alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Belajar Sains Hingga Berkebun Via Daring, Antusias Praktik di Rumah

Sejak pandemi Covid-19, Yayasan Begawan di Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, meminta anak-anak berkreasi di rumah masing-masing.

Mereka mengerjakan tugas rumah berdasar pedoman dari guru relawan. Anak-anak diminta menjalankan kegiatan positif. Hasilnya, dilaporkan kepada guru relawan via online.

 

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

TERIAKAN dan sorakan di tempat belajar gratis di Yayasan Begawan, di Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan tak terdengar saat ini.

Pandemi Covid-19, membuat Yayasan itu harus menutup kelas pertemuan tiap sore. Sebagai gantinya, anak-anak desa yang kesehariannya belajar secara gratis itu diminta berkreasi di rumahnya.

Seruni Soewondo, Marketing dan Media Officer Yayasan Begawan, menyatakan edukasi yang diberikan setiap sore hari pada Senin hingga Jumat dihentikan sementara.

Sehari-hari, ada beragam kegiatan yang dilakukan. Mulai sains hingga karate dan berkebun ada di kelas belajar tersebut.

“Untuk mengantisipasi Covid-19, pembelajaran kegiatan di rumah dan online sejak pertengahan Maret,” ujar Seruni Soewondo.

Baca Juga:  Data Pasien Covid-19 di Bali Bocor di Medsos, Cuma Dijual Rp 2,8 Juta

Kata dia, system belajar tetap memegang semangat dan motto belajar  dengan melakukan. “Dengan motto tersebut, Yayasan mendorong murid-murid untuk

mengekspresikan opini dan ide mereka, serta berpartisipasi secara aktif dalam memberikan solusi atas isu-isu lingkungan di sekitar mereka,” jelasnya.

Seruni merinci, anak bisa membersihkan sampah hingga bercocok tanam di rumah. “Di rumah, mereka tetap bisa mempelajari itu. Kecuali karate dan tari Bali,” terangnya.

Meski belajar di rumah,  anak-anak tetap dipandu oleh guru relawan. “Anak-anak dapat mengambil pedoman pembelajaran di depan kantor Yayasan Begawan, setiap hari Minggu. Dan meletakkan PR dari minggu sebelumnya,” ungkapnya.

Disamping itu, Yayasan juga memiliki grup WhatsApp. Grup tersebut menjalin komunikasi antara anak bahkan dengan orang tuanya.

“Hal ini memudahkan untuk tetap saling berbagi informasi dan kabar,” jelasnya. Yayasan tetap memastikan bahwa anak-anak melakukan kegiatan di rumah meskipun mereka tidak lagi belajar bersama di Pusat Belajar.

Baca Juga:  Jumlah Kasus Baru Pasien Positif Covid-19 di Bali Turun Drastis

“Tim edukasi Yayasan merancang kegiatan dan pelajaran yang bisa dikerjakan di rumah. Termasuk percobaan sains, berkebun di rumah, membantu keluarga melakukan pekerjaan rumah, dan kegiatan refleksi,” terangnya.

Lanjut dia, beberapa percobaan sains yang dilakukan anak yakni membuat gunung merapi, membuat kompos. “Juga membuat tinta ajaib dari jeruk lemin. Percobaan telur mengapung dan banyak lagi,” bebernya.

Dari sekian percobaan, yang paling diminati anak adalah membuat gunung merapi. “Anak sangat senang ketika gunung merapi buatan mereka meletus,” ungkapnya.

Apabila ada hal yang tidak dipahami, bisa ditanyakan langsung via WhatsApp pada pukul 13.00. “Anak ini ketika mengerjakan tugas dianggap hadir,” jelasnya.

Meski serba terbatas, namun orang tua si anak tampak antusias. Terlihat banyak orang tua yang mengantarkan anak mengambil pedoman belajar di kantor Yayasan. 

