alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Petani Ketela Gianyar Tetap Bersinar, Belum Masa Panen Sudah Diborong

Ketika banyak sektor meredup di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanian justru bersinar. Seperti sentra pertanian ketela rambat

di Banjar Kabetan Kaja, Desa Bakbakan, Kecamatan Gianyar. Panen ketela Kabetan diburu oleh pedagang Bangli dan Kota Gianyar.

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

BERADA dekat perbatasan Kabupaten Bangli, Banjar Kabetan Kaja di Desa Bakbakan di Kecamatan Gianyar tampak masih asri.

Itu karena kawasan di desa itu bukan untuk hotel. Namun, condong ke pertanian. Saat pandemi Covid-19, suasananya terlihat biasa-biasa saja.

Memang tampak ada relawan dan Satgas Covid-19 berjaga di gang-gang menyemprotkan hand sanitizer ke pengunjung gang.

Namun, perekonomian seakan berjalan seperti biasa. Terutama sentra pertanian ketela rambat yang jadi ikonik.

Di lahan pertanian, para petani juga tampak sibuk bekerja. Ada yang panen ketela. Ada pula yang baru memulai menanam ketela.

Perbekel Desa Bakbakan, Gede Indra Ari Wangsa Waisnawa, mengaku saat pandemi Covid, belum tampak ada dampak yang signifikan terhadap perekonomian warga.

Baca Juga:  Bawaslu Bali Kehabisan Bensin, Pengawasan Pilkada Terancam

“Kalau dibilang terdampak, ya, semua lagi terdampak. Cuma di sini terbantu dengan sektor pertanian ketela,” ujarnya saat melihat-lihat pertanian ketela di banjar Kabetan Kaja.

Diakui, di desanya, ada juga pekerja hotel dan restoran. Bahkan juga ada Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sudah melewati karantina.

“Tapi semuanya masih punya kebun. Contoh pegawai kantor desa kami, pulang kerja mereka juga berkebun,” terang penggemar klub bola Bali United itu.

Bagi pekerja hotel, misalnya, ketika pandemi, tentunya mereka beralih membantu orang tuanya. Bahkan, ada warganya yang menyewa tanah desa hanya untuk berkebun ketela.

Di kebun sewaan tersebut, petani ketela membagi lahan menjadi empat blok. Ada lahan baru tanam, lahan pembesaran dan lahan yang siap panen.

Sehingga tiga lahan itu terus berputar. “Ini berani sewa lahan untuk kebun ketela. Sewa sama desa di sini. Hasilnya muter terus, tiap dua bulan panen ketela,” jelasnya.

Baca Juga:  Rekomendasi Turun Kasta Turun, Ketut "Tommy" Sudikerta Menghilang?

Yang tidak disangka, hasil ketela kabetan yang jadi primadona itu justru diburu saat pandemi Covid-19.

“Banyak yang beli. Dari Bangli banyak yang ambil dijual di Bangli. Juga ada yang dari Gianyar Kota ngambil ke sini,” jelasnya.

Banyaknya pesanan di tengah Covid-19, diakuinya menjadi berkah. “Ini saja belum waktunya panen. Lagi sebentar padahal, sudah dibeli.

Makanya terpaksa dipanen,” jelasnya sambil menunjukkan ketela yang masih kecil namun sudah diburu itu.

Indra Ari Wangsa menambahkan, rasa ketela Kabetan ini lebih manis dan legit dibandingkan dengan ketela di daerah lain.

“Kami yakin tanah di sini cocok untuk tanam ketela. Kalau tidak cocok, bisa saja rasa ketela pahit. Ini banyak yang borong,” terangnya.

Untuk harga di petani seharga Rp 5-7 ribu per kilogram tergantung ukuran ketela. Biasanya, pengepul memesan minimal satu karung atau 25 kilogram.

