alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Sentuh Sisi Emosional Generasi Millennial, Bawakan Cupu Manik Astagina

Ada suguhan menarik saat Jambore Pasraman Tingkat Nasional V yang digelar di di Hotel Aston Denpasar, pekan lalu.

 Ada suguhan kesenian yang menarik. Yakni kesenian Wayang Wong yang dikemas secara inovatif ala anak millennial. Seperti apa?

 

ZULFIKA RAHMAN, Denpasar

RATUSAN anak-anak yang terdiri dari usia TK hingga SMA tengah dirias dan sibuk memakai properti untuk pementasan tari.

Sebagian anak-anak lainnya sibuk mengenakan properti pakaian monyet yang memiliki ekor, dan rambut berwarna abu-abu.

Mereka tampak sumringah, seperti tidak sabar untuk tampil dalam ajang Jambore Pasraman Tingkat Nasional V yang dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin.

Mereka telah siap sejak sore hari, karena akan tampil di akhir acara. Tarian ini sendiri membawakan cerita Cupu Manik Astagina.

Hasil Kolaborasi dengan sanggar Paripurna, Desa Bona Gianyar. Sanggar yang dipimpin oleh I Made Sidia memang dikenal sebagai pelopor lahirnya garapan-garapan wayang inovatif di Bali.

Garapan seni pertunjukan wayang yang dipadukan dengan unsur teknologi modern. Kisah cerita berawal dari kecemburuan Arya Bang dan Arya Kuning terhadap benda yang dimiliki saudara perempuannya yakni Dewi Anjani.

Benda ajaib bernama Cupu Manik yang bisa mengabulkan segala keinginan ini memantik rasa iri kedua saudara laki-lakinya yang tidak memiliki alat tersebut.

Bahkan, ketika akan meminjam pun tidak diberikan. Atas kondisi itu, Arya Bang dan Arya Kuning menghadap ayahnya Bagawan Gotama dan menceritakan kondisi yang dialami.

Baca Juga:  Ekonomi Melambat, Menunggu Geliat Pariwisata Bali Bangkit

Selanjutnya, ayahnya menemui Dewi Anjani dan menanyakan cupu manik itu. Anjani mengatakan bahwa benda tersebut hasil dari pemberian ibunya Dewi Indradi.

Ketika ditanya sang suami perihal cupu manik itu, Indradi tidak bisa menjawab yang membuat suaminya murka dan mengutuknya menjadi batu.

Karena kemarahan Bagawan Gotama itu, cupu manik tersebut dibuang di sebuah hutan yang selanjutnya berubah menjadi telaga.

Setelah itu Bagawan Gotama meminta ketiga anaknya itu untuk mengambil kembali, namun ketika menceburkan diri ke telaga, ketiganya berubah menjadi monyet.

Seni pertunjukan Wayang Wong Inovatif ini disajikan dalam bentuk dramatari dengan cara penyajian, tata rias busana, dan iringan pertunjukan yang khas.

Dipentaskan dalam tiga babak di atas stage yang ada di Ball room hotel Aston Denpasar. Penampilan yang melibatkan 120 anak dari TK hingga SMA ini memukau para penonton.

Selain itu, beberapa bagian anak-anak ini tampil mengocok perut karena tingkah lucu yang ditimbulkan di atas panggung.

Ni Made Ruastiti selaku Ketua Tim Riset dai ISI Denpasar menuturkan, garapan ini belum sempurna. Namun, sudah mencapai 80 persen.

Untuk penampilan saat ini, masih menggunakan instrumen musik secara langsung. Ke depan, kata Ruastiti, anak-anak yang terlibat dalam pementasan ini hanya fokus pada gerak saja.

Baca Juga:  Sempat Meredup Lantaran Sulit Pemasaran, Menggeliat saat Pandemi Covid

“Jadi, tidak ada dialog, dan juga membawa alat musik. Tapi dikemas dalam bentuk dubbing. Jadi anak-anak menari tanpa repot naskah, dan musik. Lebih dipermudah agar anak-anak senang,” tuturnya ditemui sebelum pentas.

Riset ini dilakukan atas keprihatinan Ruastiti bersama tim, tentang kondisi kesenian Wayang Wong di Indonesia, khususnya di Bali.

Padahal, kata dia, seni pertunjukan ini memiliki nilai edukasi yang luhur bagi pembangunan karakter generasi penerus (milineal) saat ini.

Meski memiliki nilai budaya yang luar biasa, kenyataannya kesenian ini terkesan segmented.

“Tidak menyentuh kalangan muda, hanya diminati kelompok tua saja. Itu yang membuat kesenian terpinggirkan,” paparnya.

Atas dasar itulah, ia melakukan riset. Sumber masalah mengapa wayang wong ini tidak diminati kalangan kekinian lantaran kemasannya yang kaku.

Terlebih para pemainnya juga dari kalangan generasi tua, lantaran tidak adanya kepedulian generasi penerus terhadap kesenian tradisi ini.

“Dari kemasan cerita yang kami sajikan juga ada relevansi dengan era kekinian dan teknologi tata panggung.

Ini agar mereka menarik. Jadi peran-peran yang ada dalam pementasan wayang wong inovatif ini juga sesuai dengan jenjang pendidikan,” terangnya.

