27.6 C
Denpasar
Saturday, February 4, 2023

Eks Pelaku Bom Bali 1Ini Akui Penganut Radikalisme di Indonesia Masih Tinggi

SURABAYA – Penganut paham radikal di Indonesia ternyata menurut  analisis Hisyam bin Ali Zein,52, alias Umar Patek, masih cukup tinggi. Untuk itu upaya deradikalisasi tetap harus ditingkatkan untuk penanggulangan.

Kejadian adanya bom bunuh diri di Polsek Astanaanyar, Bandung, yang dilakukan Agus Sujatno,34, menunjukkan bahwa sel-sel jaringan terorisme itu selalu ada dan tumbuh. Dan, untuk itu gerakan deradikalisasi tetap perlu dilakukan.

Umar Patek, pria yang ikut  terlibat dalam  Bom Bali 1, 12 Oktober  2002, Amrozi, akhirnya berstatus  bebas bersyarat, sejak Rabu (7/12/2022), ini pun sempat blak-blakan mengakui masih banyaknya penganut paham radikalisme tersebut.
Umar Patek sebelumnya   ditangkap di Pakistan pada 2011 setelah sempat buron sejak kejadian Bom Bali 1, 2002. Setelah  tertangkap,  Umar kemudian diadili di Indonesia dan divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat 20 tahun penjara pada 2012 silam itu menyebut juga menyatakan dukungannya untuk untuk membantu deradikalisasi.
Ini menurutnya  merupakan keinginannya membantu Pemerintah Indonesia dengan terlibat di program deradikalisasi  tersebut agar tidak semakin meluas. Umar Patek berjanji mengajak generasi muda jauh dari paham terorisme.

Baca Juga:  Terduga Teroris Ditangkap, Penjagaan Pintu Masuk Bali Diperketat

”Saya berkomitmen membantu pemerintah dalam program deradikalisasi, baik kepada kaum milenial maupun kalangan masyarakat atau akademisi, supaya mereka paham tentang bahaya terorisme dan bahaya pemahaman radikalisme,” ungkap  Umar Patek di Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan bahwa  saat ini, paham radikalisme masih tumbuh subur di Indonesia. Dia berjanji membantu pemerintah menyadarkan warga Indonesia supaya terhindar dari paham radikalisme dan terorisme.

”Sejauh ini radikalisme tetap ada, di manapun, di negara manapun, masih tetap ada. Saya akan membantu pemerintah untuk deradikalisasi,” ujar Umar Patek.

Sebelumnya, masa penahanan narapidana kasus terorisme (Napiter) Umar Patek berkurang selama 5 bulan. Umar Patek mendapatkan remisi umum HUT RI.(JPG/jawapos.com)

Baca Juga:  Padangsambian Kaja Terancam Coblosan Ulang, Ini Penyebabnya…

 



SURABAYA – Penganut paham radikal di Indonesia ternyata menurut  analisis Hisyam bin Ali Zein,52, alias Umar Patek, masih cukup tinggi. Untuk itu upaya deradikalisasi tetap harus ditingkatkan untuk penanggulangan.

Kejadian adanya bom bunuh diri di Polsek Astanaanyar, Bandung, yang dilakukan Agus Sujatno,34, menunjukkan bahwa sel-sel jaringan terorisme itu selalu ada dan tumbuh. Dan, untuk itu gerakan deradikalisasi tetap perlu dilakukan.

Umar Patek, pria yang ikut  terlibat dalam  Bom Bali 1, 12 Oktober  2002, Amrozi, akhirnya berstatus  bebas bersyarat, sejak Rabu (7/12/2022), ini pun sempat blak-blakan mengakui masih banyaknya penganut paham radikalisme tersebut.
Umar Patek sebelumnya   ditangkap di Pakistan pada 2011 setelah sempat buron sejak kejadian Bom Bali 1, 2002. Setelah  tertangkap,  Umar kemudian diadili di Indonesia dan divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat 20 tahun penjara pada 2012 silam itu menyebut juga menyatakan dukungannya untuk untuk membantu deradikalisasi.
Ini menurutnya  merupakan keinginannya membantu Pemerintah Indonesia dengan terlibat di program deradikalisasi  tersebut agar tidak semakin meluas. Umar Patek berjanji mengajak generasi muda jauh dari paham terorisme.

Baca Juga:  Libatkan Densus 88, Ancam Tembak di Tempat Bagi Pengacau dan Teroris

”Saya berkomitmen membantu pemerintah dalam program deradikalisasi, baik kepada kaum milenial maupun kalangan masyarakat atau akademisi, supaya mereka paham tentang bahaya terorisme dan bahaya pemahaman radikalisme,” ungkap  Umar Patek di Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan bahwa  saat ini, paham radikalisme masih tumbuh subur di Indonesia. Dia berjanji membantu pemerintah menyadarkan warga Indonesia supaya terhindar dari paham radikalisme dan terorisme.

”Sejauh ini radikalisme tetap ada, di manapun, di negara manapun, masih tetap ada. Saya akan membantu pemerintah untuk deradikalisasi,” ujar Umar Patek.

Sebelumnya, masa penahanan narapidana kasus terorisme (Napiter) Umar Patek berkurang selama 5 bulan. Umar Patek mendapatkan remisi umum HUT RI.(JPG/jawapos.com)

Baca Juga:  Padangsambian Kaja Terancam Coblosan Ulang, Ini Penyebabnya…

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru