelinggih saya belajar secara ototodidak,” ucapnya.   

Baca Juga:  Gara-Gara Abaikan Arahan Pemerintah, Delapan Krama Bali Positif Corona

Putu Leong menambahkan bekerja sebagai tukang kayu memang membutuhkan skill, tak sama ketika bekerja dengan di hotel.

Apalagi harus berhadapan dengan alat meteran, mesin serut, gergaji, palu dan lainnya. Sehingga butuh kesabaran dan beradaptasi yang cukup lama.

“Bagi saya yang paling susah ketika membuat pelinggih, karena ada ukiran pura dan pekerjaannya harus menggunakan pahat,” tuturnya.  

Ditengah pandemi corona yang tidak diketahui kapan akan berakhir ini, Putu Leong berharap seluruh pekerja hotel di Bali yang dirumahkan jangan berhenti berkarya dan beraktivitas.

“Manfaatkan sesuatu yang ada sekitar kita, kalau tetangga punya lahan tetangga di rumah boleh diminta untuk digaraf,

apalagi di desa ada tetangga memiliki usaha apa saja dan bekerja yang sifatnya harian minta agar dapat bekerja disana,” harapnya.

Meski baru mulai bekerja dan merintis sebagai perajin kayu, namun beberapa buah karya furniture sudah berhasil Putu Leong garap.

Mulai dari almari, kursi, dipan, pintu dan pelinggih. Untuk saat ini permintaan masyarakat paling banyak pelinggih atau tempat sanggah pura.

‘Sedangkan biaya pembuatan pelinggih tetap tergantung ukuran dari Rp 1 juta sampai 2 juta. Bahkan saat ini kami coba mulai pasarkan melalui media online,” pungkasnya.

Lain Putu Leong, lain pula Putu Sukiarta yang juga sama-sama karyawan hotel. Dulunya Sukiarta – panggilan akrab bekerja di hotel Kubuku bintang tiga sebagai chef.

Baca Juga:  Napi Tewas Setelah Batuk Berdarah, Kalapas Kerobokan Singgung Covid-19

Kini ia, harus banting setir. Pria asal Desa Pumuteran patut diacungi jempol dengan mencoba peruntukannya sebagai penjual bakso keliling.  

“Dulunya saya lebih banyak bekerja di dalam ruangan di dapur. Jarang kena sinar matahari. Sekarang harus berkeliling panas-panasan ke desa- desa,” ungkapnya.

Menurutnya, tak mudah mencoba sesuatu yang baru dan keluar dari zona nyaman. Dari chef hotel harus berjualan bakso. Terlebih berjualan bakso penuh dengan persaingan pedagang lainnya.

Rasa canggung itu jelas pasti ada. “Kuncinya tidak malu dan tidak gengsi berani melakukan sesuatu baru, kalau tak dicoba mana bisa,” ucapnya.  

Dilanjutkan Sukiarta, kendati baru berjualan bakso, sudah ada pelanggan yang pesan melalui via telepon untuk diantarkan bakso.

Sehari rata-rata mendapat uang berjualan bakso bisa mencapai Rp 150 ribu. Hasilnya tidak menentu tergantung dari pesanan.

Banyak pengalaman sebenarnya yang didapat ketika berjualan bakso keliling. Disamping bertemu dengan masyarakat juga dapat menyambung tali silaturahmi dengan rekan kerja sesama karyawan hotel.

Karena mereka berdiam diri di rumah. Pada intinya ditengah kondisi ekonomi yang sulit sekarang ini harus banyak bersyukur.

“Apa pun pasti ada jalan keluarnya yakni percaya kita bisa survive bisa hidup dalam berusaha,” pungkasnya. (*)        

 



Banyak jalan menuju Roma. Pribahasa itu yang patut diberikan kepada dua karyawan hotel yang berada di kawasan pariwisata Pantai Pemuteran, Gerokgak.

Kendati sudah tak beraktivitas di hotel, mereka tetap gigih mencari pekerjaan lain di masa-masa pariwisata Bali sedang terpuruk lantaran virus korona.

 

 

JULIADI, Gerokgak

SUARA mesin serut dan gergaji itu terdengar keras di salah satu rumah warga di Banjar Dinas Palasari, Desa Pemuteran, Gerokgak.

Itulah lokasi I Putu Adi Wardana, karyawan Hotel Adi Asri Pemuteran beraktivitas sebagai tukang kayu. Bukan tanpa sebab pria berusia 27 harus menggeluti pekerjaan sebagai tukang kayu.

Lantaran kondisi pariwisata di Pemuteran sedang sepi tamu, hotel bintang empat tempat dia bekerja terpaksa merumahkan karyawan.