Ia berharap lewat kesenian yang dikemas secara inovatif berbasis dengan perkembangan zaman, wayang wong bisa tetap lestari

sekaligus penguatan karakter kepribadian  anak milenial dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. (*)

 

 



Ada suguhan menarik saat Jambore Pasraman Tingkat Nasional V yang digelar di di Hotel Aston Denpasar, pekan lalu.

 Ada suguhan kesenian yang menarik. Yakni kesenian Wayang Wong yang dikemas secara inovatif ala anak millennial. Seperti apa?

 

ZULFIKA RAHMAN, Denpasar

RATUSAN anak-anak yang terdiri dari usia TK hingga SMA tengah dirias dan sibuk memakai properti untuk pementasan tari.

Sebagian anak-anak lainnya sibuk mengenakan properti pakaian monyet yang memiliki ekor, dan rambut berwarna abu-abu.

Mereka tampak sumringah, seperti tidak sabar untuk tampil dalam ajang Jambore Pasraman Tingkat Nasional V yang dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin.

Mereka telah siap sejak sore hari, karena akan tampil di akhir acara. Tarian ini sendiri membawakan cerita Cupu Manik Astagina.

Hasil Kolaborasi dengan sanggar Paripurna, Desa Bona Gianyar. Sanggar yang dipimpin oleh I Made Sidia memang dikenal sebagai pelopor lahirnya garapan-garapan wayang inovatif di Bali.

Garapan seni pertunjukan wayang yang dipadukan dengan unsur teknologi modern. Kisah cerita berawal dari kecemburuan Arya Bang dan Arya Kuning terhadap benda yang dimiliki saudara perempuannya yakni Dewi Anjani.

Benda ajaib bernama Cupu Manik yang bisa mengabulkan segala keinginan ini memantik rasa iri kedua saudara laki-lakinya yang tidak memiliki alat tersebut.

Bahkan, ketika akan meminjam pun tidak diberikan. Atas kondisi itu, Arya Bang dan Arya Kuning menghadap ayahnya Bagawan Gotama dan menceritakan kondisi yang dialami.

Baca Juga:  Resmi Jadi Kader PDIP di Bali, Ini Alasan Paling Mendasar BTP…

Selanjutnya, ayahnya menemui Dewi Anjani dan menanyakan cupu manik itu. Anjani mengatakan bahwa benda tersebut hasil dari pemberian ibunya Dewi Indradi.

Ketika ditanya sang suami perihal cupu manik itu, Indradi tidak bisa menjawab yang membuat suaminya murka dan mengutuknya menjadi batu.

Karena kemarahan Bagawan Gotama itu, cupu manik tersebut dibuang di sebuah hutan yang selanjutnya berubah menjadi telaga.

Setelah itu Bagawan Gotama meminta ketiga anaknya itu untuk mengambil kembali, namun ketika menceburkan diri ke telaga, ketiganya berubah menjadi monyet.

Seni pertunjukan Wayang Wong Inovatif ini disajikan dalam bentuk dramatari dengan cara penyajian, tata rias busana, dan iringan pertunjukan yang khas.

Dipentaskan dalam tiga babak di atas stage yang ada di Ball room hotel Aston Denpasar. Penampilan yang melibatkan 120 anak dari TK hingga SMA ini memukau para penonton.

Selain itu, beberapa bagian anak-anak ini tampil mengocok perut karena tingkah lucu yang ditimbulkan di atas panggung.

Ni Made Ruastiti selaku Ketua Tim Riset dai ISI Denpasar menuturkan, garapan ini belum sempurna. Namun, sudah mencapai 80 persen.

Untuk penampilan saat ini, masih menggunakan instrumen musik secara langsung. Ke depan, kata Ruastiti, anak-anak yang terlibat dalam pementasan ini hanya fokus pada gerak saja.

Baca Juga:  Memahami Generasi Millennial Dalam Dunia Kerja

“Jadi, tidak ada dialog, dan juga membawa alat musik. Tapi dikemas dalam bentuk dubbing. Jadi anak-anak menari tanpa repot naskah, dan musik. Lebih dipermudah agar anak-anak senang,” tuturnya ditemui sebelum pentas.

Riset ini dilakukan atas keprihatinan Ruastiti bersama tim, tentang kondisi kesenian Wayang Wong di Indonesia, khususnya di Bali.

Padahal, kata dia, seni pertunjukan ini memiliki nilai edukasi yang luhur bagi pembangunan karakter generasi penerus (milineal) saat ini.

Meski memiliki nilai budaya yang luar biasa, kenyataannya kesenian ini terkesan segmented.

“Tidak menyentuh kalangan muda, hanya diminati kelompok tua saja. Itu yang membuat kesenian terpinggirkan,” paparnya.

Atas dasar itulah, ia melakukan riset. Sumber masalah mengapa wayang wong ini tidak diminati kalangan kekinian lantaran kemasannya yang kaku.

Terlebih para pemainnya juga dari kalangan generasi tua, lantaran tidak adanya kepedulian generasi penerus terhadap kesenian tradisi ini.

“Dari kemasan cerita yang kami sajikan juga ada relevansi dengan era kekinian dan teknologi tata panggung.

Ini agar mereka menarik. Jadi peran-peran yang ada dalam pementasan wayang wong inovatif ini juga sesuai dengan jenjang pendidikan,” terangnya.

Ia berharap lewat kesenian yang dikemas secara inovatif berbasis dengan perkembangan zaman, wayang wong bisa tetap lestari

sekaligus penguatan karakter kepribadian  anak milenial dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. (*)

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/