“Hasil panen ditaruh di pinggir jalan. Nanti diambil sama pengepulnya,” pungkasnya. (*)

 



Ketika banyak sektor meredup di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanian justru bersinar. Seperti sentra pertanian ketela rambat

di Banjar Kabetan Kaja, Desa Bakbakan, Kecamatan Gianyar. Panen ketela Kabetan diburu oleh pedagang Bangli dan Kota Gianyar.

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

BERADA dekat perbatasan Kabupaten Bangli, Banjar Kabetan Kaja di Desa Bakbakan di Kecamatan Gianyar tampak masih asri.

Itu karena kawasan di desa itu bukan untuk hotel. Namun, condong ke pertanian. Saat pandemi Covid-19, suasananya terlihat biasa-biasa saja.

Memang tampak ada relawan dan Satgas Covid-19 berjaga di gang-gang menyemprotkan hand sanitizer ke pengunjung gang.

Namun, perekonomian seakan berjalan seperti biasa. Terutama sentra pertanian ketela rambat yang jadi ikonik.

Di lahan pertanian, para petani juga tampak sibuk bekerja. Ada yang panen ketela. Ada pula yang baru memulai menanam ketela.

Perbekel Desa Bakbakan, Gede Indra Ari Wangsa Waisnawa, mengaku saat pandemi Covid, belum tampak ada dampak yang signifikan terhadap perekonomian warga.

Baca Juga:  Menerabas Jarak Memupuk Rasa Cinta, Cek Kiriman Via Track Shipment

“Kalau dibilang terdampak, ya, semua lagi terdampak. Cuma di sini terbantu dengan sektor pertanian ketela,” ujarnya saat melihat-lihat pertanian ketela di banjar Kabetan Kaja.

Diakui, di desanya, ada juga pekerja hotel dan restoran. Bahkan juga ada Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sudah melewati karantina.

“Tapi semuanya masih punya kebun. Contoh pegawai kantor desa kami, pulang kerja mereka juga berkebun,” terang penggemar klub bola Bali United itu.

Bagi pekerja hotel, misalnya, ketika pandemi, tentunya mereka beralih membantu orang tuanya. Bahkan, ada warganya yang menyewa tanah desa hanya untuk berkebun ketela.

Di kebun sewaan tersebut, petani ketela membagi lahan menjadi empat blok. Ada lahan baru tanam, lahan pembesaran dan lahan yang siap panen.

Sehingga tiga lahan itu terus berputar. “Ini berani sewa lahan untuk kebun ketela. Sewa sama desa di sini. Hasilnya muter terus, tiap dua bulan panen ketela,” jelasnya.

Baca Juga:  Bawaslu Bali Kehabisan Bensin, Pengawasan Pilkada Terancam

Yang tidak disangka, hasil ketela kabetan yang jadi primadona itu justru diburu saat pandemi Covid-19.

“Banyak yang beli. Dari Bangli banyak yang ambil dijual di Bangli. Juga ada yang dari Gianyar Kota ngambil ke sini,” jelasnya.

Banyaknya pesanan di tengah Covid-19, diakuinya menjadi berkah. “Ini saja belum waktunya panen. Lagi sebentar padahal, sudah dibeli.

Makanya terpaksa dipanen,” jelasnya sambil menunjukkan ketela yang masih kecil namun sudah diburu itu.

Indra Ari Wangsa menambahkan, rasa ketela Kabetan ini lebih manis dan legit dibandingkan dengan ketela di daerah lain.

“Kami yakin tanah di sini cocok untuk tanam ketela. Kalau tidak cocok, bisa saja rasa ketela pahit. Ini banyak yang borong,” terangnya.

Untuk harga di petani seharga Rp 5-7 ribu per kilogram tergantung ukuran ketela. Biasanya, pengepul memesan minimal satu karung atau 25 kilogram.

“Hasil panen ditaruh di pinggir jalan. Nanti diambil sama pengepulnya,” pungkasnya. (*)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/