Di satu sisi, sebagai kepala keluarga dia dituntut mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. “Kalau andalkan penghasilan dari hotel sudah tak bisa lagi,

akhirnya saya harus bekerja atau mencari pekerjaan lainnya sebagai tukang kayu. Pada intinya kami bekerja tak pandang gengsi,” kata pria yang akrab disapa Putu Leong itu.

Di hotel, dia dulu bekerja sebagai house keeping. Putu Leong mengatakan, mulai bekerja sebagai perajin furniture pertengahan bulan Maret lalu saat gencar-gencarnya virus corona menyerang.

Awalnya banyak keluarga, teman dan rekan sesama pekerja hotel yang meragukan soal kemampuannya bekerja sebagai perajin furniture.

Karena tak mungkin dia menyelesaikan pekerjaan yang tak sesuai basic pekerjaannya. “Modal awal saya bekerja niat dan mau belajar. Bahkan buat almari, kursi serta pelinggih saya belajar secara ototodidak,” ucapnya.   

Baca Juga:  Mulus…Rakernas PDIP Bakal Bahas Langkah Awal Capreskan Jokowi?

Putu Leong menambahkan bekerja sebagai tukang kayu memang membutuhkan skill, tak sama ketika bekerja dengan di hotel.

Apalagi harus berhadapan dengan alat meteran, mesin serut, gergaji, palu dan lainnya. Sehingga butuh kesabaran dan beradaptasi yang cukup lama.

“Bagi saya yang paling susah ketika membuat pelinggih, karena ada ukiran pura dan pekerjaannya harus menggunakan pahat,” tuturnya.  

Ditengah pandemi corona yang tidak diketahui kapan akan berakhir ini, Putu Leong berharap seluruh pekerja hotel di Bali yang dirumahkan jangan berhenti berkarya dan beraktivitas.

“Manfaatkan sesuatu yang ada sekitar kita, kalau tetangga punya lahan tetangga di rumah boleh diminta untuk digaraf,

apalagi di desa ada tetangga memiliki usaha apa saja dan bekerja yang sifatnya harian minta agar dapat bekerja disana,” harapnya.

Meski baru mulai bekerja dan merintis sebagai perajin kayu, namun beberapa buah karya furniture sudah berhasil Putu Leong garap.

Mulai dari almari, kursi, dipan, pintu dan pelinggih. Untuk saat ini permintaan masyarakat paling banyak pelinggih atau tempat sanggah pura.

‘Sedangkan biaya pembuatan pelinggih tetap tergantung ukuran dari Rp 1 juta sampai 2 juta. Bahkan saat ini kami coba mulai pasarkan melalui media online,” pungkasnya.

Lain Putu Leong, lain pula Putu Sukiarta yang juga sama-sama karyawan hotel. Dulunya Sukiarta – panggilan akrab bekerja di hotel Kubuku bintang tiga sebagai chef.

Baca Juga:  Belasan Karyawan di Gianyar Terpapar Covid-19, Toko Bangunan Ditutup

Kini ia, harus banting setir. Pria asal Desa Pumuteran patut diacungi jempol dengan mencoba peruntukannya sebagai penjual bakso keliling.  

“Dulunya saya lebih banyak bekerja di dalam ruangan di dapur. Jarang kena sinar matahari. Sekarang harus berkeliling panas-panasan ke desa- desa,” ungkapnya.

Menurutnya, tak mudah mencoba sesuatu yang baru dan keluar dari zona nyaman. Dari chef hotel harus berjualan bakso. Terlebih berjualan bakso penuh dengan persaingan pedagang lainnya.

Rasa canggung itu jelas pasti ada. “Kuncinya tidak malu dan tidak gengsi berani melakukan sesuatu baru, kalau tak dicoba mana bisa,” ucapnya.  

Dilanjutkan Sukiarta, kendati baru berjualan bakso, sudah ada pelanggan yang pesan melalui via telepon untuk diantarkan bakso.

Sehari rata-rata mendapat uang berjualan bakso bisa mencapai Rp 150 ribu. Hasilnya tidak menentu tergantung dari pesanan.

Banyak pengalaman sebenarnya yang didapat ketika berjualan bakso keliling. Disamping bertemu dengan masyarakat juga dapat menyambung tali silaturahmi dengan rekan kerja sesama karyawan hotel.

Karena mereka berdiam diri di rumah. Pada intinya ditengah kondisi ekonomi yang sulit sekarang ini harus banyak bersyukur.

“Apa pun pasti ada jalan keluarnya yakni percaya kita bisa survive bisa hidup dalam berusaha,” pungkasnya. (*)        

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/