“Lalu mengumpulkan tugas dan orang tuanya juga aktif mengirimkan foto tugas mereka selama di rumah,” pungkasnya. (*)



Sejak pandemi Covid-19, Yayasan Begawan di Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, meminta anak-anak berkreasi di rumah masing-masing.

Mereka mengerjakan tugas rumah berdasar pedoman dari guru relawan. Anak-anak diminta menjalankan kegiatan positif. Hasilnya, dilaporkan kepada guru relawan via online.

 

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

TERIAKAN dan sorakan di tempat belajar gratis di Yayasan Begawan, di Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan tak terdengar saat ini.

Pandemi Covid-19, membuat Yayasan itu harus menutup kelas pertemuan tiap sore. Sebagai gantinya, anak-anak desa yang kesehariannya belajar secara gratis itu diminta berkreasi di rumahnya.

Seruni Soewondo, Marketing dan Media Officer Yayasan Begawan, menyatakan edukasi yang diberikan setiap sore hari pada Senin hingga Jumat dihentikan sementara.

Sehari-hari, ada beragam kegiatan yang dilakukan. Mulai sains hingga karate dan berkebun ada di kelas belajar tersebut.

“Untuk mengantisipasi Covid-19, pembelajaran kegiatan di rumah dan online sejak pertengahan Maret,” ujar Seruni Soewondo.

Baca Juga:  Bantu Korban Covid-19, STT Banjar Silakarang Bagikan Sayur Mayur

Kata dia, system belajar tetap memegang semangat dan motto belajar  dengan melakukan. “Dengan motto tersebut, Yayasan mendorong murid-murid untuk

mengekspresikan opini dan ide mereka, serta berpartisipasi secara aktif dalam memberikan solusi atas isu-isu lingkungan di sekitar mereka,” jelasnya.

Seruni merinci, anak bisa membersihkan sampah hingga bercocok tanam di rumah. “Di rumah, mereka tetap bisa mempelajari itu. Kecuali karate dan tari Bali,” terangnya.

Meski belajar di rumah,  anak-anak tetap dipandu oleh guru relawan. “Anak-anak dapat mengambil pedoman pembelajaran di depan kantor Yayasan Begawan, setiap hari Minggu. Dan meletakkan PR dari minggu sebelumnya,” ungkapnya.

Disamping itu, Yayasan juga memiliki grup WhatsApp. Grup tersebut menjalin komunikasi antara anak bahkan dengan orang tuanya.

“Hal ini memudahkan untuk tetap saling berbagi informasi dan kabar,” jelasnya. Yayasan tetap memastikan bahwa anak-anak melakukan kegiatan di rumah meskipun mereka tidak lagi belajar bersama di Pusat Belajar.

Baca Juga:  Data Pasien Covid-19 di Bali Bocor di Medsos, Cuma Dijual Rp 2,8 Juta

“Tim edukasi Yayasan merancang kegiatan dan pelajaran yang bisa dikerjakan di rumah. Termasuk percobaan sains, berkebun di rumah, membantu keluarga melakukan pekerjaan rumah, dan kegiatan refleksi,” terangnya.

Lanjut dia, beberapa percobaan sains yang dilakukan anak yakni membuat gunung merapi, membuat kompos. “Juga membuat tinta ajaib dari jeruk lemin. Percobaan telur mengapung dan banyak lagi,” bebernya.

Dari sekian percobaan, yang paling diminati anak adalah membuat gunung merapi. “Anak sangat senang ketika gunung merapi buatan mereka meletus,” ungkapnya.

Apabila ada hal yang tidak dipahami, bisa ditanyakan langsung via WhatsApp pada pukul 13.00. “Anak ini ketika mengerjakan tugas dianggap hadir,” jelasnya.

Meski serba terbatas, namun orang tua si anak tampak antusias. Terlihat banyak orang tua yang mengantarkan anak mengambil pedoman belajar di kantor Yayasan. 

“Lalu mengumpulkan tugas dan orang tuanya juga aktif mengirimkan foto tugas mereka selama di rumah,” pungkasnya. (*)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/