alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Jadi Ancaman Persatuan Bangsa, Gung Tri Minta Mahasiswa Aktif Melawan

DENPASAR – Saat ini penyebaran informasi hoax telah menjadi strategi politik untuk menyerang pihak lawan.

Bahayanya makin nyata karena biasanya menggunakan isu-isu yang sensitif seperti soal agama dan ras. 

Hal itu disampaikan politisi I Gusti Agung Putri Astrid MA saat memberikan materi dalam seminar serangkaian Pekan Justitia Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Udayana, Sabtu (8/12).

 “Mahasiswa harus berada di garda terdepan melawan hoax karena resikonya adalah perpecahan bangsa,” tegasnya. 

Politisi yang akrab disapa Gung Tri menyatakan, kekuatan hoaks sangat besar seiring meluasnya penggunaan media sosial.

Informasi bisa menyusup ke relung-relung pribadi penerimanya tanpa saringan sama sekali sehingga gampang dianggap sebagai kebenaran.

Di pihak lain, data pribadi para pengguna media sosial bisa dikumpulkan dan dianalisa sehingga dapat dirancang pesan yang sesuai dengan kecenderungan pribadi si pengguna.

Baca Juga:  Diganjar 8 Tahun Penjara Karena Sabu, Dua Mahasiswa Asal Kuta Melawan

“Jadi hoaks bisa dirancang untuk menciptakan ketakutan, kegembiraan dan perasaan yang lain,” ujarnya.

Hal ini sudah terbukti digunakan dalam pemilihan Presiden di Amerika dimana terdapat konsultan komunikasi yang membeli data-data di Facebook kemudian menggunakannya untuk kepentingan politik.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini,  dengan daya kritisnya, mahasiswa mestinya mampu menangkal hoax dan menyebarluaskan informasi yang benar kepada masyarakat.

“Kalau informasinya sudah berlebihan dan tendensius serta tanpa data, biasanya itu adalah hoax,” kata Gung Tri yang menggantikan Wayan Koster di DPR RI ini.

Dalam kasus di Indonesia, hoax sudah mulai kelihatan ketika masa Pemilihan Presiden pada 2014. Saat itu yang menonjol adalah munculnya tabloid Obor Rakyat yang sangat menyudutkan Jokowi diiringi dengan penyebaran hoaks di media sosial.

Baca Juga:  Buntut Uji Publik Paslon, Bawaslu “Kartu Kuning” Guru Besar Unud

Saat pemilihan Gubernur DKI, hoaks semakin mengerucut kepada isu-isu berbau SARA. “Sekarang ini saya yakin, hoaks bernuansa SARA akan muncul kembali menjelang Pilpres,” tegasnya.

Acara seminar yang bertema ” Mendayung Bahtera Demokrasi di Tengah Derasnya Arus Hoax” merupakan bagian dari Pekan Justitia III.

Selain seminar, panitia juga menggelar pentas seni dan lomba olahraga. Kegiatan bertujuan mengasah kemampaun intelektual mahasiswa dalam menghadapi masalah-masalah aktual kebangsaan saat ini. (rba)

 



DENPASAR – Saat ini penyebaran informasi hoax telah menjadi strategi politik untuk menyerang pihak lawan.

Bahayanya makin nyata karena biasanya menggunakan isu-isu yang sensitif seperti soal agama dan ras. 

Hal itu disampaikan politisi I Gusti Agung Putri Astrid MA saat memberikan materi dalam seminar serangkaian Pekan Justitia Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Udayana, Sabtu (8/12).

 “Mahasiswa harus berada di garda terdepan melawan hoax karena resikonya adalah perpecahan bangsa,” tegasnya. 

Politisi yang akrab disapa Gung Tri menyatakan, kekuatan hoaks sangat besar seiring meluasnya penggunaan media sosial.

Informasi bisa menyusup ke relung-relung pribadi penerimanya tanpa saringan sama sekali sehingga gampang dianggap sebagai kebenaran.

Di pihak lain, data pribadi para pengguna media sosial bisa dikumpulkan dan dianalisa sehingga dapat dirancang pesan yang sesuai dengan kecenderungan pribadi si pengguna.

Baca Juga:  Anggota DPR Minta Pekerja Migran Ilegal asal Bali Pulang ke Tanah Air

“Jadi hoaks bisa dirancang untuk menciptakan ketakutan, kegembiraan dan perasaan yang lain,” ujarnya.

Hal ini sudah terbukti digunakan dalam pemilihan Presiden di Amerika dimana terdapat konsultan komunikasi yang membeli data-data di Facebook kemudian menggunakannya untuk kepentingan politik.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini,  dengan daya kritisnya, mahasiswa mestinya mampu menangkal hoax dan menyebarluaskan informasi yang benar kepada masyarakat.

“Kalau informasinya sudah berlebihan dan tendensius serta tanpa data, biasanya itu adalah hoax,” kata Gung Tri yang menggantikan Wayan Koster di DPR RI ini.

Dalam kasus di Indonesia, hoax sudah mulai kelihatan ketika masa Pemilihan Presiden pada 2014. Saat itu yang menonjol adalah munculnya tabloid Obor Rakyat yang sangat menyudutkan Jokowi diiringi dengan penyebaran hoaks di media sosial.

Baca Juga:  Diganjar 8 Tahun Penjara Karena Sabu, Dua Mahasiswa Asal Kuta Melawan

Saat pemilihan Gubernur DKI, hoaks semakin mengerucut kepada isu-isu berbau SARA. “Sekarang ini saya yakin, hoaks bernuansa SARA akan muncul kembali menjelang Pilpres,” tegasnya.

Acara seminar yang bertema ” Mendayung Bahtera Demokrasi di Tengah Derasnya Arus Hoax” merupakan bagian dari Pekan Justitia III.

Selain seminar, panitia juga menggelar pentas seni dan lomba olahraga. Kegiatan bertujuan mengasah kemampaun intelektual mahasiswa dalam menghadapi masalah-masalah aktual kebangsaan saat ini. (rba)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/